
Kedua tanganku bergerak mengusap lengan kiri Haruki menggunakan kain putih yang telah dibasahi air, “kemungkinan dia akan demam, jika Haruki dapat melewatinya … Dia akan baik-baik saja,” ucap Lux, aku sedikit melirik ke arahnya yang tengah terbang mendekat dengan Eneas yang berjalan di belakangnya.
Aku menoleh ke arah Eneas yang telah menghentikan langkah kakinya di sampingku, “untuk Haru nii-san,” ucap Eneas mengarahkan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa padaku, “apa aku harus memberikannya dalam satu waktu atau...”
“Hanya berikan ketika dia demam, pastikan kau meminumkan ramuan tersebut padanya hingga habis,” ucapan Lux menghentikan perkataanku.
Aku menunduk menatap ramuan obat yang memenuhi mangkuk tersebut, “aku mengerti,” ucapku beranjak lalu berjalan mendekati meja kecil yang ada di dekat pintu masuk kamar.
Mangkuk yang ada di tanganku, kuletakan di atas meja kecil tadi. Aku kembali berbalik melangkahkan kaki mendekati Haruki yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang, “aku akan menjaganya. Kalian dapat beristirahat,” ucapku menatap Lux dan juga Eneas bergantian.
“Bagaimana denganmu sendiri?” Lux balik bertanya, kuarahkan pandangan mataku menatapnya, “aku akan beristirahat setelah kalian beristirahat,” ucapku tersenyum menatapnya.
“Kami mengerti, kami akan beristirahat di depan kamar. Panggil kami jika terjadi sesuatu,” sambung Lux terbang melewatiku.
Aku kembali duduk di sisi ranjang, kutatap Eneas yang masih tertunduk berdiri, “kau kenapa Eneas? Apa terjadi sesuatu?” Eneas mengangkat kepalanya menatap ke arahku, “jangan terlalu memaksakan dirimu nee-chan,” ucapnya menatapku, kubalas tatapannya itu dengan sebuah senyuman kecil yang aku lakukan.
“Aku tidak memaksakan diri, dan juga Eneas … Tolong sampaikan pada Izu nii-chan, berikan buah-buahan kering yang ada di dalam tas pada Cia, serta madu untuk Uki,” ucapku meraih lalu mengenggam kuat tangan kirinya.
“Aku mengerti nee-chan,” ucapnya tersenyum menatapku, Eneas berjalan meninggalkan kamar saat aku melepaskan genggaman tanganku padanya.
__ADS_1
Aku menunduk, meraih mangkuk berisi kain putih dan juga air yang masih tergeletak di ranjang. Tubuhku kembali beranjak berdiri lalu berjalan dengan membawa mangkuk tadi di tanganku, kuletakan mangkuk yang ada di tanganku tadi di samping mangkuk berisi ramuan obat yang dibuat Lux dan juga Eneas sebelumnya.
Aku kembali berjalan mendekati ranjang, kugerakan kedua tanganku meraih selimut yang ada di ujung kaki Haruki, kubuka lipatan kain selimut tadi lalu kuarahkan selimut tadi hingga menutupi setengah bagian tubuh Haruki. Aku duduk di pinggir ranjang beralaskan jerami kering itu, kugerakan tubuhku bersandar di kepala ranjang seraya mataku masih tertuju ke arah bekas-bekas luka yang memenuhi tubuh Kakakku itu.
Aku sedikit beranjak, kutarik sedikit kain selimut tadi hingga menutupi perutnya yang tak tertutupi kain sehelai pun sebelumnya. “Bagaimana keadaannya?” Suara Izumi yang terdengar mengalihkan pandanganku.
“Lux mengatakan, kemungkinan Haru-nii akan demam, tapi selebihnya ... Dia akan baik-baik saja,” ucapku menatapnya yang juga telah duduk di samping ranjang menatapi Haruki.
Izumi menggerakan tangannya meraih selimut yang menutupi perut Haruki, lalu menarik selimut tadi hingga menutupi dadanya, “dia selalu memaksakan dirinya sejak kecil. Aku, sudah tidak bisa menghitungnya … Sudah berapa kali dia tak sadarkan diri karena racun,” ucap Izumi kembali menarik tangannya dari selimut tadi.
“Nii-chan, sejak kapan? Sejak kapan kalian mulai melakukannya?” Izumi mengangkat kepalanya, lalu tersenyum menatapku, “aku kurang mengetahuinya jika itu Haruki, akan tetapi … Aku telah mulai belajar mengonsumsi racun sejak kau masih bayi. Awalnya, aku hanya mengonsumsi racun yang hanya membuat perutku sakit,” Izumi tertunduk menghentikan perkataannya, “aku bahkan lupa, berapa kali aku harus bolak-balik dari kamar mandi karenanya,” ucapnya kembali diikuti tawa kecil yang ia keluarkan.
“Saat Haruki kecil, dia hampir mati diracun oleh Mari dan juga pelayannya. Sebelum kau lahir, Mari satu-satunya Putri yang ada di Istana. Aku tidak terlalu mengerti benar apa yang terjadi, karena saat itu juga aku belumlah lahir sama sepertimu. Yang aku tahu hanya, dulu … Ayah memperkerjakan banyak sekali pelayan perempuan untuk melayani Mari. Lalu Mari memerintah beberapa pelayannya itu untuk meracuni Haruki yang terkurung di dalam Istananya yang gelap itu, Haruki bisa selamat berkat Tatsuya yang segera tanggap menolongnya. Sejak saat itu, dia meminta Tatsuya untuk membuatnya kuat dari racun, dan sejak saat itu juga … Haruki berhenti mempercayai seseorang kecuali Tatsuya.”
