Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXXVIII


__ADS_3

Aku merangkak ke luar dari dalam lubang, aku kembali berbalik dengan menarik tubuhnya itu keluar. Aku menarik napas, saat tubuhnya kucoba untuk kuangkat. Aku berjalan pelan dengan memapahnya, semakin kuat rangkulan tanganku di pinggangnya saat dia hampir terjatuh dari rangkulanku itu.


Aku meletakkannya kembali bersandar di dinding, kulirik air yang telah membanjiri kaki hingga pinggangnya. Aku lagi-lagi berjongkok membelakanginya, mengangkat kedua tangannya yang terpasung lalu menyelipkan tubuhku di sela-sela kedua tangannya itu.


Kedua tanganku bergerak ke belakang merangkul tubuhnya sembari kugerakkan tubuhku beranjak berdiri dengan memapah tubuhnya di belakangku. Dengan perlahan, aku berjalan membawanya menyusuri lorong penjara dengan dituntun oleh rusa kecil yang berjalan di depanku.


“Kou, tolong kami!” Aku berteriak saat kami telah keluar dari dalam gua. Aku melirik ke arah ekor Kou yang bergerak ke belakang tubuhku, kedua kakiku bergerak saat Kou kembali menurunkan tubuh saudara kembarku itu di dekat kakinya.


Kenapa? Apa kalian bingung, apa yang sebenarnya terjadi?


Aku pun, awalnya juga seperti itu.


Jika saja Zea, tidak mengatakan ‘rusa kalian telah lahir’. Kemungkinan, aku pun tidak akan mempercayai ini semua. Aku, baru menyadari … Seseorang yang selalu muncul di dalam mimpiku itu. Apakah ini yang dinamakan, ikatan batin di antara saudara kembar?


Yang membuatku tidak habis pikir hanyalah … Kapan dia lahir? Kenapa Ayah dan kedua Kakakku, tidak pernah menyinggung masalah itu? Atau mereka, mungkin memang tidak mengetahuinya?


“Kou, bantu aku untuk menghancurkan alat pacung yang membelenggu kedua tangannya!” tukasku sambil berjalan mendekati dia yang terlihat semakin meringkukkan tubuhnya di dekat kaki Kou.


“Lihat aku,” ucapku dengan menyentuh kedua pipinya, “dia Kou, dia teman, dia baik, dia … Tidak akan menyakitimu,” ucapku dengan menyelipkan rambutnya ke telinganya yang panjang itu.


Aku menganggukkan kepala dengan mengarahkan kedua tangannya mendekati wajah Kou. Kou mengangkat sebelah tangannya memegang kayu yang memasung tangannya lalu menekan kayu tersebut hingga hancur. Aku menggigit bibirku, saat mataku menatap bekas pasung yang membuat bekas lebam membiru di pergelangan tangannya.


“Angkat dia ke punggungmu, Kou!” ucapku dengan sedikit mundur ke belakang beberapa langkah.


Kou mengangkat ekornya melilit pinggang saudaraku itu lalu menurunkannya kembali ke punggungnya. Aku berjalan mendekat, kuraih dan kugenggam tangan kanannya yang menjuntai ke bawah saat tubuhnya itu berbaring tengkurap di atas punggung Kou. Aku dan Kou berjalan beriringan dengan sebelah tanganku menggenggam kuat tangan saudaraku itu, sesekali aku melirik ke arahnya … Saat tiba-tiba genggaman di tanganku tadi menguat.


Aku melirik ke arah mereka yang masih berdiri di tempat sebelumnya, “tunggulah di sini Kou,” ucapku dengan melepaskan genggaman tangan pada saudaraku tadi lalu berjalan mendekati laki-laki yang masih duduk di atas rusa besar itu.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah lalu duduk berlutut di hadapannya, “aku mohon. Izinkan aku, untuk bertemu Ibuku,” ucapku sambil menundukkan pandangan, “jika pun dia memang telah meninggal, izinkan aku … Untuk mengunjungi makamnya, satu kali saja,” sambungku dengan suara bergetar menatapnya.


“Apa kau, Sachi?”


Aku segera mengangkat wajahku ke arah suara perempuan yang terdengar, “apa kau … Mengenalku?” Aku balik bertanya kepadanya.


“Aku-”


“Apa yang kau lakukan?!”


“Ayah!” perempuan yang berbicara padaku sebelumnya balas berteriak ke arah laki-laki muda yang duduk di atas rusa itu.


