
“Apa yang kau lakukan Raja In-Su?” Tukas Zeki meraih dan menggenggam lenganku yang juga digenggam oleh Raja In-Su, “apa kau ingin mengganggu kesenanganku? Aku tamu di Kerajaan ini, apa kau lupa?” Sambung Zeki kembali padanya.
“Apa kau tidak tahu malu?” Aku mengangkat wajahku menatapnya, “Yang Mulia sendiri bukan? Yang membuat kami menjadi tidak tahu malu seperti ini?”
“Yang Mulia, meminta kami untuk melayani laki-laki lain, di saat kami berharap menjadi pasanganmu. Saya, hanya melakukan sesuai titah yang diberikan,” ucapku kembali padanya.
Dia kembali menarik kuat tanganku hingga aku beranjak berdiri dari pangkuan Zeki, “kau berani menentang perintahku? Perempuan sepertimu berani menentang perintahku?!”
Sakit, apa dia sudah kehilangan akal? Rasanya, aku ingin sekali memukul wajahnya itu.
Cengkeraman tangannya di lenganku semakin menguat, aku berbalik menoleh ke arah Zeki yang telah beranjak berdiri di belakangku, “aku telah menahan diri, kau tahu?” Gumam Zeki dengan menundukkan kepalanya.
Dia mencengkeram tangan Raja In-Su, “bisakah, kau melepaskan tanganmu darinya?” Tukas Zeki dengan melirik ke arahnya, “atau aku, akan mematahkan tanganmu ini,” sambung Zeki lagi padanya.
Zeki, kenapa dia melakukannya? Apa dia ingin mengacaukan semua rencana?
“Lepaskan tanganku, apa kau lupa sedang berada di mana?” Ucapnya pada Zeki, Zeki melirik ke arahku yang aku balas dengan anggukan pelan.
“Yang Mulia, jika Yang Mulia melakukannya … Tangan saya akan patah,” ucapku pelan dengan kedua mataku menatap sayu padanya. “Kau,” ungkap Raja In-Su dengan suaranya yang terdengar bergetar, dia berjalan dengan menarik kuat tanganku mengikutinya.
“Yang Mulia, apa yang ingin Yang Mulia lakukan?” Tukasku dengan menggenggam tangannya yang mencengkeram lenganku itu.
Aku menoleh ke belakang, kuangkat telapak tanganku ke arah Zeki yang hendak berjalan menyusul. Aku kembali mengalihkan pandangan ke arah Raja In-Su yang masih mengarahkan pandangan matanya menatap lurus ke depan, “Yang Mulia,” ucapku saat tubuhku jatuh tersungkur ketika dia mendorongku ke depan.
__ADS_1
Sialan. Tenangkan dirimu Sachi, tenangkan dirimu.
Aku mengangkat telapak tanganku yang penuh lecet dari atas bebatuan yang menghampar di tanah, darah tampak ikut terlihat mengalir keluar darinya, “Yang Mulia, apakah saya melakukan kesalahan?” Aku berbalik menatapnya dengan sebelah tangan menyentuh ke dada.
Aku melirik ke arah mereka semua yang sebelumnya berada di dalam ruangan, mereka berdiri di belakang Raja dengan sesekali mereka berbisik satu sama lain menatap padaku, “kau bertanya apa kesalahanmu?!” Bentaknya dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
“Penjaga!” Dia kembali berteriak, aku menoleh ke arah dua orang Kesatria yang sebelumnya berjaga di pintu telah duduk berlutut di hadapannya, “cambuk dia! Sampai dia mengerti di mana letak kesalahannya!” Sambungnya kembali kepada dua orang Kesatria tadi.
Cambuk?
Aku kembali tersadar dari lamunan saat kedua tanganku telah dicengkeram oleh kedua Kesatria tadi dari kanan dan kiri tubuhku, “lepaskan aku!” Aku balas membentak, kedua Kesatria tadi masih menarik tubuhku ke belakang, tanpa menggubris apa yang aku katakan.
Aku melirik ke arah kaki salah satu Kesatria itu, kupijak dengan kuat kakinya lalu kupukul wajahnya saat cengkeraman tangannya di lenganku terlepas. Aku berbalik ke samping dengan mengangkat lengan kananku ke atas, kugenggam telapak tangan kananku lalu kuarahkan siku tanganku itu memukul lengan Kesatria lainnya.
