Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXXVII


__ADS_3

Haruki menarik tanganku hingga kami berdiri berdampingan memunggungi sebuah pohon besar. Aku melirik ke kiri, ke arah Eneas yang berdiri di samping Eneas, tengah menyembunyikan diri di balik pohon yang tak terlalu jauh dari kami. Aku mengangkat kepalaku, dengan sesekali menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak karena sebelumnya berlari tak kunjung berhenti.


“Apa kita sekarang telah aman?” tanyaku tersengal dengan melirik ke arah Haruki.


Haruki melepaskan genggaman tangannya padaku sembari meletakkan lengan kirinya itu ke atas kepalaku, “sepertinya, lagi pun … Kita sudah cukup berlari,” jawab Haruki dengan kepalanya yang bergerak, berusaha memastikan keadaan sekitar.


Aku menghela napas dengan membuang pandangan ke sekitar, kadang-kadang saat aku memejamkan mata. Suara-suara hewan yang ada di dalam hutan, mengalir masuk ke dalam telingaku. Aku turut berjalan mengikuti Haruki yang telah berjalan mendekati Izumi, dengan pandangan mata melirik ke arah Fabian yang memanggul Alana di pundaknya dengan tiga orang laki-laki lainnya yang berjalan di depan mereka berdua.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Aku mengalihkan lirikan ke arah Izumi yang berbicara.


“Kenapa kita harus melarikan diri? Kita bisa saja melawan mereka semua-”


“Tutup mulutmu itu!” ujar Izumi yang dengan cepat memotong perkataan Lucio, kakaknya Fabian yang memiliki mata berwarna biru.


“Kita tidak tahu, senjata apa yang mereka gunakan. Kita juga tidak tahu, seberapa banyak yang harus kita lawan. Melakukan hal tersebut tanpa berpikir panjang, sama saja membunuh diri sendiri. Setidaknya, gunakan akal kalian sebagai seorang Bangsawan!” tukas Izumi yang membuat mereka tak lagi mengeluarkan sepatah kata pun.


“Baiklah. Jadi, katakan saja apa yang harus kami lakukan?” tukas Vartan yang membuat pandanganku teralih kepadanya.


“Aku menyerahkan hal ini kepada Adikku, Sachi,” timpal Izumi dengan melirik ke arahku.


“Aku?” sahutku yang dibalas anggukan kepala Izumi, “aku bahkan tidak tahu apa yang harus kita lakukan,” sambungku, aku sedikit mundur ke belakang ketika Izumi tersenyum dengan berjalan mendekati.


“Adikku yang mengagumkan,” tukas Izumi diikuti tangan kanannya yang bergerak memegang pundak kiriku, “jangan bermain-main di saat seperti ini. Nyawa kita menjadi taruhannya, apa kau lupa?” Aku melirik ke arah tangannya Izumi tadi yang semakin kuat mencengkeram pundakku.


Aku menghela napas sambil membuang pandangan, “aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Lebih dari itu, aku belum mempercayai mereka … Aku belum mempercayai, jika mereka dapat melakukan apa yang aku pinta,” tukasku, Izumi melepaskan cengkeramannya di pundakku ketika aku telah selesai mengatakannya.


“Apa kau, benar-benar bisa diandalkan? Seperti yang mereka maksudkan?”


Aku melirik ke arah Vartan yang telah menatapku, “entahlah. Aku bukanlah Deus yang dapat menjamin semuanya, mungkin rencana yang akan aku katakan justru membunuh kita semua secara bersamaan,” balasku yang kembali membuang pandangan darinya.


“Aku, hanya ingin mengalahkan kakakku-”


“Aku tahu,” ungkapku yang dengan cepat memotong perkataannya.


Aku kembali menghela napas sambil menoleh ke arahnya, “aku paham benar, sikap kekanakan … Ingin mencari perhatian yang kau lakukan. Aku, hanya sedikit kesal, karena tiap melihatnya mengingatkan aku dengan kehidupan yang ingin aku lupakan.”

__ADS_1


Napasku kembali berembus, lebih berat dari biasanya, “yang aku katakan ini, tidak ada hubungannya dengan kalian berdua, nii-chan,” sambungku, Izumi yang semula menundukkan kepalanya, kembali mengangkat kepalanya itu, diikuti telapak tangannya yang mengusap rambutku.


“Lupakan dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Sebelum kita melanjutkan perjalanan, setidaknya beritahukan padaku! Apa tujuan kalian datang ke sini?”


“Aku, ingin mengetahui, kehidupan para suku yang berdiam di sini,” ucapan Haruki yang terdengar, tampak ditimpali oleh anggukan kepala dari Fabian.


“Dan kalian, apa yang ingin kalian lakukan?” tanyaku dengan melemparkan pandangan ke arah mereka berempat.


“Kami berdua, hanya ingin menemani teman kami, Pangeran Vartan.”


“Aku, telah mengatakan tujuanku,” sahut Vartan, menimpali perkataan laki-laki bernama Gael itu.


“Dan kau, apa yang ingin kau lakukan di sini?” Kali ini tatapan mataku beralih kepada Alana yang masih dirangkul oleh Fabian.


“Saya, hanya ingin menjaga adik bungsu kami.”


“Maksudmu, menjaganya?” tukasku dengan masih menatapnya yang menundukkan pandangan diikuti jari telunjukku bergerak menunjuk ke arah Pangeran Vartan.