“Cucumu datang ke sini hanya ingin mencari Ibunya. Apa Ayah tetap akan menutup mata tentang ini?!”


Aku melirik kembali ke arah laki-laki yang dimaksud, “jadi kau, Kakekku? Kakek, bisakah … Aku bertemu dengan Ibuku?” tanyaku getir menatapnya.


“Aku akan menghancurkan kalian semua, jika kau … Melarangku untuk bertemu dengannya,” ucapku beranjak berdiri sambil melirik ke arah mereka satu per satu.


“Kou, bawa para Manticore ke sini!” Perintahku dengan berjalan maju ke depan beberapa langkah mendekati perempuan yang berbicara denganku sebelumnya.


“Kumohon, bawa aku … Bertemu Ibuku,” ucapku pelan saat kedua kakiku berhenti di hadapannya.


Dia melirik ke samping sebelum kembali menatapku, “aku mengerti. Ikuti aku!” ungkapnya berbalik lalu melangkah menjauh.


Aku berjalan mengikuti langkah kakinya dari belakang. Sepanjang perjalanan, semak-semak tumbuh di sekitar kami seakan menjadi dinding yang membatasi kami berjalan dengan beberapa Elf yang berdiri menatap kami di sekeliling. “Ayah kami, membawa Ardella kembali dengan sihirnya saat dia tak sadarkan diri,” ucap perempuan itu membuka pembicaraan.


“Dan Ayah kami juga, yang mengurungnya agar dia tidak bisa kabur kembali lalu memenjarakan anak yang baru saja ia lahirkan karena anak tersebut setengah manusia. Ardella sendiri pun, tidak tahu jika dia melahirkan dua anak … Yang dia hanya ketahui, dia memiliki dua orang Putra dan dua orang Putri yang ia tinggalkan di dunia manusia. Aku menceritakan hal ini, karena kau sendiri … Pastilah sangat penasaran tentang Ibumu, bukan?”

__ADS_1


“Apa maksudmu, jika Ibuku tidak mengetahuinya?”


Dia menoleh ke arahku sebelum dia membuang kembali pandangannya ke depan, “Saat dia kembali dengan tubuh penuh luka dan tak sadarkan diri, perutnya tiba-tiba membesar. Tetua mengatakan, jika kemungkinan janin yang ada di dalam perutnya itu baru berkembang saat dia kembali diselimuti oleh sihir yang ada di sekitar. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?”


“Dia, apa dia … Diselimuti kutukan?”


“Entahlah. Aku tidak ingin membahasnya, dan yang lebih penting … Kau terlihat sangat mirip dengan Ibumu. Panggil aku Bibi, Ibumu adalah Adikku, tenang saja … Selama kau berada di dekatku, mereka tidak akan berani mendekat.”


Dia menghentikan langkahnya di sebuah rumah kayu, dia mempersilakan aku untuk masuk saat dia telah membuka pintu rumah tadi. Dia membawaku ke sebuah ruangan dengan tirai kain berwarna cokelat yang hampir cenderung hitam.


“Ardella, bagaimana keadaanmu?” tanya seorang perempuan yang mengaku bibiku tadi ketika dia menyingkap tirai yang sebelumnya aku katakan.


Aku turut berjalan masuk ke dalam ruangan, aku tertegun saat sepintas bayangan sedikit pun tak terlihat. Semuanya gelap, tak ada yang sedikit pun terkena cahaya walau sedikit. “Ada yang ingin menemuimu,” ucap suara perempuan itu lagi yang tak kunjung mendapat balasan.


“Ibu,” ucapku pelan, kepalaku tertunduk dengan menggenggam kedua tanganku sendiri.


“Ibu, ini Sachi,” sambungku lagi dengan suaraku yang kembali gemetar.


“Sachi? Putriku Sachi? Tidak mungkin … Sachiku masihlah kecil, dia mungkin sekarang lagi tidur di gendongan Ayahnya,” tukas suara perempuan yang sangat halus terdengar.


Aku menarik napas sebelum melangkahkan kaki mendekati arah suara yang sebelumnya terdengar. Langkah kakiku terhenti saat kedua kakiku menabrak sesuatu, aku meraba ke depan sebelum akhirnya duduk ke permukaan datar yang ada di hadapanku itu.


“Jika aku mengatakan, aku mencintai Ibu. Apa Ibu akan mempercayainya?”


“Bagaimana?”


“Aku akan mengambil semua kutukan itu, aku akan menanggung semuanya. Jadi Ibu, ikutlah aku pulang kembali ke Sora.”

__ADS_1


__ADS_2