
“Lewat sini,” ucap Haruki menggerakkan kudanya ke samping kanan.
Kudaku bergerak mengikuti jejak kaki kuda Haruki yang berjalan menyusuri sisi jurang, “nii-chan, apa nii-chan benar-benar tidak mengetahui apa pun tentang tempat itu?” Tanyaku yang bergerak semakin menyusulnya.
Haruki menoleh ke samping menatapku, “aku benar-benar tidak tahu, aku bahkan baru mengetahui adanya Kerajaan ini. Aku hanya mengandalkan informasi dari Ayah, Tatsuya dan juga Daisuke,” ungkap Haruki sebelum dia kembali menatap lurus ke depan.
“Apakah ada yang menarik di sana? Kenapa Ayah meminta kita untuk mengunjunginya?” Gumamku dengan kembali melirik ke arah seberang.
“Bukannya kita dipinta untuk mengunjungi pemakaman sahabatnya Ayah?” Eneas ikut bersuara dari arah belakang.
“Ayah tidak akan meminta kita untuk melakukan hal sepele seperti itu. Untuk apa dia mengirim semua anaknya hanya untuk menghadiri sebuah pemakaman … Dan juga, jika beberapa wakil kapten hanya memberikan informasi yang samar-samar, aku yakin itu ada hubungannya dengan salah satu di antara kita,” ungkap Izumi menimpali perkataan Eneas.
“Seperti yang diharapkan dari Izumi.”
“Apa yang kau maksudkan?” Timpal Izumi kembali setelah apa yang Haruki katakan.
“Bukan apa-apa, aku hanya terharu akan sikapmu yang semakin dewasa seiring waktu,” tukas Haruki tanpa menggerakkan pandangannya sedikit pun.
Kuda yang kami tunggangi semakin berjalan masuk menyusuri pepohonan saat Haruki yang memimpin membawa kami masuk ke dalam hutan. Haruki masih terdiam dengan menatap ke arah kanan, ke arah jurang menganga yang ada di samping kami itu.
“Ketemu,” ungkap Haruki kembali terdengar, pandangan mataku beralih mengikutinya yang telah mrnunggangi kudanya ke sebuah jembatan batu yang melintang di antara kami dan juga wilayah di seberang sana.
“Apa kau mengetahui jika di sekitar sini ada jembatan?”
__ADS_1
Haruki menggelengkan kepalanya membalas perkataan Izumi, “aku hanya menerkanya saja. Beberapa Kesatria kita sudah seringkali datang ke sini, berarti akan ada jalan yang membuat mereka bisa mengunjungi tempat itu. Dan juga, aku bahkan tidak mengetahui tempat itu … Berarti tempat itu salah satu tempat yang letaknya sangat dirahasiakan seperti Desa Balian, tempat asal Daisuke.”
“Belajar dari hal itu, aku yakin jalan yang ditempuh akan disembunyikan. Karena itu, setelah aku melihat hutan dari kejauhan. Aku mengajak kalian ke sini dengan tetap memperhatikan jurang agar tak kehilangan arah,” sambung Haruki sembari bergerak dengan semakin mendekati jembatan batu itu.
Haruki menghentikan kudanya lalu menoleh ke arah belakang, “bagaimana? Apa kalian sudah siap?” Tanyanya, aku melirik ke samping saat kuda milik Izumi telah berhenti di sampingku. “Jangan banyak bicara, cepatlah bergerak,” ungkap Izumi sambil membalas lirikan Haruki.
“Baiklah. Sa-chan,” ungkap Haruki, dia sedikit menggerakkan kepalanya dengan kedua matanya yang beralih melirik ke arahku.
Aku menggerakkan kudaku sedikit maju ke depan, kuraih busur berserta satu anak panah yang ada di punggungku saat aku telah kembali menghentikan langkah kaki kuda yang aku tunggangi itu. Aku mengarahkan anak panahku yang sudah menempel di busur ke arah jembatan batu itu. Haruki menunggangi kudanya berjalan menyusuri jembatan lalu berhenti kembali tepat di dekat anak panahku yang menancap di pijakan jembatan itu.
Kudaku ikut berjalan maju mengikutinya, lalu berhenti kembali saat aku menembakkan anak panah yang kedua. Haruki kembali menunggangi kudanya lalu berhenti kembali di dekat anak panah yang aku tembakkan. Aku dan Haruki terus melakukan hal itu berulang-ulang hingga kuda kami telah menapak di seberang.
