Fake Princess

Fake Princess
Chapter DL


__ADS_3

“Kalian berdua ingin pergi ke mana?”


Aku dan Zeki menghentikan langkah secara bersamaan, kepalaku menoleh ke belakang. Tepatnya, ke arah Izumi yang tengah berdiri dengan Sasithorn di sampingnya, “jika kalian, mencoba ingin pergi sehabis festival. Lupakan saja mengenai hal itu, karena Haruki meminta kita semua untuk makan malam di Istana. Ini, undangan langsung dari Raja Piotr,” ucap Izumi sambil melangkah beriringan dengan Sasithorn melewati kami.


Aku dan Zeki, saling tatap cukup lama sebelum kami berdua melangkah mengikuti mereka. “Nii-chan, apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku pelan, Izumi masih lanjut melangkah tanpa sedikit pun menoleh.


“Jika yang kau maksudkan itu, saat melakukan setiap ritual ketika festival? Maka aku, akan menjawabnya baik. Semuanya berjalan lancar, dan hasilnya pun baik,” jawab Izumi yang membuat Sasithorn di sebelahnya semakin menundukkan kepalanya.


“Syukurlah,” gumamku pelan sambil tetap menatap punggung mereka yang masih membelakangi.


Kami berempat, berjalan beriringan, mendekati sebuah kereta kuda yang dikelilingi oleh banyak Kesatria. “Kalian berempat, masuklah ke dalam kereta ini!” perintah Haruki yang berbalik, setelah sebelumnya ia berbicara dengan Raja Piotr.


“Bagaimana denganmu?” tanya Izumi, ketika Haruki menghentikan langkahnya di depan kami.


“Aku dan Ryuzaki akan ke sana, menggunakan kereta milik Duke, sedangkan Eneas sendiri … Dia di kereta yang sama, dengan kereta yang dinaiki Putri Aniela, Adinata dan juga Julissa,” ucap Haruki, dia berjalan melewati kami sambil telapak tangannya itu menepuk pundak Izumi.


“Kalian berdua, masuklah terlebih dahulu!” tukas Izumi sembari menatapku dan juga Sasithorn bergantian.


Aku mengangguk sebelum mengajak Sasithorn mengikutiku naik ke kereta. Di dalam kereta, kami berdua terdiam, kadang kala aku melirik ke arahnya yang duduk dengan menundukkan kepalanya di hadapanku, “apa kau, baik-baik saja, Kak?” tanyaku yang membuat dia mengangkat kepalanya.


“Aku baik-baik saja, hanya saja-”


“Hanya saja?” tukasku pelan, dia menoleh ke arah pintu kereta sebelum menundukkan kembali pandangannya.


“Izu, maksudku kakakmu memarahiku, karena aku menangis selama festival.”


“Apa festivalnya tidak berakhir baik?” Aku balas bertanya, dengan sesekali melirik ke arah pintu kereta yang masih tertutup.


“Semuanya berakhir baik, hanya saja … Aku, jadi mengingat Kak Luana. Jika saja, dia tidak menyela-”


Perkataan Sasithorn terhenti, ketika suara Zeki terdengar dari balik pintu kereta. Kutatap pintu kereta tersebut, yang dengan perlahan terbuka, lalu disusul dengan Zeki dan Izumi yang masuk ke dalamnya. “Apa terjadi sesuatu?” tanyaku sambil menatap Zeki yang telah duduk di sampingku.

__ADS_1


“Bukan apa-apa, Izumi hanya meminta Kesatriaku menuntun kita dari kejauhan,” ucapnya sembari menoleh ke arahku.


Kami berempat, kembali terdiam saat kereta tersebut berjalan. Sesekali, aku menoleh ke arah jendela yang ada di samping. Keadaan di luar terlihat temaram, yang terlihat hanya cahaya api dari obor yang bergoyang tertiup angin di tangan beberapa Kesatria. Pandangan mataku, kembali mengarah kepada Sasithorn yang masih duduk dengan menundukkan pandangannya.


Aku ingin sekali meyakinkannya, kalau ini bukanlah kesalahannya.


“Apa kau lelah? Tidurlah di sini, jika tidak … Lehermu akan sakit.”


Aku menoleh ke arah Zeki yang menepuk pahanya sendiri sambil menatapku, “aku baik-baik saja, aku sedang tidak lelah sekarang,” balasku tersenyum sebelum membuang kembali pandangan mataku darinya.


“Apa kalian berdua baik-baik saja?”


