Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXX


__ADS_3

“Pangeran, Putri,” tukas Daisuke dan para wakil kapten yang tengah membungkukkan tubuh mereka di hadapan kami.


Haruki berjalan mendekati mereka saat aku melepaskan rangkulan tanganku di lengannya, “apa kau telah mempersiapkan semuanya, Tatsuya?” Tukasnya dengan menghentikan langkah kaki di samping seekor kuda berwarna cokelat.


“Semuanya, telah aku persiapkan, Yang Mulia,” jawab Tatsuya yang masih membungkukkan tubuhnya bersamaan dengan wakil kapten yang lain.


“Tsubaru.” Aku melirik ke samping saat Izumi berbicara dengan mengangkat sebelah tangannya ke arah Tsubaru.


Tsubaru berjalan mendekatinya, dia membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum mengangkat tas yang ada di pundaknya itu ke arah Izumi. “Sa-Sachi,” aku menoleh ke samping, tersenyum menatapnya yang tengah berjalan berdampingan dengan Isterinya.


“Ja-jaga di-dirimu ba-baik ba-baik,” ungkapnya saat mereka berdua telah menghentikan langkah kaki mereka di hadapanku.


“Padahal aku belum sempat melihat Putra kalian, aku ingin sekali melihatnya,” ucapku menatap mereka berdua bergantian.


“Kami akan menunggu sampai kau bisa pulang ke sini lagi, Putri Sachi,” ucap Wasfiah berjalan mendekat lalu memelukku.


“Aku menitipkannya, tolong jaga dia baik-baik,” ungkapku balas memeluknya.


“Tentu, aku akan menjaganya seperti Putriku sendiri,” tukasnya melepaskan pelukan lalu tersenyum menatapku.


Aku berjalan mundur mendekati kuda berwarna hitam yang tersisa, “terima kasih,” ungkapku membalas senyumannya.


Aku berbalik lalu beranjak menaiki kuda tersebut. “Putri,” pandanganku menoleh ke samping saat suara laki-laki terdengar.


Daisuke mengangkat sebuah busur panah berserta satu tabung penuh berisi anak panah di tangannya, “berhati-hatilah,” ungkapnya mengarahkan busur beserta anak panah tadi kepadaku.


Aku meraih tabung anak panah yang ada di tangannya, lalu kugerakkan tabung tersebut hingga menggantung di punggungku, “aku mengerti,” ucapku dengan meraih busur yang ada di telapak tangannya.


“Putri,” aku kembali menoleh ke arah sebaliknya saat suara Tsubaru terdengar.


“Aku, menyiapkan pedang ini untukmu. Pedangnya tidaklah berat, jadi lenganmu akan baik-baik saja jika menggunakannya untuk waktu yang lama ketika melawan seseorang,” ungkapnya menarik sebuah pedang bersarung kayu hitam dari pinggangnya.

__ADS_1


Tsubaru kembali mengangkat kepalanya dengan mengarahkan pedang tadi ke arahku menggunakan kedua tangannya, “berhati-hatilah. Serahkan Sora kepada kami semua,” ungkapnya tersenyum menatapku.


Aku meraih pedang yang ada di tangannya, kutarik pedang tersebut hingga terlepas dari sarungnya dengan sebelah tangan, “apa ini?” Bibirku terbuka saat kedua mataku menatapi pedang pemberian Tsubaru itu.


“Apa ini, emas murni?” Aku membolak-balikkan pedang berlapis emas dengan ukiran bunga yang ada di tanganku itu, semakin banyak cahaya matahari yang menjatuhinya semakin mengkilap permukaan pedang itu.


“Heh, pedang emas.”


“Seperti yang diharapkan dari Tsubaru, dia menggunakan uangnya dengan sangat baik,” tukas suara Izumi dan Haruki yang bergantian terdengar.


“Tapi, kenapa kau memberikan pedang ini? Ini membuatku tidak tega untuk menggunakannya … Bagaimana mungkin, aku membiarkan pedang cantik ini dijatuhi darah kotor oleh musuh.”


“Jika Putri tidak tega memakainya, maka jangan gunakan. Hindari pertempuran langsung, jika tidak ingin menggunakannya.”


Apa ini? Apa ini sebuah peringatan untukku agar jangan melakukan hal yang berbahaya?


Aku menoleh kembali ke arahnya, ”tentu, pesanmu kuterima dengan baik, Tsu nii-chan. Terima kasih untuk pedang mengagumkan yang kau berikan, nii-chan,” ungkapku tersenyum dengan memasukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya.


