
Genggaman tanganku pada pakaian yang Haruki kenakan semakin menguat tatkala kuda yang kami tunggangi bertambah kecepatannya. Angin malam yang berembus, memberikan tubuhku sedikit kesejukan.
Kuarahkan kepalaku menatap ke belakang, tampak jelas terlihat mata Izumi yang bersinar bergerak mendekati. Bunyi derap langkah kaki kuda semakin jelas terdengar mengiringi langkah kami.
Niel menghentikan langkah kaki kudanya di depan jembatan, dia berteriak lantang meminta para penjaga untuk membukakan gerbang. Perlahan demi perlahan, gerbang Kastil yang ada di hadapan kami terbuka.
Niel menggerakkan kudanya melewati gerbang, diikuti Haruki yang juga menggerakkan kuda yang kami tunggangi. Pandangan mataku teralihkan pada situasi di Kastil yang terlihat hening dan damai seperti biasa.
Kuda yang kami tunggangi berhenti, kugerakkan tubuhku sesegera mungkin turun dari atas kuda tersebut. Aku bergerak mundur beberapa langkah tatkala kutatap Haruki yang juga ikut bergerak turun menyusul.
Kuikuti langkah kaki Haruki yang telah berjalan menyusul Niel. Kualihkan pandanganku pada Izumi berserta Eneas yang juga telah berjalan di sampingku. Langkah kaki kami semakin cepat bergerak menyusuri lorong-lorong Kastil.
"Yang Mulia," ucap seorang Kesatria membungkukkan tubuhnya saat matanya tak sengaja menatap kami yang berjalan menuju ke arahnya.
"Panggil semua Kesatria di Kastil. Pinta mereka berkumpul di ruang pertemuan sekarang!" Perintah Niel pada Kesatria tadi, berbalik Kesatria tadi berlari setelah menyanggupi perkataan Niel.
Kami semakin cepat berjalan, hampir berlari lebih tepatnya. Niel menghentikan langkah kakinya di sebuah pintu besar berdaun dua berselimut cat hitam, tanpa berkata-kata apapun, dua Kesatria yang berjaga langsung membukakan pintu tersebut untuk kami.
Niel melangkahkan kakinya dengan sigap saat pintu tersebut terbuka, kugerakkan kedua kakiku melangkah mengikutinya. Sebuah kursi singgasana berlapis emas terlihat kokoh di hadapan kami.
__ADS_1
Kuhentikan langkah kakiku mengikuti Haruki yang juga menghentikan langkah kakinya. Pandangan mataku masih menatap Niel yang berjalan semakin mendekati kursi tersebut lalu mendudukinya.
Lama kami berdiri di dalam ruangan, tak ada suara sedikitpun yang keluar di antara kami. Aku berbalik saat suara pintu terbuka mengagetkanku, berpuluh-puluh Kesatria masuk ke dalam ruangan lalu berbaris rapi di hadapan kami.
"Yang Mulia memanggil kami?" Ungkap Tem membungkukkan tubuhnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Karena itu, aku meminta kalian semua untuk berkumpul di sini," ucap Niel, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah beranjak melangkahkan kakinya mendekati kami.
"Tapi sebelum itu," sambungnya mengalihkan pandangannya menatapku.
Kulangkahkan kakiku maju ke depan membalas tatapan Niel sebelumnya seraya kugerakkan tangan kananku meraih suatu benda yang ada di dalam tas yang aku kenakan. Kuangkat tanganku dari dalam tas sembari kutatap botol putih kecil bertutup kain kuning yang tergeletak di atas telapak tanganku.
Masih kutatap mereka yang terlihat menatap satu sama lain kebingungan. Kulirik Niel yang juga melirik ke arahku, berdeham Niel beberapa kali seraya pandangannya kembali tertuju pada para Kesatria.
Kesatria yang berdiri paling kanan melangkahkan kakinya mendekati, ku pinta dia membuka telapak tangannya tatkala dia telah berdiri tegap di hadapanku. Kugerakkan tanganku membuka tutup botol tadi seraya kugerakkan botol tadi sedikit miring di atas telapak tangan Kesatria tadi hingga isi yang ada di dalamnya terbuka.
Kutatap sebutir biji padi kering yang jatuh di telapak tangan Kesatria tadi, sembari kuperintahkan dia untuk kembali ke barisannya. Seorang Kesatria kembali maju mendekati, kembali kuberikan sebutir biji padi kering padanya, hal itu terus kulakukan hingga semua Kesatria mendapatkannya.
"Kalian telah mendapatkan masing-masing sebutir biji padi kering yang aku berikan. Dan sekarang, aku pinta kepada kalian untuk meletakkan biji padi kering tadi ke atas lidah kalian," ucapku, tampak para Kesatria kembali memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Aku tidak meletakkan racun apapun pada biji padi tersebut. Jika kalian tidak percaya, lihatlah!" Sambungku, kugerakkan kembali botol tadi hingga sebutir biji padi kering kembali terjatuh.
Kuarahkan kedua jariku meraih biji padi tersebut sembari ku tunjukkan ke arah mereka yang masih menatapku. Kuarahkan biji padi tadi ke dalam mulutku lalu menelannya.
"Lihat! Aku baik-baik saja bukan? Jadi cepat lakukan apa yang aku pinta," ungkapku kembali menatap tajam ke arah mereka.
Haruki, Izumi, Daisuke dan Eneas berjalan melewati, mereka berempat berjalan berpencar mengelilingi Kesatria-kesatria tadi. Masih kutatap para Kesatria tadi yang satu-persatu mulai melakukan apa yang aku perintahkan.
"Apa kalian telah melakukannya? Jangan berbicara, hanya anggukan saja kepala kalian," ucapku yang dibalas oleh anggukan mereka.
"Baiklah, kalau seperti itu. Kau bisa melanjutkannya, Niel," ucapku melirik padanya.
Niel kembali maju beberapa langkah, para Kesatria tadi diam menatapnya yang masih tertunduk tanpa bersuara. Masih kutatap Niel yang tengah menarik kuat napasnya lalu diembuskannya beberapa kali dengan sangat kuat.
"Aku ingin kalian menjawab satu-persatu pertanyaanku. Jika aku menemukan diantara kalian ada pengkhianat,aku takkan segan-segan mengeksekusi kalian saat ini juga," ucapnya seraya diangkatnya kepalanya menatapi para Kesatria yang ada di hadapannya.
"Jangan mengatakan sepatah katapun, hanya diam! Kalian baru boleh berbicara saat Niel mengajukan pertanyaan kepada kalian satu-persatu," ucapku dengan nada tinggi berusaha menghentikan mereka.
Pandangan mereka semua terarah padaku, kubalas tatapan tersebut bergantian satu persatu. Mereka kembali mengarahkan tatapan pada Niel yang masih terdiam beberapa saat...
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kita dapat memulai tanya jawabnya?" Ucap Niel mengarahkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menatapi Kesatria tersebut bergantian.