Tatapan mataku beralih ke arah Izumi yang telah menatap kami berdua bergantian. “Hubungan kami baik-baik saja. Bukankah, pertanyaan tersebut seharusnya ditanyakan langsung kepada kalian berdua?” Zeki balas berbicara dengan melirik ke arah Izumi dan juga Sasithorn.


“Mataku,” rintihku pelan sambil menundukkan pandangan dengan sebelah tanganku terangkat menutupinya.


“Sachi!”


Mataku terpejam, seperti yang aku pinta … Sedikit pun suara, tak keluar dari bibir mereka. Aku tetap berpura-pura memejamkan mata, hingga kepalaku terasa ada yang memeganginya lalu menggerakkannya bersandar ke sisi sebelahnya. Ikut kurasakan, ada yang menyelipkan rambut ke telingaku hingga kecupan yang aku terima di kening.


“Kakaknya, masih ada di hadapanmu!” tukas suara Izumi yang tiba-tiba kembali terdengar.


“Lalu kenapa? Jika kau iri, lakukan saja pada pasangan yang ada di sampingmu,” timpal Zeki kepadanya.


“Ulangi apa yang kau katakan!”


“Haruki sedang tidak berada di sini. Ingatlah Izumi, usiaku lebih tua dibandingkan denganmu … Jadi, jaga baik-baik ucapanmu tersebut,” sambung Zeki yang kembali terdengar memotong perkataan Izumi.


“Apa kau, sekarang sedang mengancamku?”


“Aku sedang tidak mengancammu. Percayalah,” timpal Zeki lagi kepadanya.

__ADS_1


“Aku sudah katakan, bukan? Diam, tutup mulut kalian! Aku ingin beristirahat,” ucapku pelan sambil tetap memejamkan mata.


________________.


Aku kembali membuka mata saat kereta berhenti, Zeki beranjak membuka pintu kereta saat aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Aku pun turut beranjak, ketika dia yang telah turun dari kereta itu mengangkat sebelah tangannya ke arahku. Kuraih lalu kugenggam tangannya tersebut, sambil kulangkahkan kakiku berjalan di sampingnya.


Sesekali, aku melirik ke arah Izumi yang berjalan di belakang kami, hingga … Tatapan mataku, beralih kepada Aydin yang sedang berjalan mendekati Haruki dengan banyak sekali perempuan di belakangnya.


Langkahku kembali berlanjut saat panggilan Raja Piotr untuk mengikutinya, mengetuk telinga. Raja Piotr, mengajak kami ke ruangan dengan sebuah meja panjang dengan deretan kursi di kanan dan kirinya. Aku turut berjalan masuk, ketika Raja Piotr sendiri pun meminta kami semua untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


Aku menduduki salah satu kursi, ketika Zeki yang berdiri di sampingku itu menariknya. Lirikan mataku beralih ke arah Zeki yang juga telah menarik kursi yang ada di sampingku lalu mendudukinya. Tatapan mataku, terjatuh ke arah Raja Piotr yang sudah duduk di kursi besar yang ada di sebelah kanan kami, “apa, semuanya berakhir baik?” tanyanya, sambil menatap kami satu per satu.


“Semuanya berakhir baik,” timpal Haruki, lama kutatap dia yang melirik ke arah setiap orang.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?” bisik Zeki yang terdengar pelan menyentuh pendengaran.


Astaga Zeki, bahkan Raja pun … Belum menyelesaikan perkataannya.


“Putri, Takaoka Sachi, bukan?”


Kepalaku menoleh cepat ke arahnya, “apa terjadi sesuatu, Raja?” tanyaku kepadanya.


Raja Piotr, lama menatapku diikuti telapak tangan yang terangkat menopang wajahnya sendiri, “apa kau, ingin menikah dengan Putraku, Putri?” tukasnya yang membuat kedua mataku membelalak.


“Dia pasanganku, dia calon isteriku. Jangan berharap untuk mengambilnya,” ungkap Zeki yang dengan cepat memotong perkataan Raja Piotr.


“Bisakah, aku mengetahui alasanmu ingin menjodohkan aku dengan Putramu?” tanyaku, aku menepuk pelan tangan Zeki yang mencengkeram lenganku sambil tetap kuarahkan pandangan mataku kepada Raja Piotr.


“Jika itu, untuk hubungan antar Kerajaan, pernikahan adikku nanti sudah lebih dari cukup, bukan?”


“Jangan serakah, lagi pun … Kenapa, aku harus memilih untuk dijodohkan? Jikalau, semua laki-laki yang berbaris untuk mendapatkanku, tidak ada yang tidak mengagumkan,” ucapku, kubuang pandangan mataku darinya sembari kuraih cangkir berisi air yang ada di meja lalu meminumnya.

__ADS_1


__ADS_2