Fake Princess

Fake Princess
Chapter DIII


__ADS_3

Kedua tanganku menggenggam kuat tali kekang kuda yang aku tunggangi. Masih kutatap Tatsuya dan juga Tsutomu yang tengah berbicara dengan beberapa Kesatria yang berjaga di perbatasan, “Putri, apa Putri baik-baik saja?” Aku menoleh ke samping saat suara Tsubaru kembali terdengar.


Aku menggeleng pelan menatapnya, “aku baik-baik saja,” ucapku dengan kembali membuang pandangan ke depan.


“Tsu nii-chan, sebenarnya apa yang kita lakukan di sini? Apakah kita akan berlayar?” tanyaku sembari menoleh ke arahnya.


Tsubaru menganggukkan kepalanya, “kita akan berlayar menggunakan kapal pedagang. Dengan berlayar, kita akan lebih memotong waktu perjalanan dibanding berkuda ke sana, dan juga … Dengan menumpang kapal pedagang, keberadaan kita ke sana tidak akan terlalu dicurigai,” jawab Tsubaru yang terdengar di samping.


“Kalian telah memikirkan hal ini dengan sangat matang, seperti yang diharapkan dari para wakil kapten,” ucapku yang berbalik lalu tersenyum menatapnya.


Kugerakkan kudaku semakin berjalan ke depan lalu berhenti tepat di samping kuda Izumi. “Bagaimana, apa ada kabar dari mereka?” Aku sedikit menoleh ke samping kiri, berusaha menatap Haruki yang juga menunggangi kudanya di samping Izumi.


“Kapal pedagang yang akan singgah, kemungkinan baru datang besok pagi. Jadi sembari menunggu, bagaimana jika kita mencari penginapan yang ada di sekitar sini, Yang Mulia,” tukas Tatsuya, kuda yang ia tunggangi berhenti melangkah di depan kami.


“Baiklah, segera cari penginapan di sekitar untuk kita tinggali!” perintah Haruki yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Tatsuya.


Aku menggerakkan kuda yang aku naiki berbelok ke samping, kudaku itu terus berjalan dan terus berjalan mendekati bibir pantai. Kuhentikan kudaku itu sembari aku bergerak turun dari atas punggungnya, kedua kakiku terus melangkah … Sapuan ombak yang bergerak ke tepian pantai, dengan sekejap sudah membasahi sepatu yang aku kenakan.

__ADS_1


Aku mengangkat kepalaku, menatap langit biru yang tercetak bersama awan … Aku menarik napas lama, lalu kuembuskan kembali saat lengan kananku bergerak menutup mata. “Ada apa?” Suara Izumi yang terdengar dari arah belakang membuatku menurunkan kembali lengan kananku.


Aku menoleh ke belakang, ke arah Izumi yang telah berdiri di belakangku. “Haruki telah meminta mereka semua untuk meninggalkan kita berdua, ada apa?” tanya Izumi lagi sambil terus melangkah mendekati.


“Tidak terjadi apa pun, nii-chan,” ucapku sembari kembali menatapi laut.


Aku kembali mengangkat kembali pandanganku saat tiba-tiba tubuh Izumi telah berdiri membelakangi, “jika kau ingin menangis,” ucapnya sambil menepuk belakang pundaknya tanpa menoleh.


Aku berjalan lalu meletakkan keningku menempel di belakang pundaknya, “nii-chan, aku bermimpi buruk … Semua perjuangan kita berakhir sia-sia, satu per satu dari kita merenggang nyawa. Aku, takut jika itu benar-benar menjadi kenyataan,” ungkapku, aku memejamkan mataku saat suara semilir angin bercampur deburan ombak mengalir masuk ke telinga.


Aku kembali mengangkat wajah menatap tengkuk Izumi yang masih membelakangi. “Jika aku dapat memilih, aku akan mengajak kalian untuk tinggal di mana … Kita tidak perlu lagi untuk berurusan dengan Kaisar.”


