Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXCI


__ADS_3

"Walaupun digigit nyamuk, kalau itu sampai membekas di lehermu bagaimana? Coba Ayah lihat," ucapnya lagi, semakin dekat kutatap telapak tangannya itu mengarah padaku.


"Aku baik-baik saja Ayah, aku-aku sudah mengobatinya jadi kau tidak perlu khawatir pada bintik merah itu," ungkapku tersenyum menatapnya.


"Apa yang terjadi padamu? Kau terlihat aneh sekali, Sa-chan," ucapnya seraya memegang erat kedua pundakku dari belakang.


Ya Tuhan, kumohon selamatkan nyawaku. Jika kau ingin mengambil nyawaku setidaknya berikan dahulu sebuah tanda-tanda untukku.


"A-apa yang kau maksudkan nii-chan? Aku? Tidak ada yang terjadi padaku," ucapku, kugerakkan bibirku meniup pelan keringat dingin yang hampir jatuh dari keningku.


"Apa yang kau sembunyikan dari kami?" ungkapnya, kembali kuarahkan pandanganku pada Izumi yang juga hampir berjalan mendekat.


"Aku, aku tidak menyembunyikan apapun," sambungku tersenyum menatapnya.


"Ayah akan memeriksanya, lepaskan telapak tanganmu," ucapnya, kualihkan pandanganku pada tangannya yang telah menggenggam pergelangan tanganku.


Ya Tuhan, habislah. Habislah riwayatku, mereka bertiga pasti akan langsung membunuhku saat ini juga.


"Ayah, aku benar-benar baik-baik saja," ucapku, kali ini suaraku sedikit bergetar seraya berusaha kucoba untuk tersenyum menatapnya.


"Ayah ingin memastikannya," ungkapnya, ditariknya telapak tanganku tadi ke arahnya.


Kupejamkan mataku dengan kuat seraya ikut kugigit bibirku dengan sama kuatnya, jantungku tak henti-hentinya berdegup... Tanganku yang digenggamnya terasa bergetar dengan sendirinya, keringat dingin... Semakin dan semakin memenuhi tubuhku.


"Titik merah? Dimana?"


"Eh?" ucapku yang juga dengan tiba-tiba membuka mata menatap pundaknya.


"Aku melihatnya tadi di..."


"Apa aku salah melihatnya," sambung Haruki, ikut kurasakan sesuatu menyentuh leherku.


Tidak ada? Tapi bagaima...

__ADS_1


"Sachi..."


"Apa kau baik-baik saja?" kembali terdengar suara Ayahku, kualihkan pandanganku menatap padanya yang telah menatapku.


"Eh? Aku? Aku baik-baik saja," ungkapku tersenyum menatapnya.


"Ayah, bisakah aku pergi sekarang? Bibi Ajeng pasti telah menungguku," ungkapku lagi padanya.


"Tentu, berhati-hatilah," ucapnya menepuk pelan kepalaku.


Beranjak berdiri di hadapannya, kugerakkan tubuhku berbalik berjalan meninggalkan mereka. Kulangkahkan kakiku dengan telapak tangan yang tak henti-hentinya kuusapkan di leherku tadi...


Apa yang terjadi? Apa mata mereka benar-benar tidak melihatnya?


"My Lord," terdengar suara Kou yang tiba-tiba membelah kepalaku.


"Kou?" ungkapku seraya kuhentikan langkah kakiku.


"Aku yang melakukannya, aku merasakan kekhawatiran yang kau rasakan. Jadi aku kembali memberikan sihirku padamu seperti sebelumnya."


"Terima kasih, kau benar-benar menyelamatkan nyawaku," ucapku pelan, kuangkat kepalaku menatap ke depan seraya ikut kulangkahkan kakiku melangkah seperti sebelumnya.


_________________


"Kau lama sekali," ucapnya membalikkan tubuhnya menatapku.


"Maafkan aku Bibi, Ayahku membicarakan sedikit banyak hal padaku," ungkapku, ikut berjalan aku mendekatinya.