Tubuhku terhentak, aku menoleh ke samping saat suara benda terjatuh sangat keras terdengar. Kedua mataku membesar tatkala kutatap Kesatria yang wajahnya aku pukul sebelumnya telah jatuh terkapar dengan sebuah anak panah yang menancap di kepalanya. Aku kembali menoleh ke samping saat suara benda jatuh lagi-lagi terdengar, kulepaskan genggaman tanganku di tangan Kesatria tadi saat dia juga bernasib sama seperti Kesatria sebelumnya.
Siapa? Siapa yang melakukannya?
Aku tertunduk dengan sebelah tanganku mencengkeram lengan, pandangan mataku melirik ke samping … Menatap anak panah yang telah tertancap kuat di lenganku itu. Aku menggenggam kuat anak panah tadi, kugigit kuat bibirku saat tanganku itu menarik anak panah yang melekat kuat di lengan.
Aku tertunduk, kutatap tetesan darah yang jatuh di ujung anak panah yang kugenggam kuat, “apa kau baik-baik saja?” Aku mengangkat kepalaku saat suaranya terdengar.
“Aku baik-ba,” ucapku terhenti dengan kembali menggigit kuat bibirku, semakin lama … Semakin kuat rasa nyeri itu menjalar di lenganku.
__ADS_1
“Berikan anak panah itu padaku,” ungkapnya, kulepaskan genggaman tanganku di anak panah tadi saat dia juga telah menggenggamnya.
Dia mengangkat anak panah tadi ke atas, aku sedikit melirik saat dia memotong lengan pakaianku yang telah bersimbah darah tadi dengan anak panah yang ia genggam, “apa kau baik-baik saja?” aku menoleh ke samping saat suara Raja In-Su ikut terdengar.
“Apa yang kalian tunggu! Segera cari penyusup yang menyerang! Jika kalian tidak menemukannya, aku akan mengeksekusi kalian semua!” Raja In-Su berbalik, menatap beberapa Kesatria yang berdiri tidak terlalu jauh darinya.
Aku kembali menoleh ke arah Zeki saat suara robekan kain terdengar, dia mengarahkan kain panjang yang ia robek dari pakaian yang dikenakannya itu ke lenganku. Tangannya bergerak, membalut kain tadi di luka yang ada di lenganku, “bagaimana? Apa terlalu kencang?” Tanyanya menatapku, aku menggeleng dengan kembali menatap tangannya yang telah selesai mengikatkan kain tadi di lenganku.
“Ikutlah denganku,” ucap Raja In-Su kembali terdengar. “Apa kau bercanda? Sebelumnya, kau ingin mencambuknya, lalu sekarang kau ingin merawatnya?” Tukas Zeki kepadanya.
“Jangan mencampuri urusanku, Raja Zeki,” jawab Raja In-Su kepada Zeki. “Aku jatuh cinta padanya, jadi ini urusanku. Lagi pun, kalian belum resmi menikah bukan? Jadi dia, bukanlah milikmu,” ungkap Zeki lagi padanya.
Dibandingkan dia, tentu aku akan memilih bersama Zeki, Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku jika bersama laki-laki sepertinya.
“Tuan,” ucapku menatap ke arah Zeki, “maafkan aku, merepotkanmu,” sambungku kembali dengan menggenggam pakaian yang Zeki kenakan.
“Apa kau bisa berjalan?” Zeki balik bertanya, aku menggeleng pelan diikuti semakin kuatnya genggaman tanganku di pakaiannya.
Zeki berbalik lalu berjongkok membelakangiku, aku sedikit membungkukkan tubuh dengan melingkarkan sebelah lenganku di pundaknya. Kedua tangan Zeki memegang pahaku, dia beranjak berdiri dengan menggendongku di belakangnya, “apa kau yakin baik-baik saja?” Tukasnya dengan berusaha menoleh ke belakang.
“Aku sudah beberapa kali terkena panah, tapi tetap saja rasanya menyakitkan,” jawabku dengan sedikit membenamkan wajah di punggungnya, “menurutmu? Siapa yang melakukan ini?” Aku balik bersuara pelan padanya.
“Entahlah, aku akan meminta wakil kaptenku untuk mencari tahu. Tapi sebelum itu, jangan pergi berkeliaran terlalu jauh dariku. Kedua kakakmu, menitipkan kau padaku, aku tidak akan tenang sebelum ini berakhir,” ungkapnya kembali terdengar di telinga.
__ADS_1