“Tapi,” ucap Izumi lagi yang dengan cepat menimpali perkataannya sendiri, “selama berkelana, membuatku banyak sekali belajar … Aku belajar, jika banyak yang lebih kurang beruntung dibandingkan aku. Bahkan, selama perjalanan pun, kita tidak terlalu kesulitan … Walaupun uang yang kita miliki habis, walaupun yang tertinggal hanya pakaian di tubuh, kita masih bisa mendapatkannya dengan hanya pulang mengandalkan Kou ke rumah,” sambung Izumi diikuti helaan napas yang ia keluarkan.


“Kita mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi pada dunia ini, dan kita menutup mata akan semua itu lalu lari hanya untuk menyelamatkan diri sendiri … Aku, tidak akan melakukannya. Jika harus mati, ya sudah mati … Walau, mungkin kematian kita akan meninggalkan luka bagi mereka yang menganggap kita berharga.”


“Akan tetapi, mengetahui banyak orang yang akan mati dan kita hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun … Aku, tidak ingin hidup dalam penyesalan seperti itu. Apa di dalam mimpimu, aku mati terlebih dahulu dibanding yang lain atau tidak?”

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau tidak ingin menjawabnya?” tanya Izumi lagi diikuti tubuhnya yang berbalik menatapku.


Aku menunduk dengan mengusap kedua mataku yang sudah sangat basah. “Jadi aku yang mati terlebih dahulu, ya?” ucap Izumi yang membuatku kembali mengangkat wajah menatapnya, “baguslah, itu lebih baik dibanding harus melihat kalian merenggang nyawa sebelum aku,” ucapnya yang mengukir senyum menatapku.


“Nii-chan,” tangisku pecah sambil berjalan dengan memeluk kuat tubuhnya, “jangan buat mimpi itu menjadi nyata. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian … Lebih baik aku melihat tubuhku sendiri yang mati, dibanding … Dibanding melihat kalian semua yang menjadi korban. Aku takut, aku takut … Tapi aku tidak bisa menunjukkan rasa takutnya, ada yang akan hancur jika aku melakukannya. Apa yang harus aku lakukan, nii-chan?” tangisku lagi sambil semakin membenamkan wajahku di pundaknya.


“Hanya lakukan saja seperti biasa, bergantunglah kepada Kakak-kakakmu. Jangan menangis, kau membuatku semakin khawatir,” ucapnya, dia memeluk kuat tubuhku diikuti usapan pelan beberapa kali yang menyentuh belakang kepalaku.


“Lalu aku? Di urutan keberapa, aku akan mati?”


Aku mengangkat wajah lalu menoleh ke samping, menatap Haruki yang telah berdiri dengan pandangan matanya yang masih menatap lurus ke depan. Haruki menoleh ke arah kami, “aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku pun tidak akan memaksamu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Haruki, dia mengangkat ibu jarinya mengusap mataku.


“Akan tetapi, sama seperti yang Izumi katakan … Hidup dalam penyesalan, justru akan membuatku semakin tersiksa, Aku sudah merasakannya, dan aku tidak ingin menanggungnya lebih lama lagi,” ucap Haruki yang kembali membuang pandangannya ke depan.


“Kenapa kita lebih takut pada kematian yang belum tentu terjadi, padahal semakin lama kita hidup … Semakin berkurang juga waktu kita untuk hidup di dunia ini, bukan? Mati sekarang atau mati nanti sama saja, yang membedakan hanya … Apa kita sudah memberikan yang terbaik selama hidup? Apa kita telah memberikan kenangan yang baik atau yang buruk kepada orang-orang yang menurut kita berharga.”


Haruki menundukkan wajahnya dengan tarikan napas dalam yang ia lakukan. “Mengikuti pembicaraan kalian membuatku ingin mencicipi sesuatu yang manis-manis. Bagaimana jika kita berkeliling di Pasar? Bau bakaran dari makanan yang dijual, membuatku ingin segera memenuhi perut yang sejak pagi belum diisi,” ucap Izumi, aku mengangkat wajah, menatapi dia yang tersenyum ke arah kami bergantian.

__ADS_1


__ADS_2