
Papan-papan kayu yang disusun oleh Kesatria musuh membentuk sebuah jembatan di atas lubang jebakan yang kami buat. Kereta kuda berlapis emas yang membawa laki-laki tadi berjalan pelan di atas jembatan yang dibuat tadi.
Para pasukan musuh yang sempat terhenti, kembali bergerak mendekati benteng. Kualihkan pandangan mataku ke arah bendera yang menjadi lambang Kerajaan Tao berkibar di sekitar mereka.
Puluhan ribu pasukan tersebut berjalan dengan meninggalkan senjata-senjata besar mereka. Beberapa ribu pasukan berkuda berjalan pelan di depan pasukan pejalan kaki, sinar mentari yang jatuh di atas mereka tampak menyilaukan ketika menyentuh baju zirah yang mereka kenakan.
"Adofo, perintahkan mereka menyiapkan hewan-hewan tersebut. Dan tahan, sampai aku memberikan perintah!" Perintahku tanpa menoleh ke arahnya, Adofo meninggikan suaranya dengan suatu kode yang hanya dipahami oleh para Kesatria kami.
Aku melirik ke arah kanan, Haruki berjalan berdampingan dengan Gritav di sampingnya. Tangan kanannya yang menggenggam tombak dengan mata pisau besar di ujungnya semakin membuatnya terlihat gagah. Tipe Pangeran, yang akan membuat semua perempuan jatuh hati jika dia berada di dalam komik maupun novel.
"Kenapa? Apakah ada yang salah dariku?" Tanya Haruki sedikit menggeleng ke kanan dan ke kiri saat dia berhenti di depanku. "Tidak ada, tidak ada yang salah," ucapku menjawab perkataannya.
"Nii-chan, darimana kalian?" Tanyaku balik kepadanya, "aku baru saja mendapatkan kabar dan berniat akan mengecek tikus yang mengganggu," ucapnya kembali menatap lurus ke arah pasukan musuh.
"Tikus? Apa yang dimaksudkan itu pengkhianat?" Tanyaku kembali, "bukan, hanya beberapa Kesatria kita yang nyalinya tiba-tiba menciut saat melihat musuh yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan mereka," ucap Haruki kembali dengan santai.
"Kesatria? Tapi, Kesatria kita baik-baik saja," ungkapku, kugerakkan kepalaku melihat ke arah sekeliling berusaha memastikan perkataannya.
"Bukan para Kesatria yang kau pimpin, melainkan Kesatria yang berada di bawah pimpinan Sanjiv. Sanjiv maupun Eneas masih belum bisa menaikkan semangat mereka, jika hal ini berlangsung ... Benteng Selatan akan," ucap Haruki terhenti, kuangkat sebelah telapak tanganku menggenggam lengan kirinya, "pergilah nii-chan, aku akan menjaga benteng ini untukmu. Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja," ucapku tersenyum saat dia mengangkat kepalanya menatapku.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" Tanyanya yang sedikit terdengar khawatir, "sangat yakin. Aku, akan baik-baik saja. Benar bukan Gritav?" Ungkapku yang kembali mengarahkan pandangan ke arah Gritav.
"Aku, akan menjaganya dengan sangat baik, Tuan," ucap Gritav menimpali perkataanku.
"Baiklah," ucap Haruki dengan sedikit menghela napasnya, dia berjalan maju ke depan, meraih kepalaku lalu menciumnya, "berhati-hatilah, jangan sampai terluka lagi, kau paham?!" Ungkapnya sedikit berbisik di dekatku, aku mengangguk membalas tatapannya.
"Gritav, dan juga Adofo. Jaga dia baik-baik!" Perintah Haruki yang dibalas dengan anggukan kepala Gritav dan juga Adofo bergantian, Haruki berbalik melangkahkan kakinya menjauh.
Aku kembali mengarahkan pandangan ke arah pasukan musuh yang semakin berjalan mendekat, bendera-bendera yang mereka bawa semakin berkibar ketika angin meniupnya. Perisai-perisai yang mereka bawa tampak seperti dinding yang melindungi mereka.
"Angkat perisai kalian!" Gritav tiba-tiba berteriak saat ratusan anak panah musuh bergerak ke arah kami.
