Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXII


__ADS_3

Kuda yang kami tunggangi berjalan pelan membelah kerumunan orang yang berlalu-lalang di pasar, beberapa dari mereka ada yang berhenti menatap kami. “Apa yang sedang mereka tatap?” Gumam Zeki, aku mengangkat tangan mencubit pipinya.


Aku melirik ke arah kiri saat suara bising sedikit terdengar, “Zeki, aku penasaran akan apa yang mereka lihat di sana,” ucapku dengan menunjuk ke arah kerumunan yang sedikit jauh dari tempat kami sekarang.


Zeki ikut menoleh, kuda yang ia tunggangi berhenti sejenak sebelum berjalan kembali ke arah yang aku tunjukkan. Aku mengangkat tanganku menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan saat pandangan mataku terjatuh ke arah kepala seorang perempuan yang ditendang bergantian oleh beberapa laki-laki.


“Apa yang mereka lakukan?”


“Eksekusi, sepertinya tunangan perempuan tersebut tidak menginginkannya,” Zeki menimpali perkataanku, aku mengangkat kembali kepalaku … Menatap alat pancung raksasa yang ada di dekat kerumunan tadi.


“Karena Raja terdahulu sangat mendukung Kekaisaran, jadi tradisi tersebut masih dijalankan.”


“Aku melupakannya, karena Kerajaan kami sudah membuang jauh tradisi tersebut … Jadi aku, melupakannya,” ungkapku menimpali ucapannya.


“Tutup matamu. Jika kau berniat ingin melompat turun demi menolong mayat perempuan tersebut, maka aku … Tidak akan, memaafkanmu,” tukas Zeki tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.


Dia menggerakkan kembali kudanya berjalan, sesekali dia menoleh ke kanan dan juga ke kiri, “apa ada sesuatu yang ingin kau beli?” Dia kembali bersuara setelah beberapa saat menghening.


Aku membuang napas dengan sedikit melirik ke arah belakang telinganya, “pakaian. Aku memerlukan pakaian, tapi aku tidak ingin memakai pakaian yang mengganggu pergerakan,” ucapku ikut menoleh ke kanan dan juga kiri.


“Aku tidak tahu, di mana tempat menjual pakaian yang bagus di sini,” ucapnya sambil tetap menggerakkan kudanya maju ke depan.


“Hentikan kudanya,” tukasku dengan menepuk belakang punggungnya, “ada apa?” Tanya Zeki seraya bersusaha menoleh ke arahku.


Aku mengangkat tangan, menunjuk ke arah kereta kuda yang ada di depan sebuah bangunan, “kereta kuda itu, sepertinya aku mengenalnya,” ucapku dengan tetap menatap kereta kuda berwarna cokelat itu.


Zeki menggerakkan kudanya mendekati kereta tadi, “Costa!” Aku berteriak memanggil namanya, saat pandanganku terjatuh pada sosok laki-laki yang tengah berjalan hendak mendekati kereta kuda tadi.


Costa menoleh, dia tersenyum sebelum berjalan mendekati, “Putri,” ucapnya saat dia telah berdiri di samping kuda kami.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu? Dan, di mana Solana?” Tanyaku dengan kembali beralih menatap ke arah kereta.


“Aku baik-baik saja. Solana? Hubunganku dengannya tidak seperti yang Putri pikirkan. Bagaimana kabarmu sendiri Putri?” Ungkapnya kembali tersenyum menatapku.


“Aku baik-baik saja,” sambungku tersenyum menatapnya, “apa kau tahu? Di mana aku bisa menemukan pakaian?” Tanyaku lagi kepadanya.


“Aku tahu, tinggalkan saja pengawalmu Putri. Aku akan mengantarkanmu ke sana dengan keretaku,” ucapnya dengan melirik ke arah Zeki.


“Pengawal? Dia tunanganku,” ungkapku dengan menepuk pelan pundak Zeki.


“Tunangan?” Costa balik bertanya dengan melirik dari atas ke bawah ke arah Zeki. “Apa kau ingin aku mencongkel kedua matamu itu?” Aku mencubit pelan punggungnya saat Zeki mengatakan hal tersebut kepada Costa.


“Aku pikir, Putri bisa mendapatkan pasangan yang lebih pantas dibandingkan dia. Dibandingkan itu, bagaimana dengan ikut denganku Putri? Aku bisa mengantarkanmu ke tempat yang kau inginkan?” Tukasnya yang kembali tersenyum ke arahku.


“Hanya tunjukkan saja di mana tempatnya, aku akan tetap pergi bersamanya.”


