Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXI


__ADS_3

“Tsu nii-chan dapat melakukannya bukan?” Tsubaru lama menatapku sebelum dia kembali menganggukan kepalanya. “Kata-katamu adalah perintah mutlak untukku, Putri,” ucapnya membungkuk di hadapanku dengan sebelah tangan bergerak menyentuh dadanya.


Tsubaru kembali beranjak berdiri lalu berbalik melangkah pergi, masih kutatap dia yang semakin melangkahkan kakinya mendekati kuda miliknya. Kuangkat tanganku melambai ke arah Kazuya yang juga telah menatapku dari atas kuda miliknya, Kazuya membungkuk dari atas kudanya ke arahku saat aku melakukannya.


Dua kereta kuda beratap emas yang ada di depan kami perlahan bergerak disusul puluhan Kesatria berkuda yang mengiringinya, “nii-chan, apa Ayah melakukan perjalanan dengan hanya membawa pasukan ini?” Aku sedikit berbisik pada Haruki yang telah berdiri di sampingku.


“Tentu saja tidak,” Izumi yang juga telah berdiri di sampingnya membuka suara, “sisa pasukan menunggu mereka di luar Kerajaan. Jika Ayah membawa seluruh pasukan masuk, mereka semua akan tahu jika kita masih hidup. Karena itu, Ayah hanya membawa pasukan yang dulu pernah mengantarkan dia pergi ke Balawijaya untuk masuk ke tempat ini,” ucap Izumi, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah berbalik melangkahkan kakinya menaiki tangga Istana.


“Apa yang dikatakan Izu nii-chan itu benar?” Aku kembali bertanya kepada Haruki yang masih berdiri di sampingku, “semua yang dia katakan benar. Karena itulah, Izumi sedikit marah saat kau mengucapkan kata-kata semalam kepada Ayah,” kali ini Haruki berbalik melangkahkan kakinya menysusul langkah kaki Izumi.


Aku ikut melangkahkan kaki mengikuti mereka yang telah kembali memasuki Istana, “Izu-nii, apa kau masih marah karena sikapku semalam?” Langkah kakiku semakin cepat berlari mendekatinya.


Izumi menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatapku, “aku tidak marah, aku hanya sedikit lelah, hanya ingin beristirahat sebentar sebelum kita melanjutkan perjalanan,” ucapnya menggerakan lehernya memutar dengan sebelah tangannya memegang belakang lehernya.


Aku berjalan mengikuti langkah kakinya dari belakang, “apa nii-chan ingin aku masakan sesuatu?” Tanyaku menoleh ke arahnya, “tidak perlu. Dari semalam kau belum beristirahat bukan? Beristirahatlah,” ucapnya menepuk pelan kepalaku sebelum kedua matanya kembali menatap lurus ke depan.


“Berbicara tentang semalam,” suara Haruki yang terdengar dari arah belakang menghentikan langkah kaki kami berdua, “apa yang dilakukan kedua Adikku? Apa kehidupanku Kakaknya ini sangatlah menarik hingga mereka bahkan berusaha mengintip apa yang aku lakukan?” Sambung Haruki, aku sedikit melirik ke arah Izumi yang juga sudah melirik ke arahku.

__ADS_1


“Aku lelah, aku menyerahkan semuanya kepadamu, Adikku,” ucap Izumi menepuk kepalaku diikuti kedua kakinya yang semakin berjalan menjauh meninggalkan. “Sa-chan,” aku menggigit kuat bibirku saat telingaku kembali menangkap suara yang dikeluarkan Haruki.


Aku menghela napas panjang sebelum tubuhku berbalik menatapnya, “nii-chan,” ucapku tersenyum menatapnya, “aku pun lelah, aku juga ingin beristirahat sama seperti Izu-nii,” sambungku kembali padanya.


“Jika kalian mengulanginya lagi. Aku tidak akan menjamin apa yang akan kulakukan terhadap kalian berdua,” ucapnya yang segera kusambut dengan anggukan kepala.


Haruki kembali melanjutkan langkahnya, ia kembali berhenti di sampingku dengan kedua matanya melirik menatapku, “beristirahatlah, karena setelah ini … Kita akan mengunjungi sebuah tempat yang sedikit berbahaya. Apa kau mengerti dengan apa yang aku maksudkan?” Dia kembali tersenyum kecil menatapku sebelum kedua kakinya kembali melangkah melewatiku.