Kujatuhkan pandangan mataku ke arah pasukan pejalan kaki musuh yang berlari mendekati benteng saat Adofo kembali menurunkan perisai yang ia pegang, "apa kau baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya saat kutatap dua buah anak panah yang menancap di lengannya.
Adofo memindahkan pedang yang ia pegang ke sebelah tangannya yang lain, "ini, hanya seperti gigitan semut untukku," ucapnya dengan menggerakkan telapak tangannya tadi menarik dua anak panah tersebut dari lengannya.
"Tunggu apalagi kalian, lemparkan hewan-hewan tersebut ke arah mereka!" Perintahku dengan sangat kuat, aku sedikit melirik ke arah para Kesatria yang mengangguk menatapku.
Aku mendongakkan kepala ke atas, kendi-kendi kecil bertutup kain hitam terbang melewati kepala. Kendi tersebut terbang semakin cepat mendekati para pasukan musuh, beberapa dari kendi tersebut ada yang pecah di kepala para pasukan pejalan kaki, dan ada dari mereka yang pecah membentur tanah.
__ADS_1
Beberapa Kesatria dari pasukan musuh ada yang jatuh terjungkal, ada yang lari kalang kabut, ada yang tersungkur ke depan lalu berhenti bergerak saat ular-ular yang aku sembunyikan di dalam kendi tersebut keluar merayap di sekitar mereka.
"Kau memanfaatkan ular-ular peliharaan kami dengan sangat baik, Hime-sama," ucap Adofo berbicara di belakangku, "hal yang sama yang ingin aku tanyakan, kenapa kalian memelihara ular beracun sebanyak itu?" Tanyaku kembali padanya, aku kembali mengarahkan pandangan mataku ke arah para Kesatria musuh yang sibuk mengayunkan pedang mereka ke arah ular-ular tersebut.
"Meminum darah ular akan menambah kekuatan, begitulah yang kami percayai," ucapnya membalas perkataanku. "Aku mengerti," ucapku singkat padanya.
"Persiapkan kendi kedua, dan lemparkan saat aku memberikan perintah!" Teriakku kembali kuat.
Masih kutatap para pasukan musuh yang masih bergelut dengan ratusan ular yang kami kirimkan. Beberapa dari ular tersebut ada yang terbang ke atas dengan tubuhnya yang terpotong dua, bahkan ada dari ular tersebut yang masih menggigit kuat hidung salah satu Kesatria walaupun tubuh dan kepalanya telah terpisah.
Aku kembali melirik, pandangan mataku terhenti pada laki-laki yang duduk di atas kereta kuda berlapis emas. Beberapa Kesatria yang berada di sampingnya tampak sibuk mengusir ular yang berusaha mendekat ke arah mereka.
Laki-laki tersebut mengarahkan pandangan matanya ke arahku, walaupun jauh ... Aku sedikit masih bisa melihat setiap gerakan di wajahnya. Laki-laki itu tersenyum menatapku dengan sebelah tangannya menggenggam ular bersisik kehitaman yang kami lemparkan ke arah pasukan mereka sebelumnya.
Ular yang ada di genggamannya itu, ia gerakkan mendekati mulutnya. Digigitnya leher ular tersebut hingga kepala ular tersebut terputus diikuti sedikit percikan darah yang keluar.
Laki-laki tersebut mengangkat tangannya yang menggenggam tubuh ular tadi. Ular tersebut masih menggeliat hingga darah yang keluar dari tubuhnya memercik seluruh wajah laki-laki tersebut.
Saat ular tersebut berhenti bergerak sepenuhnya, laki-laki tadi melemparkan tubuh ular tersebut ke belakang. Sebelah tangannya bergerak mengusap bibirnya hingga bercak darah yang ada di sekitar bibirnya itu sedikit membesar.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum lebar ke arahku, aku sedikit mengalihkan pandangan saat punggung Gritav telah berdiri di hadapanku, "jangan tersulut oleh perlakuan yang ia lakukan, Hime-sama. Hanya, bawa kemenangan kepada kami dengan semua rencana yang kau persiapkan sejak awal," ucap Gritav kembali tanpa menoleh ke arahku.