“Tempatnya sulit ditempuh dengan kereta Putri, terlebih saat ramai seperti ini. Jadi, aku akan mengantarkan kalian dengan berjalan kaki,” ucap Costa kembali menatapku.


“Tapi bagaimana dengan kudanya?”


“Pengawalku akan menjaganya. Lagi pun, sebenarnya setelah ini aku juga akan pergi ke Istana,” tukas Costa menjawab pertanyaanku.


“Bagaimana menurutmu, Zeki?” Aku beralih menatapnya, “dia tidak harus ikut mengantar, kita bisa pergi berdua,” ucap Zeki padaku.


“Tapi kita tidak tahu di mana tempatnya, daripada kita menghabiskan waktu dengan hanya berputar-putar. Kedua kakakku akan marah, jika kita berdua menghilang terlalu lama.”


Zeki berdecak lidah, “aku tahu, turunlah!” Tukasnya tanpa menoleh.


Aku beranjak turun dari atas kuda disusul Zeki yang juga ikut turun lalu berdiri di sampingku, Costa mengangkat tangannya ke arah seorang laki-laki yang berdiri di samping kereta kuda miliknya. Laki-laki itu berjalan mendekati kami lalu berbalik kembali melangkah menjauh saat dia telah menggenggam tali kekang kuda Zeki di tangannya.

__ADS_1


“Putri,” tukas Costa dengan mengangkat sebelah tangannya ke samping.


Aku berjalan melewatinya diikuti Zeki yang juga berjalan di belakangku bersamanya. Beberapa laki-laki yang lewat kadang menghentikan langkah kaki mereka menoleh ke arah kami, “kalian berenam! Apa kalian tidak bisa tenang?!”


Suara bentakan laki-laki menghentikan langkah kakiku, aku menoleh ke samping kiri, menatap kerumunan laki-laki yang tengah berdiri berbaris di sebuah kedai makanan bertuliskan huruf yang aku tidak tahu apa artinya.


Aku berjalan mendekati kerumunan tadi, “Daisuke, apa yang kalian lakukan di sini?”


“Hime-Sama,” ucap Arata yang telah berbalik menatapku.


“Putri, apa yang Putri lakukan di sini?” Daisuke balik bertanya padaku, “aku sedang mencari pakaian untuk dipakai. Apa kalian sedang membeli makanan?” Tanyaku melangkah maju saat aku melirik ke arah kumpulan asap putih yang membumbung di sekitar mereka.


“Ini enak sekali Hime-Sama, kau harus mencobanya,” ucap Arata dengan melambaikan tangannya ke arahku.


“Arata, apa yang kau lakukan?” Bisik beberapa laki-laki dengan salah satu di antaranya mencengkeram pundak Arata.


“Kalian hanya tidak tahu, betapa mengagumkannya dia,” ucap Arata, dia berbalik lalu kembali melangkah mendekatiku dengan sebuah makanan yang ditusuk oleh sebuah batang kayu di genggamannya.


Arata menghentikan langkah kakinya di hadapanku, dia mengarahkan makanan berbentuk meliuk-liuk itu di hadapannya dengan beberapa kali dia mengembuskan udara di makanan tersebut, “cobalah, Hime-Sama,” ucapnya dengan mengarahkan makanan tadi ke arahku.


Aku mengangkat tanganku, menyelipkan sedikit rambut yang jatuh kembali ke telinga. Bibirku bergerak mendekati makanan tadi lalu menggigit dan mengunyahnya pelan, “ini lezat sekali. Bolehkah?” Tukasku kembali melirik ke arah makanan tadi.


“Tentu, Hime-Sama,” ucapnya, aku meraih makanan yang ada di tangannya tadi, “Arata, terima kasih,” ucapku tersenyum menatapnya.


“Apa yang kau lakukan?” Aku berbalik ke kiri ketika suara laki-laki kembali terdengar. “Aku merasakan, ada sesuatu yang berdetak di sini,” ucap laki-laki lainnya yang berdiri di dekat laki-laki yang berbicara sebelumnya.


“Aku belum memperkenalkan diri,” tukasku berjalan mendekati mereka berlima.


Langkah kakiku terhenti seraya membungkukkan tubuh ke arah mereka, “Takaoka Sachi, senang bertemu dengan kalian semua. Aku, sudah lama sekali, menunggu hari di mana ... Aku dapat bertemu dengan kalian semua,” ucapku tersenyum dengan menatap mereka bergantian.

__ADS_1


__ADS_2