_____________________


Aku berjalan manyusuri lorong Istana dengan kedua tanganku mengenggam lengan tangan Cia yang juga ikut berjalan di sampingku. Langkah kaki kami terhenti saat Izumi dan juga Eneas tiba-tiba muncul dari sisi lain lorong yang ada di sebelah kanan. “Apa kau telah menyiapkan semuanya?” Izumi membuka suaranya saat mereka juga menghentikan langkah, menoleh ke arah kami.


Izumi mengangkat sebelah tangannya ke arahku, “berikan tas tersebut padaku. Aku yang akan membawanya.”


Aku mengangkat sebelah tanganku meraih tas tadi lalu meletakan tas tersebut di atas tangannya, “apa Izu-nii tahu? Ke mana tujuan kita selanjutnya?” Tanyaku saat Izumi meletakan tali pada tas tadi menggantung di pundaknya.


“Aku tidak tahu, Haruki sama sekali tidak memberitahukan apa pun padaku,” Izumi kembali berbalik lalu melangkah disusul Eneas yang berjalan di sampingnya. “Dia mengatakan, jika tempat yang akan kita kunjungi nanti sedikit berbahaya, dan itu membuatku sangat penasaran,” ucapku ikut melangkahkan kaki bersama Cia di belakangnya.

__ADS_1


“Dia mungkin mengatakannya karena ingin kau waspada, karena bagi perempuan … Semua tempat di dunia ini sangatlah berbahaya,” ucapnya sambil tetap menatap lurus ke depan.


“Mungkin apa yang nii-chan katakan benar. Lagi pun, tempat-tempat yang kita kunjungi sebelumnya, semuanya berbahaya dan hampir membunuhku,” aku tertunduk sebelum kembali mengangkat kepalaku menatap lurus ke depan.


Kami kembali berjalan menyusuri lorong Istana tanpa mengeluarkan suara apa pun, genggaman Cia di tanganku semakin kuat saat kami telah melangkah melewati pintu Istana. Langkah kakiku semakin cepat bergerak saat kedua mataku terjatuh pada Haruki yang telah duduk menunggu di atas kuda miliknya diikuti beberapa orang Kesatria yang berdiri mengelilinginya, “apa yang kalian lakukan? Kalian membuatku menunggu sangat lama,” ucap Haruki saat mengangkat kepalanya menatap ke arah kami.


Izumi melangkah mendekati kuda cokelat miliknya, “jika benar seperti apa yang engkau katakan. Maka, maafkan kami kakak,” ucapnya ketika telah duduk di atas kuda miliknya itu.


“Hime-Sama,” ucap mereka bergantian yang telah berbaris berdiri di hadapanku, “ada apa?” Tanyaku seraya kuarahkan kedua mataku menatap mereka bergantian.


“Kami, merasa bangga saat berperang di bawah perintahmu, Hime-Sama,” ucap Sanjiv yang melangkah maju lalu membungkukan tubuhnya ke arahku dengan sebelah tangannya menyilang di dada.


“Hime-Sama,” kali ini Gritav melangkahkan kakinya mendekati, “aku, akan selalu mendoakan keselamatan kalian. Jaga dirimu baik-baik, Hime-Sama,” ucapnya tersenyum menatapku, kulepaskan tanganku yang mengenggam tangan Cia sebelumnya seraya kuarahkan tanganku tadi mengenggam telapak tangan Gritav, “Gritav, terima kasih. Karena telah membantuku selama ini di sini,” ucapku kembali tersenyum menatapnya.


“Sudah menjadi kewajibanku, Hime-Sama,” ucapnya menggerakan kepalannya menunduk di depanku.


“Untukmu juga Arata, terima kasih … Untuk semua yang kau lakukan, untuk semua bantuan yang kau berikan padaku selama di sini.” ungkapku mengalihkan pandangan padanya, Arata lama menatapku sebelum kepalanya mengangguk sekali membalas perkataan yang aku katakan kepadanya.

__ADS_1


“Adofo,” aku kembali menggerakan kepalaku beralih menatapnya yang masih berdiri di samping Arata, “apa kau, telah memikirkan tawaran yang aku berikan kemarin?” Kali ini aku tersenyum menatapnya yang melihatku dengan kedua matanya yang sedikit membesar.


Adofo membungkukan tubuhnya diikuti sebelah tangannya yang bersilang di dadanya, “jika kau membutuhkan sebuah perisai, Hime-Sama. Jangan segan-segan untuk menggunakan tubuhku sebagai perisaimu dalam peperangan,” ucapnya sambil tetap membungkuk lama ke arahku.


__ADS_2