
Haruki dan laki-laki paruh baya bernama Hanbal itu melangkah maju mendekati satu sama lain. Tombak dengan mata pisau besar yang ada di tangan mereka berdiri kokoh menatap langit biru yang membentang luas di atas tempat ini.
Keadaan kembali menghening, baik Haruki maupun Hanbal tak ada yang melancarkan serangan. Mereka berdua hanya berdiri menatap satu sama lain tanpa tak ada dari satu pun mereka yang bergerak maju.
Haruki menatap ke atas, kepalanya kembali bergerak menatap Hanbal dengan sebelah tangannya bergerak mengipas tubuhnya. Hanbal tersenyum lalu tertawa lebar, kualihkan pandanganku pada beberapa orang yang menatap satu sama lain berusaha mencerna apa yang terjadi sama sepertiku.
Hanbal bergerak maju, diayunkannya tombak yang ia pegang ke arah Haruki. Haruki berusaha menghindar ke samping, darah memercik keluar dari lengannya membasahi pakaian yang ia kenakan.
Kedua mataku sedikit membesar tatkala kutatap Haruki yang berjalan mundur dengan luka di tangan kirinya. Darah kembali menetes di sela-sela jarinya hingga jatuh membasahi tanah yang ada di dekat kakinya.
"Sialan," ucap Izumi, aku menoleh menatapnya yang tengah menggigit kuat bibirnya dengan kedua matanya membesar menatap lapangan pertarungan yang ada di hadapan kami.
"Haru nii-chan! Kau telah berjanji pada kami, jadi menangkan pertarungan apapun yang terjadi!" Teriakku hingga kurasakan rasa gatal di tenggorokan.
Pandangan beberapa orang yang duduk di depan kami bergerak menatapku, ku abaikan semua tatapan mereka... Pandangan mataku, pandanganku hanya tertuju pada Haruki yang telah menatapi kami.
"Kau jangan tertawa sialan! Menangkan, atau aku sendiri yang akan membunuhmu di sana!" Lanjut Izumi ikut berteriak saat Haruki tertunduk dengan sebelah tangan menutupi mulutnya.
__ADS_1
Hanbal tiba-tiba berlari mendekati Haruki, tombak yang ada di tangannya bergerak cepat ke arah Haruki. Haruki membalas dengan mengangkat tombak miliknya menggunakan kedua tangan berusaha menghalau serangan dari Hanbal padanya.
Sebelah kaki Haruki terangkat lalu menerjang kuat perut Hanbal hingga laki-laki itu mundur ke belakang beberapa langkah. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Haruki langsung melangkah maju... Tombak yang ia genggam berayun dengan cepat ke arah Hanbal.
Suara riuh kembali memenuhi bangunan ini, beberapa laki-laki yang menonton bahkan ada yang beranjak berdiri dengan menggenggam sebelah tangannya yang terangkat ke atas. Teriakan-teriakan kuat mereka semakin kuat terdengar tatkala Haruki dan Hanbal menggerakkan tombak mereka saling menyerang lalu menangkis bergantian.
"Cepat sekali," ucap salah satu laki-laki yang duduk di hadapan Eneas saat tombak yang dipegang Haruki dan Hanbal bergerak cepat hingga sulit diikuti mata.
"Ayolah Haruki," ungkap Izumi menggenggam kuat celana yang ia kenakan.
Tombak milik Haruki berayun cepat ke depan lalu ke atas, darah memercik keluar ketika ujung tombak miliknya melukai dada Hanbal. Haruki kembali menggerakkan tombak miliknya ke kanan menggunakan kedua tangannya...
Haruki semakin menggerakkan tangannya mendorong tombak yang ia pegang, begitu pun dengan Hanbal yang juga berusaha sekuat tenaga menahan serangan yang coba Haruki lakukan.
Haruki menggerakkan kakinya ke kiri dengan sangat tiba-tiba diikuti serangannya yang melemah tak seperti sebelumnya. Teriakan dari bangku penonton semakin memekakkan telinga saat Haruki tiba-tiba menggerakkan tombak yang ia genggam dengan cepat ke arah perut Hanbal.
Hanbal berjalan mundur dengan sebelah tangannya menggenggam erat perutnya sedangkan sebelah tangannya yang lain berpangku pada tombak yang ia tegakkan di tanah. Darah menetes deras mengikuti jejak langkah kakinya saat laki-laki paruh baya itu menggerakkan tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
Entah kenapa, beberapa orang laki-laki yang awalnya duduk mengelilingi tempat ini tiba-tiba berlari dan melompat masuk ke dalam lapangan pertarungan. Mereka berlari mendekati Haruki dengan sebilah pedang di masing-masing tangan mereka.
"Jaga dia," ucap Izumi, aku menoleh saat sebelah tanganku tertarik ke arahnya.
Izumi meletakkan tas berisi Uki menggantung di tanganku tadi. Dia beranjak berdiri lalu menendang laki-laki yang duduk di hadapannya hingga jatuh terjungkal ke depan.
"Nii-chan," ucapku menatapnya yang telah melangkahkan kakinya menginjak bangku tanah yang diduduki oleh laki-laki itu sebelumnya.
Izumi turun hingga terdengar suara teriakan kecil saat kakinya menginjak tubuh laki-laki yang ia tendang sebelumnya. Tanpa mengindahkan panggilan yang aku lakukan, Izumi terus berlari ke samping lalu menuruni tangga mendekati lapangan tersebut.
"Ene-" ucapku terhenti, kutatap dia yang masih duduk di sampingku dengan sebilah pedang telah berada di tangannya.
Eneas masih terdiam menatap Haruki yang bertarung dengan beberapa orang yang menyerangnya. Sesekali, matanya melirik ke kanan dan juga kiri... Memastikan tak ada yang mendekati kami.
Dua dari laki-laki yang menyerang Haruki bergerak mendekati Hanbal. Tanpa angin, tanpa hujan... Hanbal menggerakkan tombak miliknya menebas leher kedua laki-laki itu, kedua laki-laki itu terdiam berdiri dengan darah segar tak hentinya mengucur dari leher-leher mereka.
"Berani sekali kalian mengganggu duel kami!" Teriak Hanbal, gerombolan laki-laki yang menyerang Haruki tiba-tiba menghentikan gerakan mereka.
__ADS_1
"Tapi Tu-" teriakan seorang laki-laki terhenti, entah darimana... Sebuah anak panah telah menancap di kepalanya.
Laki-laki itu jatuh ke belakang menimpa temannya yang berdiri di belakangnya. Pandanganku beralih pada laki-laki bertubuh besar yang sebelumnya memegang gulungan daftar nama para petarung, laki-laki itu... Kembali menurunkan busur panah yang sebelumnya ia arahkan ke arah para laki-laki tersebut.