Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXXVI


__ADS_3

Kapal berlayar pelan mengikuti angin yang berembus mendekati daratan yang semakin jelas terlihat, aku beralih menatap beberapa orang perompak yang tengah menarik kuda ke tengah kapal.


Tubuhku kembali berbalik saat kurasakan sesuatu menyentuh punggungku, "ada apa nii-chan?" Tanyaku ke arah Izumi yang tengah berdiri dengan memapah Eneas di sampingnya.


"Apa kau telah menyiapkan semuanya?" Izumi balik bertanya padaku, ia melangkah dengan sangat pelan diikuti Eneas yang juga ikut melangkah di sampingnya.


"Aku telah menyiapkan semuanya," jawabku sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah kuda yang tengah diurus oleh beberapa perompak.


"Apa kita sungguh-sungguh akan pergi secepat ini?" Tanyaku kepadanya, kedua kakiku melangkah mengikuti mereka berdua yang telah berjalan mendekati kuda-kuda tadi.


"Apa kau tidak ingin berpisah dari tunanganmu?" Tukas Izumi tanpa menoleh ke arahku, kuhentikan langkah kakiku di belakangnya, "bukan seperti itu nii-chan, tapi lihatlah Eneas! Dia belum membaik sepenuhnya," ucapku kepadanya dengan nada sedikit meninggi.


"Justru karena itulah, kita harus ke sana. Kita akan kesulitan menemukan obat-obatan untuknya di tengah laut," ucap Izumi, sebelah tangannya bergerak mengusap leher kuda miliknya.


"Kalian beruntung, tidak ada kuda yang terluka ketika kapal setengah tenggelam."


Suara Aydin terdengar dari arah belakang, aku berbalik menatap mereka yang tengah berjalan ke arahku. Kedua tanganku memeluk pundak Cia saat dia berlari lalu memeluk erat tubuhku.


"Aku menyerahkan mereka semua kepadamu, Aydin," Haruki ikut berjalan mendekatiku dengan sebelah tangannya menepuk pundak Aydin saat dia melewatinya.


"Kalian terlalu terburu-buru untuk pergi. Memang ada apa di tempat itu?" Tanya Aydin dengan berkacak pinggang menatap Haruki yang berjalan membelakanginya.


"Kami harus mengumpulkan sekutu sebanyak mungkin, berada lebih lama di lautan akan membuat perjalanan kami terhambat," ucap Haruki berjalan mendekati kuda miliknya, tubuhnya bergerak menaiki kuda tersebut.


Aku berjalan dengan menepuk-nepuk pelan punggung Cia yang berjalan di depanku. Kuangkat tubuhnya hingga dia duduk di atas kuda milikku, aku melangkah sedikit maju ke depan sebelum mengikutinya duduk di atas kuda.


"Apa kau tidak ingin berbicara dengannya?" Tanya Izumi yang telah menggerakkan kudanya mendekati, kugerakkan kepalaku mengikuti matanya yang melirik ke arah Zeki, "dia mengabaikanku," ucapku menatap Izumi, kubalas tatapannya itu dengan helaan napas yang kuat, "baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya lagi," sambungku kembali, kugerakkan kudaku berjalan mendekatinya yang bersandar di dinding kapal.


Zeki menatapku dengan kedua lengannya bersilang di dada, "Zeki," ucapku saat dia hendak membuang pandangannya dariku.


"Ini, sudah beberapa hari sejak kau berhenti berbicara padaku? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanyaku, kuda milikku berhenti di hadapannya, lama kutatap dia yang akhirnya mengeluarkan napas panjang.

__ADS_1


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun," ucapnya berjalan mendekati, diraihnya tanganku olehnya sembari ditatapnya lama wajahku olehnya, "aku hanya tidak ingin kau pergi, karena itulah aku menghindar agar dapat menjernihkan pikiran. Tapi seperti yang kau lihat, itu percuma," ungkapnya kembali, semakin kuat genggamannya di tanganku.


"Jaga dirimu baik-baik, hilangkan kebiasaan cerobohmu itu, dan ... Jangan tergoda pada laki-laki lain," ucapnya yang sempat terhenti, sebelah tangannya bergerak meraih rambutku yang tergerai.


"Aku ingin sekali menjauh dari kalian saat ini juga Sachi," bisik Lux pelan di telingaku.


"Maaf," ungkapku pelan.


"Maaf?" Zeki mengulangi perkataanku.


"Itu, kata-kata yang aku tujukan pada Lux," ucapku, kugerakkan sebelah tanganku meraih rambut hitamnya, "kau juga, jaga diri baik-baik. Jangan melupakan istirahat, segera beri kabar padaku jika terjadi sesuatu. Jangan menanggung semuanya sendirian, aku pasanganmu ... Kau harus ingat itu."