Alana menganggukkan kepalanya tanpa mengangkat sedikit pun tatapannya, “dia pewaris tahta yang sah menurut ramalan. Jadi membiarkannya terluka, sangatlah tidak benar,” sambung Alana dengan masih tertunduk.


Aku mengalihkan pandangan ke arah Vartan, dia menoleh ke arah kanan dan kiri ketika mataku itu memicing kembali ke arahnya. “Nii-chan, aku ingin kita beristirahat di sini sejenak. Dan juga, wahai kau, Pangeran Vartan,” ungkapku yang berjalan lalu berhenti di depannya.


Aku berjalan dengan melirik ke arah bayangannya yang berjalan mengikutiku, “jadi, kau seorang Putra Mahkota Kerajaan Robson?” tanyaku dengan berbalik menatapnya.


“Jadi, Putra Mahkota … Apa kau bisa memberitahukanku sesuatu?” sambungku ketika langkahku berhenti di depannya.


“Sikapmu berubah setelah mengetahui bahwa aku seorang Putra Mahkota?” Aku tersenyum menimpali perkataannya.


“Entahlah. Jadi Yang Mulia, apa kita bisa bertukar sesuatu? Ada sesuatu yang ingin aku ketahui,” tukasku dengan merendahkan suara, sehingga hampir terdengar seperti berbisik.


“Apa yang ingin kau ketahui? Dan apa yang bisa aku dapatkan?” tanyanya, aku berusaha tersenyum saat jarinya mengangkat daguku.


“Apa kau, tidak merasa jengkel akan apa yang aku perbuat kepadamu sebelumnya, Yang Mulia?” suara yang aku keluarkan semakin berbisik, hingga deruan napasnya semakin terasa jelas menyentuh kulitku.


“Baru kali ini untukku, mendapatkan perlakuan seperti itu, terutama dari seorang perempuan. Jadi aku, tidak terlalu mempermasalahkannya-”

__ADS_1


Mataku sedikit menyipit, aku mengangkat tanganku menahan bibirnya yang hendak menciumku saat dia memejamkan matanya. “Yang Mulia, aku tidak ingin kakakku melihat apa yang kita lakukan,” ungkapku yang berjalan mundur dengan membuang pandangan darinya.


“Kenapa kau harus malu? Kau tidak terlihat seperti seorang Putri yang tidak mengetahui apa yang ingin aku lakukan tadi.”


Aku menundukkan kepala dengan mengangkat kedua tangan menyentuh pipi, “aku memanglah sering melihat pasangan yang melakukan hal tersebut sepanjang perjalanan. Namun, melakukannya secara langsung? Aku seorang Putri, aku ingin melakukan hal tersebut dengan laki-laki yang tepat.”


Aku mengangkat kembali kepalaku dengan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, “aku takut kakakku curiga jika kita pergi terlalu lama. Yang Mulia, kumohon,” tukasku memberikan tatapan memohon ke arahnya diikuti bibirku yang kugigit pelan.


"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Ini bukan pertanyaan yang penting, tapi apa benar? Jika dulu, Luana selalu dikucilkan karena isu pertunangan dia dan Kakakku?"


"Untuk apa kau mengetahui hal itu?"


"Aku hanya penasaran, karena tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka. Aku ingin, Kakakku segera menemukan pendamping yang baru."


"Hal itu benar, aku sempat mendengarnya saat kecil. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, jadi tepati janjimu!"


"Ada lagi yang ingin aku tanyakan. Itu bohong, bukan? Apa yang kakakmu katakan itu, benar? Jika kau membutuhkan dia untuk menjagamu."


"Kami mengajaknya karena dia tak sengaja mendengar rencana kami. Jika dia mengadukan hal tersebut kepada Ayah, kami tidak bisa pergi."


"Tapi dia hanyalah perempuan-"


"Kakakku, maksudku Pangeran pertama, telah menyelamatkannya dari eksekusi saat suaminya meninggalkannya dulu. Jadi-"


"Aku mengerti," ucapku yang berjalan dengan menggenggam tangannya, "kau pasti lelah menghadapi mereka, bukan?"


"Kenapa? Aku membicarakan sesuatu yang tak seharusnya aku bicarakan kepadamu?"


Aku tersenyum dengan menepuk-nepuk pelan dadanya, "entahlah. Aku pun, ikut merasakan hal yang sama ... Kenapa, aku bertingkah di depanmu dengan tingkah yang seharusnya tak aku tunjukkan pada orang asing?"


"Aku, akan menepati janjiku tersebut. Tapi, tidak sekarang ... Aku ingin membuatmu semakin kagum kepadaku terlebih dahulu, Yang Mulia. Jadi, berikan aku sedikit waktu untuk membuktikannya," tukasku sambil berjalan menyamping melewatinya.


"Tapi satu hal yang pasti, beberapa saat yang lalu, kau terlihat jantan dan gagah sekali di mataku, Yang Mulia," tukasku, aku berbalik dengan berjalan meninggalkannya saat sebelumnya tersenyum manis kepadanya.

__ADS_1


Apa dia ingin mempermainkan Kakakku? Apa dia pikir dapat mengelabui instingku? Aku tidak pernah mempermasalahkan kalau Kakakku ingin berhubungan dengan siapa pun sebelumnya. Namun sekarang, aku tidak akan membiarkan Kakakku jatuh ke dalam rayuan berpura-pura polos yang ia lakukan.


Aku sudah melakukan hal itu sejak bayi. Apa dia pikir, dapat mengalahkanku dari hal tersebut? Aku benar-benar, akan memberikan pelajaran yang sangat berarti untuknya.


__ADS_2