"Kemarilah, dan berdirilah di samping Wasfiah," ucapnya semakin mempercepat telapak tangannya yang ia lambaikan padaku.


Berjalan dan berdiri aku disamping Wasfiah, menoleh aku ke arah Julissa seraya kugerakkan kakiku mundur beberapa langkah hingga sama seperti posisinya yang juga berdiri di sisi lain Wasfiah...


"Kemana kau melihat? Arahkan pandangan matamu ke depan," ungkapnya disertai sebuah pukulan keras di kepalaku.

__ADS_1


Menoleh aku ke arah Bibi Ajeng yang telah berdiri di sampingku, kualihkan pandanganku bambu tipis yang berada di genggamannya...


"Lihatlah ke depan," ucapnya lagi, kugerakkan kepalaku mengikuti perkataannya.


"Senyum, keluarkan senyum terbaik kalian," sambungnya, kuangkat kepalaku yang sedikit tertunduk sebelumnya seraya kualihkan pandanganku menatap lurus ke depan, kugerakkan kedua ujung bibirku hingga sedikit senyum terukir di sana.


"Ikuti gerakan dari Putriku, perhatikan dia baik-baik!" ungkapnya kembali, kualihkan pandanganku pada seorang perempuan cantik sedikit berkulit sawo matang yang belum pernah aku lihat sebelumnya selama di sini.


Perempuan tadi berbalik membelakangi kami, masih kutatap ia yang sedikit menekuk lutut kakinya, jari-jemarinya bergerak anggun ke kanan dan ke kiri dengan indahnya...


"Kau kaku sekali," ucapnya, kuhentikan gerakanku seraya sebelah tanganku mengusap-usap sebelah tangan lainnya yang sedikit terasa perih.


"Aku belum pernah menari sebelumnya Bibi," rengekku menatapnya.


"Kau perempuan, bagaimana bisa sikap tubuhmu hampir sama kerasnya dengan ranting pohon? Apa kau ingin mempermalukanku?" ucapnya, kembali kurasakan bambu tipis itu terpukul pelan di pahaku.


"Rasanya susah sekali, aku tidak bisa melakukannya? Apa aku benar-benar harus melakukannya?" ungkapku lagi, kugigit pelan bibirku menatapnya.


"Ini permintaan langsung dari Raja Bagaskara, kau ingin menolaknya? Apa kau ingin menolaknya?" sambungnya, kembali kurasakan pukulan dari bambu tersebut memukul-mukul pelan paha belakangku.


"Aku mengerti, aku mengerti," ungkapku, kugerakkan kepalaku kembali menatap ke depan.


"Tanganmu itu, jangan digenggam, lepaskan saja seperti air yang mengalir," ucapnya, kurasakan genggaman yang ia lakukan di pergelangan tanganku.


"Jangan dilawan, hanya ikuti saja," ucapnya kembali, kualihkan pandanganku menatap lenganku yang bergerak perlahan mengikuti gerakan tangannya.


Berayun-ayun pelan digerakkannya kedua tanganku, pandangan mataku tetap tertuju pada ujung jari tengahku menyentuh ibu jari. Terlepas dan bersambung, begitu terus dan berulang-ulang...


Iringan musik yang dimainkan para perempuan di dekat kami semakin memanjakan telingaku, tubuhku yang dituntunnya bergerak mengikuti alunan musik tersebut...


"Ketika menari, jangan terlalu memikirkan apapun. Apa kau mempunyai seseorang yang sangat ingin dirimu diperhatikan olehnya?" ucap Ajeng, kugerakkan kepalaku sedikit melirik ke arahnya.


"Jika kau memilikinya? Maka pikirkan saja, pikirkan... Bagaimana caranya kau dapat terlihat cantik di hadapannya, tampak anggun di hadapannya, saat itu terjadi... Tubuhmu akan bergerak dengan sendirinya," sambungnya, kurasakan kedua genggaman yang ia lakukan di lenganku terlepas.

__ADS_1


__ADS_2