“Kenapa Tatsuya menceritakan hal ini padamu nii-chan?" Aku balik bertanya padanya, “karena hubunganku dengan Haruki sangatlah buruk saat kecil. Tatsuya memohon padaku untuk tidak membenci Pangeran yang ia layani, dia menceritakannya agar aku dapat menyelamatkan Haruki dari semua yang ia khawatirkan," jawab Izumi, dia tertunduk dengan menggigit kuat bibirnya.
“Aku iri padanya karena dia mendapatkan semua kasih sayang dari Ibu, dan Haruki sendiri iri kepadaku karena dia mengira aku mendapatkan semua yang harusnya dia dapatkan. Bayangkan, jika hubungan di antara kami dulu berlanjut hingga sekarang … Mungkin kami tidak bisa melindungimu seperti sekarang, Sachi,” ucapnya kembali diiringi helaan napas yang ia keluarkan.
“Lalu, bagaimana dengan Mari? Apa yang terjadi padanya setelah itu?”
__ADS_1
Izumi kembali mengangkat wajahnya menatapku, “Ayah mengeksekusi semua pelayan perempuan yang melayaninya. Karena itulah, sampai sekarang tidak ada pelayan perempuan di Istana kita, Tatsuya mengatakan jika Ayah khawatir jika dia kembali memperkerjakan pelayan perempuan, pelayan-pelayan tersebut akan iri oleh hasutan Mari lalu kembali membahayakan Haruki, jadi Ayah mengangkat Pamannya Mari sebagai pelayan sekaligus pengawal untuknya,” ucap Izumi dengan sedikit menggaruk rambut di kepalanya.
“Sedangkan Mari sendiri, dia mendapat pengampunan dari Ayah. Tatsuya mengatakan, jika Mari memohon ampun pada Ayah dengan mengatakan jika dia iri kepada Haruki karena Ayah lebih memperhatikan Haruki semenjak dia lahir, seperti itu kira-kira yang aku ingat,” ucapnya dengan menggerakan kedua tangannya memijat-mijat kaki Haruki yang dibalut selimut itu.
“Aku, tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti itu,” ucapku tertunduk, kembali kuarahkan pandanganku menatap Haruki yang masih lelap tertidur.
Aku mengangkat tanganku meraih rambut Haruki yang menutupi keningnya itu lalu kuusap rambutnya tadi ke atas hingga keningnya itu terlihat, “apa kau ingin mengetahui kebenaran yang sangat disimpan rapat oleh Ayah?” Perkataan Izumi mengalihkan pandanganku.
“Apa kau ingat? Saat kau berlutut di hadapan Ayah, yang di mana kau mengatakan jika kau tidak ingin berakhir seperti Mari?” Aku mengangguk membalas perkataan Izumi tersebut, “sebenarnya, Mari dieksekusi bukanlah karena pertunangannya, usianya bahkan belum cukup saat itu. Mari dieksekusi karena perintah langsung dari Ayah,” ucap Izumi tersenyum menatapku.
“Apa yang kau katakan nii-chan?” Aku balik bertanya padanya, “sebenarnya, Ayah meminta semua orang yang mengetahui hal ini untuk menutup mulut mereka, tapi aku pikir … Aku tidak perlu menutup hal ini darimu,” ucap Izumi kembali mengangkat kepalanya menatapku.
“Ayah sangat mencintai anak-anaknya, apa kau pikir Ayah akan berdiam diri melihat anaknya dieksekusi di depan matanya sendiri?” Aku menggeleng kuat membalas perkataanya, “saat usiamu hampir menginjak satu tahun, Mari dan pamannya berencana untuk membunuhmu. Karena itulah,” ucapan Izumi terhenti, aku sedikit bergerak mendekatinya saat dia menggerakan jari telunjuknya ke arahku.
Izumi mendekati wajahnya ke arahku, “Ayah memerintahkan Kesatrianya secara diam-diam untuk membunuh tunangannya Mari, jadi … Mari dieksekusi karena tunangannya kehilangan nyawanya sebelum pernikahan mereka,” bisik Izumi pelan padaku.
“Aku sangat bersyukur rencana yang mereka lakukan gagal, walaupun butuh waktu lama untuk kami menunggumu bangun kembali oleh ramuan yang mereka berikan. Tsubaru bahkan bercerita kepada Tsutomu, jika dia ingin sekali menangis karena melihatmu bangun kembali, jika saja saat itu bukanlah hari di mana Mari dieksekusi.”
“Aku bahkan saat itu ingin sekali melompat langsung dari atas kursi lalu mengambilmu dari gendongan Tsubaru, saat aku melihatnya telah mengendongmu menyaksikan proses eksekusi,” Izumi mengangkat telapak tangannya menyentuh pipiku, “terima kasih, karena telah kembali lagi kepada kami, Adikku,” sambungnya kembali tersenyum menatapku.
__ADS_1