
Mataku kembali terbuka, kuusap kedua mataku seraya kutatap langit yang masih tampak mendung. Matahari pagi masih belum membiaskan cahayanya, hanya nampak kabut saja yang menyelimuti kami saat ini...
Beranjak aku duduk, kututup mulutku yang telah menguap kesekian kalinya. Merangkak aku mendekati Zeki yang juga sudah terbangun, kusentuh-sentuh punggungnya berulang-ulang...
"Ada apa?" ucapnya, menoleh ia menatapku.
"Temani aku," ucapku sambil tetap menyentuh punggungnya menggunakan jari telunjuk.
"Kau mau buang air?" ucapnya, menggeleng aku menjawab pertanyaannya.
"Lalu?"
"Aku mau minum," ucapku, kugigit pelan bibirku yang sudah mulai kering hampir mengelupas.
"Tapi tidak ada air di sekitar sini," balasnya menatapku.
"Kemarilah, bantu aku!" ucapku kembali, beranjak aku berdiri seraya menarik lengannya.
Kulangkahkan kakiku ke sebuah pohon besar dengan Zeki yang ikut berdiri disampingku. Berjinjit aku beberapa kali seraya menatap bagian atas pohon,
"Berjongkoklah!" ucapku menatapnya, kuarahkan jari telunjukku menunjuk ke atas tanah yang ada dihadapannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?!" gerutunya sambil tetap berjongkok di hadapanku.
Berjalan aku menghadap punggungnya, kuarahkan kaki kiriku menaiki bahunya bergantian dengan kaki kananku melakukan hal yang sama. Beranjak ia berdiri dengan aku duduk di atas bahunya...
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Berjalanlah mendekati pohon," ucapku menunduk membalas tatapannya.
__ADS_1
Berjalan ia mendekati pohon lalu berhenti ia mengikuti perkataanku. Kuarahkan telapak tanganku setinggi mungkin meraih daun yang tumbuh di pohon itu, daunnya lebar seperti sebuah piring dengan sedikit duri-duri di sampingnya...
Kupetik daun tersebut dengan sangat berhati-hati, kutatap buliran-buliran embun yang mengumpul di permukaannya. Kuangkat kepalaku dengan daun tersebut berdiri diatas bibirku, air embun yang menempel di daun tersebut mengalir menembus lidah dan kerongkonganku...
"Buka mulutmu, Zeki!" ucapku padanya, kuraih dan kupetik kembali daun yang lain seraya kutuangkan embun tersebut jatuh ke dalam mulutnya.
"Apa kau masih mau lagi?" sambungku, kubuang dua helai daun yang ada di tanganku ke samping.
"Tidak bisakah kau mengambil daun yang lebih lebar?" ucapnya kembali menatapku.
"Berjinjitlah sedikit, agar aku bisa menggapainya," ungkapku balas menatap tatapannya.
______________
Berjalan kami bersepuluh menyusuri hutan, kembali kami melangkahkan kaki mendekati jurang tempat tinggal Ular raksasa semalam. Berhenti Izumi dan Danurdara di lubang jebakan yang kami buat kemarin seraya dikumpulkannya pisau-pisau yang berserakan di sana ke dalam kain yang dibawa oleh Izumi.
"Apa kau yakin ingin melakukannya Sa-chan?" ucapnya sesekali menoleh kedalam jurang yang gelap di bawah kami.
"Tentu, jika jumlah ular-ular yang ada dibawah sebanyak itu. Kita tidak punya cara lain selain memusnahkan mereka, bagaimana jika Kaisar menggunakan ular-ular tersebut untuk membunuh mereka yang tidak bersalah," ucapku lagi tanpa menoleh ke arahnya.
Berdiri Zeki di sampingku, berjongkok ia seraya membuka bungkusan dari pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Dibuangnya daun-daun kering dan juga ranting pohon yang ada di dalam bungkusan tadi ke dalam jurang...
"Aku telah selesai membuatkan apinya," ucap Adinata ikut berdiri disamping Zeki dengan sebuah obor yang menyala di tangannya.
Dijatuhkannya obor tersebut oleh Adinata, kilatan api membuat pemandangan di dalam jurang semakin lama semakin jelas terlihat. Api tersebut semakin lama semakin menjalar membesar, asap mengepul dari dalam jurang diikuti bau gosong yang menyengat penciuman.
Udara di hadapan kami semakin lama semakin terasa panas, berbalik kami semua seraya berjalan menjauh. Menoleh aku ke arah jurang tersebut, asap hitam yang mengepul tersebut semakin lama terlihat semakin pekat membumbung seakan mencoba menembus birunya langit hari ini.
________________
__ADS_1
"Jadi, apa yang ingin kita lakukan selanjutnya?" ucap Haruki menatapi kami satu persatu.
"Bagaimana denganmu Sachi, apa kau punya saran?" ungkap Adinata mengalihkan pandangannya padaku.
"Aku ingin keluar dari sini secepat mungkin, apa kau merasakan sihir yang paling besar di sekitar sini Danur?" ucapku balas menatap Danurdara.
"A-aku ha-hanya me-merasakannya sa-samar sa-samar. Ja-jauh ke-ke a-arah ti-timur," ucapnya menatapku.
"Bagaimana nii-chan?" ungkapku mengalihkan pandangan pada Haruki.
"Jika kalian bertanya padaku, tentu aku akan langsung kesana. Semakin cepat kita menemukan inti sihir itu maka semakin baik untuk kita dan yang lainnya," ucapnya kembali menatapi kami.
"Baiklah, sudah diputuskan bukan? Kita akan langsung menuju ke arah timur," sambung Zeki beranjak berdiri.
Beranjak kami berdiri satu persatu, kulihat Izumi yang memberikan sebuah pisau pada Julissa, Luana, Sasithorn dan juga Arion. Kurasakan sesuatu menggenggam tanganku, kubalikkan tubuhku melihat Zeki yang telah berdiri di sampingku...
Berbalik Haruki seraya berjalan diikuti Adinata dan juga Danurdara di belakangnya, ditariknya tanganku oleh Zeki mengikuti langkah kakinya.
Pandangan mataku menatap dalam para laki-laki yang pakaiannya semakin tidak beraturan, bergantian mereka merobek pakaiannya sendiri untuk dijadikan obor kala malam menyelimuti...
Jika manusia diluar sana melihat keadaan kami yang sekarang, apa mereka akan percaya kalau kami seorang Pangeran dan juga Putri?
Wajah yang lelah penuh debu, tanah, hingga darah yang mengering. Kuku-kuku tangan yang semakin menghitam karena sering bersentuhan langsung dengan tanah. Padahal di kehidupanku sebelumnya, aku juga bukanlah siapa-siapa...
Tapi entah kenapa, ini terasa lebih melelahkan, ini terasa lebih menyesakkan, dan ini terasa lebih menguras seluruh jiwaku...
Aahh, kalian benar, itu karena...
Ada Ayah yang menungguku pulang kerumah.
__ADS_1