
Haruki dan Izumi menarik kuda mereka mendekati kami, “cepatlah, Sa-chan!” Haruki kembali meninggikan suaranya, dengan cepat kuangkat tangan kananku menjatuhkan penutup kepala pada jubah yang aku kenakan, “apa yang kalian lakukan?!” Aku berteriak kuat diikuti kepalaku yang menatap ke sekitar.
Kepalaku bergerak cepat ke samping saat suara dedaunan yang saling bergesekan terdengar, pandangan mataku sedikit membesar tatkala puluhan bayangan hitam mendekat. “Apa yang mereka katakan?” Bisikan Izumi yang berdiri di samping kuda milikku berhasil membuat pandangan mataku beralih ke padanya.
Bayangan-bayangan hitam tadi semakin jelas terlihat saat mereka melangkah maju mendekat, kutatap sekitar puluhan manusia yang telah menghentikan langkah kaki mereka di hadapan kami. Mereka semua mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit hewan yang dikeringkan, corak-corak loreng pada pakaian yang mereka kenakan, sangatlah menarik pandangan.
Puluhan perempuan tersebut mengenakan topeng kayu berbentuk hewan yang menutupi wajah-wajah mereka. Saat mereka melangkah, lekukan di tubuh mereka terlihat sangat jelas dibalik kulit hewan yang membungkus ketat tubuh mereka. “Siapa kalian?” Tanyaku dengan nada sedikit meninggi kepada mereka.
Mereka diam membisu, tak keluar sedikit suara pun dari mereka, yang mereka lakukan hanya berjalan maju dengan anak panah mengarah kepada kami. Aku bergerak menuruni kuda, kedua kakiku melangkah melewati Haruki dan juga Izumi, “Sachi,” suara Izumi terdengar saat aku telah berdiri membelakangi mereka.
“Jika kalian mendekat, aku akan membunuh kalian semua,” ucapku, aku mengenggam erat busur panah milikku saat mereka masih melangkahkan kaki mendekat.
“Suara ini? Aku seperti pernah mendengarnya, tapi di mana?” Gumamku pelan saat terdengar suara samar yang menyentuh telingaku.
__ADS_1
Kepalaku yang sebelumnya sempat tertunduk, terangkat kembali saat bayangan Haruki tiba-tiba berjalan melewatiku. Haruki mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti kepada mereka, beberapa dari mereka saling tatap sebelum mengangkat kembali busur panah mereka kepada Haruki. Haruki menggerakan tangannya ke dalam jubah yang ia kenakan lalu mengeluarkan sebuah lempengan berbentuk lingkaran berlapis emas ke arah mereka.
Para pasukan perempuan yang memakai topeng kayu tersebut saling tatap, lama mereka menatap satu sama lain tanpa suara sebelum mereka meminggirkan tubuh, membuka jalan lebar di hadapan kami. Salah seorang dari mereka maju ke depan, dia mengangkat sebelah tangannya ke arah jalan tersebut. Haruki berbalik melangkahkan kakinya dengan sedikit menepuk pelan pundakku, dia kembali berjalan melewatiku dengan sebelah tangannya menarik tali kekang yang mengikat kudanya.
Aku kembali berbalik melingkarkan busur panah yang aku genggam tadi ke pundak, tanganku kembali bergerak meraih lalu menarik tali kekang yang mengikat kudaku seraya kedua kakiku melangkah mengikuti Haruki. Perempuan yang memakai topeng serigala tersebut berjalan menuntun kami diikuti pasukan lainnya yang berjalan mengikuti kami dari belakang. Perempuan bertopeng serigala menghentikan langkah kakinya, dia berbalik menatapi kami bergantian dengan sebelah tangannya menunjuk ke arah kuda-kuda yang kami bawa.
Haruki menarik kuda miliknya mendekati sebuah pohon besar lalu mengikat kuda tersebut di pohon itu. Dia kembali berjalan mendekatiku dengan mengangkat sebelah telapak tangannya, kuangkat lalu kuletakan tali kekang yang aku genggam tadi kepadanya sembari tubuhku berbalik meraih Cia yang masih duduk di atas kuda. Haruki menarik kuda milikku saat Cia sudah kugendong dengan erat, “berikan Cia padaku, aku yang akan mengendongnya,” suara Izumi tiba-tiba terdengar dari samping kanan tubuku.
