
Kubuka kedua kelopak mataku yang saling menempel erat, beranjak aku duduk. Tampak Haruki, Izumi dan juga Lux masih tertidur lelap. Merangkak aku keluar dari dalam tenda seraya berniat untuk tak membangunkan mereka...
Dinginnya udara pagi menusuk tulangku, bahkan lebih dingin ketika aku berada di Istana. Kabut putih tipis mengelilingi setiap penjuru layaknya sebuah selimut yang menyelimuti tubuh, kutatap semua orang yang masih tampak lelap tertidur, ada yang berbaring bahkan ada yang tidur dengan posisi duduk seraya berjaga...
Kudekati Tsubaru yang tampak duduk tertidur di samping tenda kami, duduk aku disebelahnya....
"Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini akan berdampak baik atau buruk untuk semua orang..."ucapku dalam hati seraya memeluk kedua lututku
"Putri?" ucap Tsubaru yang terbangun
"Apa yang kau lakukan disini?" ucapnya menatapku
"Aku haus, Tsubaru.." tukasku berbohong
"Aku akan memanaskan susu untukmu, tunggulah sebentar" ucapnya seraya beranjak berdiri
"Aku mengerti" tukasku seraya menganggukkan kepala
"Apa yang kau lakukan disini, Sachi?" ucap Lux tiba-tiba terbang menujuku
"Menunggu Tsubaru memanaskan susu untukku" ucapku seraya mengambil semua rambutku dan meletakkannya di bahu sebelah kananku
"Begitukah?" ungkapnya seraya terbang dan duduk di bahu sebelah kiriku
"Sachi, kau kemarin berkata padaku bukan? Kalau perempuan di dunia manusia di diskriminasi" ucapnya yang kubalas dengan anggukan kepala
"Apa itu diskriminasi?" tanyanya
"Seperti dibeda-bedakan" tukasku
"Bagaimana aku menjelaskannya... Saat kami para perempuan berusia empat tahun, kami akan ditunangkan dengan seseorang yang tidak kami kenal. Dan saat usia kami menginjak tujuh belas tahun, jika tunangan kami tidak mau menikahi kami, maka kami akan kehilangan nyawa kami..."
"Peraturan macam apa itu?" teriak Lux
__ADS_1
"Peraturan yang bodoh bukan? Kakakku Takaoka Mari, kehilangan kepalanya dan hidupnya karena peraturan bodoh itu."
"Ayahku terlihat sangat menderita karena peraturan bodoh yang diciptakan Kaisar itu, karena itulah aku tidak berniat membuat Ayahku mengalami kepahitan yang sama dua kali karena kehilanganku..."
"Dan beruntungnya aku, punya dua kakak yang mengerti tentang kekhawatiran ku.." ucapku seraya tersenyum ke arah Lux
"Putri, aku membawakan susu hangat untukmu.." tukas Tsubaru berjalan kearahku dengan secangkir susu ditangannya
"Terima kasih" ucapku seraya meraih susu yang ada di tangannya
"Kau mau?" ucapku seraya melirik ke bahu kiriku
"Peri hanya mengonsumsi tumbuhan, kami dilarang memakan semua yang berasal dari hewan.."
"Begitukah? Sayang sekali" ucapku seraya menyeruput susu hangat yang ada di tanganku
Berpuluh-puluh bayangan tiba-tiba terlihat bergerak dari dalam kabut, Tsubaru berdiri membelakangi ku seraya memegang dua buah pisau di tangan kanan dan kirinya, pisau yang aku sendiripun tidak tahu darimana asalnya...
Tsubaru menendang-nendang kecil kakinya ke tanah, Tatsuya dan Tsutomu yang semula tertidur langsung terbangun dan berdiri di depan tenda tempat aku dan kakakku tidur sebelumnya dengan sebuah pedang di masing-masing tangan mereka...
Haruki dan Izumi keluar dari dalam tenda, berdiri mereka di belakang Tatsuya dan Tsutomu. Para Ksatria yang semula tertidur, ikut terbangun karena kebisingan yang kami buat.
Para Ksatria berdiri berbaris membelakangi kami dengan pedang dan busur panah di tangan-tangan mereka. Bayangan yang berada di dalam kabut semakin lama semakin mendekati kami....
