
Berhenti Haruki seraya mengangkat sebelah tangannya, menunduk ia seraya menatap sesuatu. Ditariknya tanganku oleh Zeki berjalan mendekati kakakku itu.
Ikut kutatap apa yang sedari tadi diperhatikannya, tampak terlihat tiga jejak sepatu dari lumpur yang telah mengering berbaris rapi menuju ke arah kanan kami...
Menoleh Haruki ke arah kami satu persatu, tampak kulihat Adinata, Izumi dan juga Zeki menganggukkan kepala menatapnya. Dilepaskannya genggaman tangannya padaku, seraya berjalan ia mengikuti langkah Haruki, Izumi dan juga Adinata yang telah lebih dahulu berjalan.
Masuk mereka berempat menembus semak-semak, kualihkan pandanganku pada Danurdara yang telah menyiapkan busur beserta anak panahnya. Ikut kuraih busur yang ada di punggungku beserta sebuah anak panah yang tersimpan di dalam tabung kayu yang juga ada di punggungku.
Berjalan aku dan Danurdara mendekati mereka secara perlahan dengan Julissa, Luana, Sasithorn dan juga Arion di belakang kami. Berhenti aku seraya menatap Haruki dan Adinata yang tengah berdiri saling membelakangi...
Sebuah suara benda terjatuh terdengar di sebelah kanan, kualihkan pandanganku kearah Zeki yang tengah menarik seorang laki-laki mendekati Haruki dan juga Adinata. Ditarik lalu dilepaskannya lengan laki-laki tersebut oleh Zeki hingga ia jatuh di hadapan Haruki.
"Jangan bunuh aku, kumohon jangan bunuh aku," ucapnya berulang kali seraya bersujud ia di hadapan Haruki.
"Aku hanya ingin menanyakan nama dan juga asal kepadamu," ucap Haruki menatap laki-laki tersebut.
"Alma... Mateo. Dari Kerajaan Juste," ucapnya tertunduk di hadapan Haruki.
"Kerajaan Juste?" tanya Adinata berbalik menatapnya.
"Itu Kerajaan yang letaknya bertetangga dengan Kerajaan kami," ucap Luana berjalan mendekati mereka.
"Dimana Izu nii-chan?" tanyaku memotong pembicaraan mereka.
"Izumi? dia ke arah sana," jawab Adinata seraya menunjuk ke arah belakang tubuhnya. Berbalik dan berjalan aku menuju ke arah yang ditunjukkan Adinata sebelumnya.
"Mau kemana kau Sa-chan?"
"Mencari Izu nii-chan," ucapku menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Izumi akan segera kembali," tukas Haruki kembali.
"Maafkan aku Haru-nii, aku tidak bisa mempercayai laki-laki yang ada di hadapanmu," ucapku tetap berjalan.
"Mau kemana kau?" terdengar suara Zeki yang mengikuti.
"Mencari kakakku," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
"Kakakmu itu kuat," ucapnya lagi.
"Jejak langkah kaki yang kita lihat menjumlahkan tiga orang, kau tidak menemukan dua orang yang lainnya bukan?" ucapku lagi padanya.
Kuarahkan pandangan mataku ke sekitar seraya kuikuti jejak tanda yang ditinggalkan Izumi pada pepohonan yang kami lewati. Tubuhku terhenti oleh jejak darah yang berhamburan di tanah, kupercepat langkah kakiku mencari keberadaan Izumi...
"Tolong... siapa saja tolong kami."
Suara teriakan tersebut mengetuk telingaku berulang kali, kulangkahkan kakiku semakin cepat ke arah sumber suara. Berhenti aku dengan seorang anak laki-laki terduduk di hadapanku beserta seorang laki-laki lainnya tergeletak di pangkuannya...
Duduk aku dihadapan anak laki-laki tadi, kuraih kepala Kakakku yang tak sadarkan diri itu. Kualihkan pandanganku pada punggungnya yang dipenuhi darah segar...
"Sachi, sudah kukatakan..." ucap Zeki berlari mengejarku.
"Zeki, kakakku... kumohon, tolong dia," ucapku menatapnya. Pandanganku mengabur, pipiku basah, suaraku yang berbicara padanya terdengar bergetar.
Berlari Zeki mendekati kami, duduk ia disampingku. Diarahkannya telapak tangannya mendekati hidung Izumi, menoleh ia menatapku...
"Kakakmu masih bernafas. Tenangkan dirimu, kau mengerti... Aku akan mengobati lukanya," ucapnya, diletakkannya telapak tangan kirinya di pipiku.
"Kau bisa melakukannya? Kumohon Zeki, aku tidak ingin terjadi apapun pada kakakku," tangisku menatapnya.
__ADS_1
"Dia akan baik-baik saja, percayalah padaku. Kau percaya padaku bukan?" ucapnya, mengangguk aku membalas perkataannya.
"Berikan aku obat yang membantu menyembuhkan luka didalam tas yang kau bawa lalu berbaliklah," ucapnya mengalihkan pandangannya kembali pada Izumi.
Kuobrak-abrik tas cokelatku itu seraya mencari botol berisi obat herbal yang dibuatkan Lux, kuletakkan botol itu di samping Zeki. Diraihnya kepala Izumi yang ada di pangkuanku...
"Berbaliklah," ucapnya lagi, berbalik aku menuruti perkataannya.
"Bisakah kau berlari lurus ke arah sana, dan beritahukan kepada mereka jika Izumi terluka," sambung Zeki.
"Akan kulakukan," terdengar kembali suara anak laki-laki tadi diiringi suara langkah kaki yang semakin menjauh.
Suara kain yang robek menundukkan kepalaku lebih dalam, kugenggam celana kusam yang aku kenakan dengan sangat kuat seraya kugigit pelan bibirku.
Kuarahkan kepalaku pada suara gesekan dedaunan diiringi banyaknya derap langkah kaki. Tampak terlihat Haruki dan yang lainnya berdiri dengan nafas yang sedikit tidak teratur.
"Bagaimana keadaannya?" ucap Haruki berlari mendekati kami.
"Dia baik-baik saja, lukanya sendiri tidak terlalu dalam. Mungkin kepalanya sempat terbentur hingga tak sadarkan diri, daripada itu... lebih baik kau menenangkan dia," ucap Zeki.
"Sa-chan, kau dengar itu bukan... Izumi akan baik-baik saja," ucapnya memegang kedua pipiku, mengangguk aku balas menatapnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Izumi tidak akan mudah terluka seperti itu," berbalik Haruki menatap laki-laki tadi.
"Aku, dan laki-laki yang ada di sebelah sana," ucapnya mengarahkan jari telunjuknya pada anak laki-laki yang ditangkap Zeki sebelumnya.
"Kami berkelompok. Aku, dia dan satu anak laki-laki lainnya yang hanya tinggal hidup di kelompok kami, kami berdua terpisah dari Alma..."
"Saat kami berdua berniat mencarinya, kami bertemu makhluk tinggi besar. Makhluk itu menghancurkan kepala temanku lalu merobek-robek isi perutnya, saat dia mengejarku... Aku tak sengaja bertemu dengannya," ucapnya dengan suara bergetar, digenggamnya kuat telapak tangannya.
__ADS_1
"Dia terluka karena mencoba membantu dan melindungiku. Maafkan aku, jika saja dia tidak bertemu denganku... Dia mungkin tidak akan terluka seperti itu," sambungnya menatapku.
"Maaf, aku telah mencelakai Kakakmu."