Aku menoleh ke arahnya yang telah berdiri di sampingku, “apa kau yakin, nii-chan? Maksudku, kau telah membawa tas besar tersebut di pundakmu,” ucapku dengan sedikit melirik ke arah tas yang menyimpan semua kebutuhan kami di pundaknya.
“Aku mengerti,” ucapku berjalan meninggalkannya, “nii-chan, apa kau baik-baik saja?” Aku sedikit berbisik saat kedua kakiku telah berhenti di samping Haruki.
Haruki berbalik menatapku dengan tangannya menepuk pelan kepalaku, “aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,” ucapnya tersenyum menatapku.
__ADS_1
Haruki meraih tanganku, digenggamnya tanganku tadi dengan kuat seraya kedua kakinya kembali melangkah mendekati perempuan bertopeng serigala yang masih menunggu kami. Kami berjalan beriringan menuruni tangga batu penuh lumut yang ada di jurang tersebut, semakin kami turun semakin sempit juga kaki kami menapak di batu-batu tersebut, aku bahkan harus memiringkan kedua kakiku ke samping hanya untuk berdiri di atas tangga batu tersebut.
Tangga-tangga batu yang kami pijaki berakhir ke sebuah mulut gua, perempuan bertopeng serigala tadi kembali melangkahkan kakinya lalu menghilang di dalam kegelapan yang menyelimuti gua tersebut, “jangan lepaskan genggaman tanganku,” ucap Haruki kembali melangkah maju diikuti semakin kuat genggaman yang ia lakukan padaku.
Aku melangkah di belakangnya, pandangan mata kami menggelap seketika saat kami memasuki gua tersebut, “lurus saja, perempuan tersebut berjalan di depan kalian,” suara Izumi memenuhi sekitar, aku berbalik … Menoleh ke arah matanya yang terlihat indah di kegelapan.
“Mata yang menakjubkan bukan?” Haruki bergumam pelan di sampingku, aku kembali mengarahkan pandangan menatap kosong ke dalam bayangan gelap yang menyelimuti kami.
Aku sedikit menggigit bibirku tatkala kurasakan kedua kakiku semakin tenggelam ke bawah, “berhati-hatilah melangkah. Lumpurnya sangat dalam,” suara Izumi kembali terdengar, diikuti kedua kakiku yang terasa berat untuk digerakan.
Dari jauh, terdengar suara gemericik air yang memenuhi telinga. Semakin aku melangkah maju, semakin jelas pula suara yang terdengar diikuti titik-titik cahaya yang jatuh terlihat. Cahaya matahari yang jatuh di atas lubang gua terasa seperti sebuah cahaya penolong untuk mataku, aku menoleh ke sekitar … Menatap aliran air yang jatuh mengalir pada batu-batu yang ada di sekitar kami.
Aku kembali beralih pada perempuan bertopeng serigala yang telah menenggelamkan tubuhnya ke dalam sungai yang mengalir di hadapan kami. Perempuan tersebut bergerak menyusuri arus sungai yang tak terlalu deras tersebut, “berhati-hatilah,” ucap Haruki kembali terdengar, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah berdiri di dalam air sungai tersebut.
__ADS_1
Haruki mengangkat kedua tangannya ke arahku, dipegangnya erat pinggangku saat aku perlahan melompat ke dalam sungai mengikutinya. Aku kembali menoleh ke belakang, kutatap Izumi yang berjalan di belakang kami dengan Cia yang berada di gendongannya sedangkan tangannya yang lain mengangkat tas besar yang ia bawa ke atas kepalanya, Eneas yang berjalan di sampingnya pun sama … Dia mengangkat tas yang ada Uki di dalamnya itu ke atas kepalanya, kutatap dia yang masih berusaha berjalan walau air sungai telah menyentuh dagunya.
Keadaan kami di sekitar kembali menerang, saat air sungai yang kami susuri membuat kami kembali keluar dari gua tersebut. Perempuan bertopeng serigala tersebut kembali melangkah maju mendekati persimpangan sungai yang ada di kanan dan kiri. Perempuan tersebut terus berjalan maju mendekati daratan dengan sebuah perkampungan di atasnya, “nii-chan, sebenarnya kau membawa kami ke mana?” Aku bersuara pelan kepada Haruki diikuti telapak tanganku yang semakin kuat mengenggam tangannya.