
"Nona."
Terdengar suara laki-laki dari arah belakang, aku menggerakkan kepala menatapi Jabari dengan sekitar beberapa orang laki-laki di belakangnya. Beberapa laki-laki tersebut berdiri dengan membawa beberapa piring berisi penuh makanan berserta empat buah kursi di masing-masing tangan mereka.
Beberapa laki-laki tadi berjalan mendekat, mereka menyusun empat buah kursi tadi mengelilingi meja sedangkan yang lain meletakkan piring berisi makanan yang ada di tangan mereka tersusun rapi di atas meja.
"Kami membawakan makanan untuk kalian semua," ucap Jabari mundur beberapa langkah menjauh dari salah satu kursi yang ada di sampingnya.
"Silakan menikmati hidangannya," sambung Yoona ikut berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Tidak perlu. Kau bisa ikut makan malam bersama kami," sambung Haruki berjalan mendekat, ditariknya kursi yang ada di sampingku lalu mendudukinya.
Kepalaku beralih menatap Izumi dan juga Eneas yang berjalan mendekati salah satu kursi. Ku tatap Izumi yang kembali memukul kepala Eneas saat Eneas berjinjit membisikkan sesuatu pada Izumi sebelum mereka duduk berdampingan di kursi yang ada di samping kananku.
Haruki dan Eneas mengangkat sendok yang ada di masing-masing piring. Mereka berdua mencicipi makanan tersebut bergantian, setiap kali mencicipi makanan itu... Mereka berdua akan terdiam untuk beberapa saat sebelum melanjutkan mencicipi makanan yang lainnya.
"Kalian berdua langsung mencicipi makanannya begitu saja, apa kalian berdua?"
"Tidak masalah, racun tidak akan membunuh kami," sambung Haruki menimpali perkataan Yoona, diletakkannya kembali sendok yang ada di tangannya ke atas piring yang ada di meja.
"Bagaimana?"
"Kita bisa memakannya," ucap Eneas ikut menimpali pertanyaan yang dilakukan Izumi.
"Namamu Jabari bukan?" Ungkapku melirik ke arahnya.
"Benar," sambungnya membalas lirikan ku dengan tatapannya.
__ADS_1
"Dapatkah kau memberikan ramuan obat ini untuk temanmu," sambungku menggerakkan tangan ke samping, kuraih botol kecil keramik bertutup kain putih yang ada di dalam tas yang aku kenakan.
"Temanmu yang sebelumnya tiba-tiba lumpuh, obat ini akan membantunya membuang racun tersebut. Jadi, dia akan bisa menggerakkan tubuhnya kembali nanti," ucapku mengangkat botol tadi ke arahnya.
"Tapi kenapa?" Ungkapnya berjalan maju mendekati.
"Yoona telah menceritakan semuanya. Sebenarnya, itu perbuatan ku. Dan sampaikan maafku padanya," ungkapku menggerakkan pelan botol tersebut berharap secepatnya diambil oleh laki-laki tersebut.
"Terima kasih, akan aku sampaikan," ucapnya meraih botol tadi lalu berjalan mundur kembali ke belakang beberapa langkah.
"Kenapa kau memasukkan buah yang telah dipotong ke dalam tas? Bukankah itu akan mengotori tas milikmu?" Ucapan Yoona tiba-tiba terdengar, aku mengikuti tatapannya yang tengah menatapi Izumi.
"Aku suka mengumpulkan makanan, lagi pun jika telah dipotong, aku akan dengan sangat mudah memakannya saat tiba-tiba lapar," ungkap Izumi menggerakkan tangannya yang tengah memegang potongan apel ke dalam tas berisi Lux berserta Uki yang menggantung di pundaknya.
"Kau bodoh sekali, Ka..." Ucapan Eneas terhenti oleh pukulan yang dilakukan Izumi di kepalanya. Eneas menunduk dengan sebelah tangannya mengusap-usap kuat kepalanya.
"Tuan."
"Bukan Savon?"
"Haruki katanya?"
"Aku seperti tidak asing dengan nama tersebut." Bisik para laki-laki yang ada di sekitar kami bergantian.
"Jangan katakan, salah satu Pangeran Kerajaan Sora yang dikabarkan meninggal enam tahun yang lalu?" Sambung Jabari melangkah sedikit maju ke depan.
"Kau mengetahuinya?"
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku lupa, Adikku... Ikut menjadi korban terbakarnya hutan tersebut enam tahun yang lalu," Jabari menjawabnya dengan suara bergetar.
"Adikku ditugaskan mengawal kalian pulang, saat itu dia terlihat sangat bahagia karena dia seringkali mendengar desas-desus bagaimana menawannya Kerajaan Sora. Tapi yang terjadi, aku mendengar kabar jika dia gugur berserta para Pangeran dan Putri karena hutan yang tiba-tiba terbakar," sambung Jabari kembali.
"Bisakah, kau memberitahukan aku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku akan menceritakan semuanya, akan tetapi... Apakah," ucap Haruki melirik ke arah barisan para laki-laki.
"Percayalah padaku, mereka tidak akan membeberkan rahasia apapun. Walaupun kami kesal karena kau telah membunuh Tuan Hanbal, tapi seperti yang kau katakan... Jika kami menghormatinya, maka kami harus menghormati semua keputusannya."
"Bagaimana menurutmu Izumi?" Ungkap Haruki menatap Izumi yang tengah mengupas apel dengan pisau kecil yang ada di tangannya.
"Izumi?" Bisik mereka kembali yang samar terdengar.
"Mereka berhubungan erat dengan Kekaisaran, terlebih lagi kita hampir mati dikarenakan Kaisar. Tapi, bukan para Kesatria itu yang mencoba membunuh kita, melainkan makhluk tersebut," sambung Izumi memotong kecil-kecil buah Apel yang ia letakkan di piring lalu memberikannya kepada Cia.
"Haruki, Izumi. Apa kau?" Ucap Jabari menatapku dari tempatnya berdiri.
"Takaoka Sachi, Putri Kerajaan Sora," ucapku membalas tatapannya.
"Kalian semua masih hidup?"
"Kami semua masih hidup, yang meninggal saat kejadian tersebut adalah para pengawal yang mengantar kami," ucap Haruki kembali menusuk potongan daging yang di piringnya menggunakan garpu lalu memakannya.
"Apa kalian yang membunuhnya?" Ungkap Jabari menggenggam erat kedua tangannya.
"Apa itu mungkin? Enam tahun yang lalu, apa mungkin untuk kami membunuh para Kesatria yang jauh lebih besar dari kami?" Tukas Haruki sambil tetap melahap potongan daging yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kaisar sendiri yang telah membunuh Kesatria nya. Kaisar sendiri yang telah membunuh teman-teman kalian..."
"Dan Jabari, Kaisar sendiri yang telah membunuh adik kesayanganmu," ucap Haruki kembali, diletakkannya garpu yang ada di tangannya itu di meja.