"Aku mengerti, kau juga ... Lakukan hal yang sama, segera beri kabar padaku jika terjadi sesuatu," ucapnya mengangkat telapak tanganku tadi lalu menciumnya.


______________________


"Nii-chan, kita telah berjalan sejauh ini. Sebenarnya, mau ke mana kita?" Tanyaku, Haruki menunggangi kuda miliknya di depan kami dengan kuda milik Eneas yang berjalan di sampingnya.


"Petunjuk?"


"Eneas? Apa kau baik-baik saja?" Suara Izumi mengalihkan pandanganku, aku berbalik menatapnya yang tengah menunggangi kuda dengan Eneas duduk di belakangnya.


"Apa yang terjadi nii-chan?" Tanyaku, kuarahkan kuda milikku mendekatinya.


"Dia tidak bersuara sama sekali," ucap Izumi berusaha melirik ke arah belakang.


"Aku hanya berusaha tidur, kau terlalu berisik Izumi nii-san," Eneas membuka perlahan matanya menatap padaku.


"Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan adik sendiri," balas Izumi, kedua matanya masih berusaha melirik ke arah belakang tubuhnya.


"Sa-chan," suara Haruki mengalihkan pandangan mataku, "ada apa nii-chan?" Tanyaku saat kuda milikku berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Jangan terlalu jauh dariku. Aku tidak tahu, bahaya apa yang akan kita temui sebelum sampai ke tempat tujuan," ucap Haruki sedikit melirik ke arahku.


"Sebenarnya, kita akan ke mana nii-chan?" Tanyaku menoleh ke arahnya, Haruki masih menatap lurus ke depan mengabaikan pertanyaanku.


"Haru nii-chan," sambungku kembali padanya.


"Ke salah satu rumah milikku," ucapnya tanpa menoleh ke arahku.


"Rumah?"


Haruki menoleh ke arahku, dia menghela sedikit napasnya sebelum berbalik menatap lurus ke depan, "aku membeli rumah di beberapa Kerajaan, rumah itu dihuni oleh para mata-mata milikku. Aku sudah mengatakan, jika aku banyak memperkerjakan para tahanan sebagai mata-mata milikku ... Jadi, sebagai timbal balik untuk kesetiaan mereka, aku memberikan jaminan kehidupan untuk masing-masing mata-mata milikku itu."


"Kau memikirkannya sampai ke sana saat usiamu baru beberapa tahun?" Tanyaku sedikit melongo padanya.


"Lihatlah. Siapa yang dahulu mengajarkanku tentang Bank di usianya yang saat itu menginjak tiga tahun?" Haruki balik bertanya padaku.


"Tapi..."


"Yang membedakan para bangsawan dan juga rakyat biasa selain status, tidak lain adalah pendidikan yang diterima oleh para anak-anak bangsawan. Semakin tinggi statusmu, semakin cepat kau akan mengenyam pendidikan." Haruki sedikit menggerakkan kepalanya menatapi Izumi yang tengah sibuk beradu pendapat dengan Eneas di belakangnya, "berpura-pura? Heh," sambung Haruki dengan sangat pelan sebelum dia kembali menatap lurus ke depan.


Satu per satu rumah penduduk terlihat di hadapan kami, kutarik penutup kepala jubahku ke depan sebelum pandanganku mengarah ke arah rumah-rumah penduduk yang semakin jelas terlihat. Aku melirik ke arah beberapa penduduk yang berjalan hilir mudik melewati kami.


Haruki menghentikan kudanya saat dua orang laki-laki berdiri di hadapannya, kedua laki-laki tadi membalikkan tubuhnya lalu berjalan diikuti Haruki yang juga ikut berjalan di belakangnya. Sebelah tanganku bergerak menarik penutup kepala pada jubah yang Cia kenakan sebelum kudaku berjalan mengikuti mereka.


Langkah kaki kuda kami terhenti di sebuah rumah berpagar tinggi, kedua laki-laki itu bergerak maju lalu membuka pagar besi yang mengurung rumah tersebut. Aku mengikuti Haruki yang telah menggerakkan kuda miliknya berjalan melewati pagar besi itu.


Langkah kaki kuda kami kembali terhenti, seorang laki-laki berpakaian layaknya seperti perempuan telah berdiri di hadapan kami dengan dua orang perempuan yang berdiri di belakangnya.


"Aku akan membantumu Pangeran Izumi," ucap salah satu perempuan berlari mendekati Izumi, "tidak perlu, tubuhnya berat, nanti kau terluka."


"Bagaimana keadaanmu di sini? Apa kau baik-baik saja?" Sambung Izumi dengan sebelah tangannya mengusap kepala Sasithorn yang menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2