Costa berjalan ke arahku dengan membawa bungkusan kain berwarna cerah di tangannya, “aku dengar, jika tempat yang akan kalian kunjungi memiliki udara yang sangat dingin. Jadi aku, mempersiapkan pakaian ini untukmu … Semoga dapat membantumu dalam perjalanan,” ucapnya dengan mengangkat bungkusan kain tadi padaku.


“Benarkah? Ini untukku?” Costa menganggukkan wajahnya saat aku meraih bungkusan yang ada di tangannya itu, “terima kasih Costa. Kau sudah banyak membantuku selama ini,” ucapku dengan tersenyum menatapnya.


“Jangan ragu-ragu untuk meminta pertolonganku, aku akan langsung membantumu apa pun yang terjadi,” ungkapnya yang balas tersenyum padaku.


“Apa sudah selesai? Kita harus segera pergi sebelum membuang banyak waktu,” ucapan Izumi yang terdengar membuat pandangan mataku teralihkan padanya.


“Zeki,” ucapku menatapnya yang tengah berdiri dengan menyilangkan kedua lengannya di dada.


“Apa kau, tidak ingin mengatakan apa pun?” Sambungku lagi dengan masih menatapnya yang berdiri sedikit menjauhi kerumunan.


“Tidak ada yang bisa aku katakan, mereka semua telah mewakilinya,” ucapnya dengan berjalan mendekatiku.

__ADS_1


Zeki menghentikan langkah kakinya di samping kuda milikku, “bahkan kedua tanganmu sudah dipenuhi hadiah,” Zeki menghela napas setelah mengatakannya, “aku akan mencari informasi lagi mengenainya. Jadi jangan melakukan hal yang berbahaya lagi. Beri kabar padaku jika kau membutuhkan sesuatu, aku akan selalu menunggu suratmu,” ungkapnya dengan meletakkan telapak tangannya di atas tanganku.


“Aku mengerti, jaga dirimu baik-baik. Jika nanti kami melewati Yadgar, ajak aku mengunjungi makam Ibumu.”


“Tentu, aku akan mengajakmu mengunjunginya bersama-sama,” ungkapnya dengan menciumi tanganku.


___________________


“Daisuke mengatakan jika sebelum sampai ke sana kita akan melewati bukit terjal terlebih dahulu bukan?”


“Tapi, di mana bukitnya? Ini sudah beberapa hari kita melanjutkan perjalanan,” sambung Izumi, dia mengangkat telapak tangannya menutupi alis seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri bergantian.


“Apa kau pernah mengunjungi tempat itu, Haruki?” Izumi kembali bertanya dengan mengalihkan pandangannya kepada Haruki yang menunggangi kudanya di hadapan kami.


“Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku sama seperti kalian yang tidak pernah diizinkan keluar dari Kerajaan dulu … Ayah hanya mengatakan padaku, bahwa jika kita ingin pergi ke sana, kita hanya harus terus berjalan ke Utara dari Kerajaan Il,” ungkapnya tanpa menoleh ke arah kami.


“Bagaimana denganmu Lux?” Haruki kembali bersuara, kali ini kepalanya bergerak menoleh ke arahku.


“Katakan padanya, aku tidak merasakan apa pun,” bisik Lux di samping telinga.


“Lux mengatakan, jika dia tidak merasakan apa pun,” aku mengulangi perkataan Lux pada Haruki.


“Apakah bukit itu yang dimaksudkan?!” Aku menoleh ke arah Eneas yang tiba-tiba berteriak.


Kugerakkan kuda yang aku tunggangi menyusul Haruki dan juga Izumi yang telah menunggangi kuda mereka mendekati Eneas, “apakah itu bukit?” Tukas Izumi saat kuda yang ia tunggangi telah berhenti di samping Eneas.


“Bukankah itu hanya tumpukan batu yang disusun tinggi hingga menyerupai gundukan?” Izumi lagi-lagi bersuara dengan menoleh ke arah Haruki.


“Bukit yang terjal, mereka tidak mengatakan … Bukit seperti apa lebih tepatnya, bukan?” Ungkapku ikut menghentikan kuda yang aku tunggangi di samping Izumi.


“Tumpukan batu itu, jika dinaiki memanglah terjal. Maksudku, batu-batu itu bisa saja longsor setiap saat dan membunuh mereka yang menaikinya. Bagaimana menurutmu nii-chan? Apa yang aku katakan salah?” Ungkapku dengan masih menatapi tumpukan batu menjulang yang berdiri kokoh di seberang sana.

__ADS_1


“Sepertinya. Kita akan memastikannya setelah kita bisa melewati jurang ini,” tukas Haruki, aku sedikit melirik ke bawah, melirik ke arah jurang menganga yang memisahkan kami dengan bukit batu tersebut.


__ADS_2