Izumi dan juga Eneas yang berada di seberang, mulai bergerak menunggangi kuda mereka mendekati kami. Pandangan mataku beralih ke arah sepuluh anak panah milikku yang masih menancap kuat di jembatan kayu tersebut, “jembatannya bahkan kokoh,” tukas suara Haruki yang terdengar di samping.
“Kau membuang banyak sekali anak panahmu secara sia-sia,” aku menoleh ke arah Izumi yang telah melirik ke arahku.
Aku menghela napas dengan menunggangi kudaku berbalik ke belakang, “itu lebih baik dibandingkan jembatannya tiba-tiba roboh oleh jebakan saat kita melewatinya,” ungkapku dengan kembali menunggangi kudaku menyusul Haruki.
Haruki kembali menggerakkan kudanya menyusuri pinggiran jurang seperti sebelumnya. Kadang kala kuda milik Haruki berhenti ketika dia menggerakkan wajahnya menoleh ke semua arah, “kita akan tetap menyusuri tepi jurang hingga kembali menemukan bukit batu itu kembali,” ungkap Haruki yang membuatku mengalihkan pandangan menatapnya.
“Kau khawatir adanya jebakan? Apa yang aku katakan itu benar?” Haruki menganggukkan kepalanya saat Izumi menimpali perkataannya.
“Menghindari jebakan?” Kali ini Eneas yang menunggangi kudanya di belakang Haruki mengangkat suara.
__ADS_1
“Jembatan batu itu sudah menjadi hal yang aneh dan patut dicurigai Eneas,” ungkapku sambil melirik ke arah punggungnya.
Eneas berbalik dengan sedikit mengerutkan keningnya, “dicurigai?” Tanyanya yang kembali menatap lurus ke depan.
“Kita hanya diberitahu untuk melewati bukit terjal jika ingin sampai di sana. Seperti yang dikatakan Haru nii-chan, jika itu tempat yang tersembunyi … Maka mereka tidak akan tinggal di dekat jembatan itu, mereka mungkin memasang banyak jebakan untuk para pendatang yang tidak mengetahui apa-apa mengenai tempat itu. Jadi satu-satunya cara hanyalah menghindari wilayah yang ada di sekitar jembatan.”
“Dan karena kita dipinta untuk hanya mendatangi bukit terjal, karena itu kita hanya harus menyusuri pinggir jurang hingga sampai ke bukit batu tadi. Apa yang aku katakan itu benar, nee-chan?” Aku melirik kembali ke arah Eneas lalu menganggukkan kepala saat dia telah menoleh lagi kepadaku.
“Aku tidak menyangka jika kalian akan memahaminya secepat itu,” suara Haruki lagi-lagi terdengar di telinga.
“Aku tidak tahu ada apa di sana, hanya saja … Yang aku dengar, mereka memiliki kemampuan bertarung yang tak boleh diremehkan. Mungkin Ayah meminta kita ke sini untuk meningkatkan kemampuan bertarung kita,” sambung Haruki lagi sambil berusaha melirik ke arah kami yang ada di belakangnya.
“Jika itu benar, maka dengan senang hati aku akan melakukannya. Daisuke maupun Ayah tidak pernah menunjukkan kemampuan aslinya saat dia melatihku, karena itu kemampuan bertarungku tidak terlalu berkembang,” gerutu Izumi yang membuatku melirik ke arahnya.
Apa dia bercanda? Dia mengatakan jika kemampuannya tidak terlalu berkembang, lalu bagaimana denganku? Apakah aku jalan di tempat?
“Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?”
Aku melirik ke kiri, berusaha menghindari lirikan mata yang ia lakukan ke arahku, “tidak ada. Aku hanya terpesona akan sosokmu, nii-chan,” tukasku tanpa menoleh ke arahnya.
“Entah kenapa, aku menolak untuk mempercayainya,” ungkapnya yang terdengar dari arah belakang.
“Berhati-hatilah,” bisik Lux yang tiba-tiba terdengar, “ada sekerumunan manusia yang datang mendekat,” sambungnya yang lagi-lagi berbisik pelan di telinga.
__ADS_1