
"Nona, kami sudah memanaskannya," ucap seorang laki-laki dengan sebuah mangkuk di tangannya.
Laki-laki tadi berdiri di hadapanku, kugerakkan tanganku meraih mangkuk putih berselimut kain merah yang ada di tangan laki-laki tadi. Lem yang telah dicairkan kembali oleh laki-laki tadi tampak memenuhi mangkuk kecil yang ada di tanganku itu.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu?" Ucap Izumi yang telah berdiri di sampingku, kulirik ia yang telah mengarahkan pandangannya pada mangkuk berisi penuh lem di tanganku.
"Aku ingin mereka menangkap serangga untuk aku memastikan semuanya," ucapku kepada Izumi, pandangan mataku kembali beralih pada laki-laki yang disebut Ketua itu.
"Namamu?"
"Aku bertanya siapa namamu," ucapku sekali lagi pada laki-laki tersebut.
"Akintunde," jawabnya samar terdengar.
"Akintunde, kemarilah!" Ucapku padanya, laki-laki tersebut masih diam tak bergeming, hanya pandangannya saja yang menatap tajam ke arahku.
Laki-laki bernama Akintunde itu tersungkur ke depan saat Jabari yang berdiri di belakangnya menerjang kuat punggung laki-laki tersebut. Aku melangkah maju saat Jabari kembali menginjak tubuh laki-laki itu hingga ia kesulitan beranjak.
"Kau pemimpin desa ini bukan?" Ucapku berjongkok di hadapannya, dia masih menatapku dengan tatapan tajam yang membuat tubuhku merinding.
"Jika kau pemimpin, harusnya kau melakukan segala macam cara untuk penduduk desa mu. Keegoisan pemimpin sepertimu ini, hanya akan mendatangkan kehancuran untuk desamu. Apa kau paham?" Ungkap ku meneteskan lem yang masih panas di tanganku ke lengan laki-laki itu.
Laki-laki bernama Akintunde itu menggigit kuat bibirnya saat sedikit cairan lem panas itu jatuh ke kulitnya. Aku kembali beranjak berdiri lalu berjalan mendekati warga desa yang masih meringkuk ketakutan menatapi kami...
"Apakah kalian dapat membantuku?" Ucapku pada beberapa laki-laki yang masih meringkuk ketakutan.
"Dapatkah kalian membantuku?" Ucapku kembali pada mereka, beberapa orang tersebut hanya diam tanpa menjawab perkataanku.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang menatapi mereka satu-persatu. Tubuhku kembali beranjak berdiri saat orang-orang tersebut sama sekali tak menggubris pertanyaan yang aku lontarkan kepada mereka...
"Biar aku saja," terdengar suara perempuan paruh baya itu kembali, perempuan tersebut melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Biar aku saja yang membantumu, Nona," ucap perempuan itu kembali dengan kedua tangannya mengarah ke padaku.
"Apa kau yakin?" Ucapku ikut menatapnya, perempuan paruh baya tadi mengangguk membalas perkataanku.
"Baiklah, aku ingin kau mencari kayu, lalu lumuri kayu tersebut dengan benda ini, hati-hati karena benda ini sangatlah lengket. Jika kau sudah melakukannya, aku ingin kau menangkap lalat yang hidup di sekitar sini," ucapku sembari memberikan mangkuk berisi lem tadi kepadanya.
"Lalat?"
"Benar, lalat. Aku ingin kau menangkap hewan itu untukku," ucapku menimpali perkataan perempuan paruh baya tadi.
Perempuan tersebut mundur ke belakang beberapa langkah, dia berbalik melangkahkan kakinya menjauh. Kepalanya yang tertunduk terlihat sangat gusar dengan sesekali melihat ke kanan maupun ke kiri.
"Aku memintanya untuk menangkap seekor lalat untukku," ucapku melirik ke arah Haruki yang telah berdiri di samping.
"Lalat?"
"Apakah nii-chan ingat anak laki-laki yang berlari di hadapan kita sebelumnya?"
"Anak laki-laki yang langsung..." Ucapan Haruki terhenti, aku menganggukkan kepala seakan mengerti kenapa dia melakukannya.
"Apa nii-chan memperhatikan banyak sekali lalat yang berterbangan di sekitarnya. Bukan hanya itu..."
"Hamparan berpasir yang kita injak sekarang ini, hampir seperti sebuah gurun yang aku kenal di kehidupan lamaku. Di gurun itu, dari apa yang aku baca... Terdapat suatu penyakit yang dibawa oleh seekor lalat."
__ADS_1
"Penyakit itu, menyebabkan penderitanya tertidur, tak sadarkan diri, dan lebih buruknya lagi adalah kematian," ucapku melirik ke arah para penduduk yang tengah memperhatikan aku berbicara dengan Haruki.
"Katakan," ucapku berbalik menatapi para penduduk tadi bergantian.
"Kapan pertama kali kalian mendapatkan bercak-bercak merah di kulit?" Tukasku kembali kepada mereka, para penduduk tersebut hanya diam dengan pandangan yang saling menatap satu sama lain.
"Mereka menjengkelkan sekali," bisikku dengan menggerakkan jari-jemariku menggaruki kepala.
"Nona, aku mendapatkannya," terdengar suara teriakan perempuan dari jauh, aku kembali beranjak berdiri sembari pandangan mataku beralih ke arah sumber suara tadi.
Perempuan paruh baya itu berlari pelan mendekati kami, tampak di tangannya terdapat sebuah kayu kecil yang ia gerakkan beriring dengan tangannya yang melambai-lambai ke arah kami.
Perempuan tadi menghentikan langkah kakinya, dia membungkukkan tubuhnya di hadapan kami dengan sesekali napasnya yang tak beraturan itu terdengar. Perempuan itu mengarahkan potongan kayu tadi kepadaku, kuraih potongan kayu tadi sembari kedua mataku menatap dengan seksama pada beberapa lalat yang menempel pada kayu tadi...
"Sepertinya, perkiraanku benar. Coba lihat ini nii-chan," ucapku mengarahkan potongan kayu tadi mendekati Haruki, kutatap beberapa ekor lalat yang telah tak bergerak hanya menempel di potongan kayu tersebut.
"Ukurannya yang lebih besar daripada lalat pada umumnya, warna tubuhnya yang sedikit kemerahan, dan juga... Moncong yang ada di mulutnya, moncong itu berfungsi untuk menghisap darah hewan maupun manusia," ucapku kembali kepada Haruki, Haruki mengambil potongan kayu tadi dari tanganku sembari pandangannya fokus menatapi potongan kayu tersebut.
"Katakan, apa bercak-bercak merah yang ada di tubuh kalian itu, karena lalat ini menggigitnya?" Sambungku menatapi perempuan paruh baya itu, lalu beralih menatap pada para penduduk desa.
"Kalau diingat-ingat," ucapan seorang laki-laki terhenti, aku melirik ke arah salah satu laki-laki yang menendang kaki laki-laki yang hendak berbicara tersebut.
"Bagaimana denganmu? Apa kau mengingatnya?" Ucapku kembali beralih menatap perempuan paruh baya itu.
"Aku, tidak terlalu mengingatnya. Tapi sepertinya iya," ucap perempuan tersebut menatapku.
"Kalian!" Ucapku berbalik menatapi rombongan kami.
__ADS_1
"Pasang jubah milik kalian baik-baik, tutupi seluruh tubuh kalian. Jika kalian tidak melakukannya, kalian akan berakhir seperti mereka!" Teriakku kembali kepada para rombongan.