"Yang Mulia..." ucap seorang warga desa muncul dari dalam kabut dengan tangan ke atas yang diikuti oleh warga yang lainnya
"Kami telah melakukan apa yang kalian perintahkan. Kami mohon, bantulah kami..." ucap seorang pria tua seraya bersujud yang diikuti oleh warga lainnya
"(menghela nafas) baiklah…"
"Turunkan senjata kalian..." sambung Haruki
Berjalan kami mengikuti warga yang menuntun kami kembali ke desa mereka, dibawanya lah kami oleh mereka ke sebuah pertanahan luas yang dipenuhi pohon-pohon Jeruk. Berjalan aku menuju salah satu pohon seraya memetik satu buah Jeruk yang tergantung di rantingnya, kukupas dan kuambil sepotong buah Jeruk itu seraya kumasukkan ke mulutku...
__ADS_1
"Ini asam sekali..." ucapku dalam hati seraya menahan rasa asam yang menjalar di lidahku
"Kau ingin mencobanya.." tukasku sembari mengambil sepotong lagi buah Jeruk dan memberikannya pada Lux
"Kau yakin bisa mengolahnya.." ucap Lux seraya menahan rasa asam setelah memakan buah Jeruk yang aku berikan tadi
"Semuanya, bantu aku untuk memetik Jeruk-jeruk lalu cuci hingga bersih..." ucapku seraya menatap mereka yang berdiri di belakangku
"Apa yang kau rencanakan, Putri?" ucap salah satu tetua desa
"Aku akan mengajari kalian cara mengolah Jeruk-jeruk ini menjadi makanan manis bernilai jual tinggi, hanya dengan tiga syarat..." tukasku
"Yang pertama, kalian harus mendengarkan semua perkataan ku selama proses pengolahan. Syarat kedua dan ketiga, Kakakku Pangeran Takaoka Haruki lah yang akan menjelaskannya.."
"Syarat kedua, pengolahan yang akan diajarkan Putri Sachi kepada kalian nanti, akan menjadi rahasia diantara pihak Kerajaan dan juga desa kalian, kalian harus melakukan apapun untuk tidak membiarkan rahasia ini keluar dari desa kalian apapun yang terjadi.."
"Syarat ketiga, Kerajaan akan memberikan kalian modal usaha awal untuk menjalankan nya, semua hasil penjualan akan menjadi hak kalian. Kalian hanya perlu membayar pajak kepada Kerajaan dengan besar nilai yang sama seperti yang kami tetapkan pada desa lain yang sudah menjadi wilayah kekuasaan kami sebelumnya..."
"Jika kalian setuju, kita akan menandatangani perjanjian kontrak. Akan tetapi..."
"Jika kalian mengkhianati kami, desa kalian akan musnah. Bukan dalam satu malam, melainkan hanya dalam hitungan satu botol jam pasir. Apa kalian mengerti?" ucap Haruki dengan tatapan tajam ke arah penduduk
"Kami mengerti, Yang Mulia.." ucap mereka serempak ketakutan
"Aku ingin Kepala Desa mengikuti ku untuk menandatangani perjanjian, sisanya lakukan seperti apa yang diperintahkan Putri Sachi" tukas Haruki seraya berjalan menjauh yang diikuti oleh Tatsuya dan seorang pria paruh baya
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, bantu aku memetik dan mencuci bersih jeruk-jeruk itu" tukasku
"Baik, Putri..." ucap mereka serempak
Berdiri aku disamping Izumi, lengkap dengan Tsubaru dan Tsutomu di belakang kami. Lux sendiri kembali aku sembunyikan di sela-sela rambutku yang sengaja kugerai...
Semuanya tampak sibuk melakukan apa yang aku perintahkan, beberapa Ksatria sendiri tampak berjalan bolak-balik membawa berkarung-karung gula dan makanan pokok yang sudah kami siapkan dari istana sebelumnya untuk penduduk desa...
__ADS_1
Para wanita sendiri, aku pinta untuk memasakkan kami makanan dengan bahan-bahan yang sudah kami bawa untuk mereka. Para anak-anak baik laki-laki maupun perempuan tampak ikut membantu orang dewasa tanpa dipinta...
"Inilah dunia yang aku impikan, Tuhan. Dunia dimana mereka bisa saling mengulurkan tangan tanpa ada rasa takut" bathinku seraya menatap mereka