Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXV


__ADS_3

Izumi mengangkat tombak miliknya ke udara, diayunkannya tombak besar miliknya itu menebas leher salah satu pasukan musuh yang mendekati. Diangkatnya tombak miliknya itu lalu diayunkannya lagi, dilakukannya hal tersebut berulang-ulang pada pasukan musuh yang semakin banyak mendekatinya...


Kualihkan pandanganku pada Zeki, kuda yang ia tunggangi berdiri tegak lalu bergerak kedepan menerjang pasukan musuh yang ada di hadapannya. Kutatap tombak miliknya yang menancap ke leher salah satu pasukan musuh seraya diangkatnya tombak miliknya tadi menggunakan kedua tangannya.


Diayunkannya tombak itu dengan kuat ke udara, tubuh laki-laki malang itu diam tak berdaya di ujung tombak Zeki. Zeki menggerakkan kedua tangannya mengayun tombak miliknya, jatuh terpental tubuh laki-laki itu menimpa pasukan musuh yang hendak mendekatinya...


Kualihkan kembali pandanganku pada Aydin, diangkatnya tombak miliknya lalu ditancapkannya ujung tombak itu ke kepala pasukan musuh yang berada di dekatnya. Ditariknya kembali tombak itu lalu ditancapkannya kembali ke kepala pasukan musuh lainnya, Aydin melakukannya berulang-ulang... Kutatap semburan darah yang mengucur deras di sekitarnya.


Suara teriakan laki-laki membuatku tertegun, pandangan mataku beralih pada pasukan pemberontak yang berlari di depan pasukan pejalan kaki. Kapak-kapak besar yang ada di genggaman mereka terangkat ke udara oleh kedua tangan mereka, diayunkannya kapak-kapak tadi oleh pasukan pemberontak menghancurkan dinding perisai yang dibangun pasukan musuh.


Para pasukan pemberontak tadi semakin berjalan maju membelah lautan pasukan musuh yang ada dihadapannya, kapak-kapak besar milik mereka tak berhenti berayun menebas kepala pasukan musuh yang mendekati mereka... Kutatap kapak-kapak milik mereka yang telah berubah memerah dari sebelumnya.


Teriakan-teriakan kembali menggema tatkala pasukan pejalan kaki milik kami ikut membelah pasukan musuh, kulangkahkan kakiku semakin ke depan seraya kuangkat ibu jariku mendekati bibir. Kugigit pelan ibu jariku tadi seraya kugerakkan kedua bola mataku ke kanan dan kiri memeriksa keadaan...


"Perintahkan Adinata, bagi pasukannya menjadi dua dan serang dari sisi sayap kanan dan kiri musuh! Kita akan menghancurkan mereka dari segala arah!" teriakku, kuarahkan pandanganku pada Kesatria yang bertugas menyampaikan pesan. Menoleh Kesatria tadi lalu berbalik kembali ia menunggangi kuda miliknya menjauhi kami...


Kualihkan pandanganku pada Adinata yang juga menoleh menatapku dari kejauhan, mengangguk ia menatapku seraya berteriak keras ia kepada para pasukannya...

__ADS_1


Kereta perang yang ditumpangi Adinata bergerak maju ke depan diikuti puluhan kereta perang lainnya di belakangnya. Adinata mengangkat kedua tangannya ke udara, kereta-kereta perang tadi terbelah menjadi dua pasukan yang bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tinggi...


Kereta-kereta perang tadi melebar ke samping lalu berbelok tajam mendekati pasukan musuh. Berbelok beberapa pasukan musuh tadi seraya berlari beberapa dari mereka menuju kereta perang yang dikendalikan oleh para pasukan dibawah pimpinan Adinata...


Para Kesatria yang berdiri di atas kereta menggerakkan tombak-tombak milik mereka menembus kepala-kepala pasukan musuh. Kualihkan pandanganku pada darah yang mengucur dari sisi samping salah satu kereta, laki-laki itu jatuh tertunduk di samping kereta... Pandangan mataku tertegun pada kepala laki-laki tadi yang terbang melayang, mata pisau panjang yang ada di roda kereta bergerak semakin cepat diikuti warna merah yang menghiasi seluruh bagian samping kereta...


Kualihkan kembali pandanganku pada Zeki yang masih mengayunkan tombak di tangannya berulang kali, kutatap ujung tombaknya itu yang telah dipenuhi oleh darah pasukan musuh di bawahnya.


Kedua mataku membesar saat kutatap seorang laki-laki menunggangi kuda tengah melaju cepat dari arah belakang Zeki, laki-laki tadi mengayunkan tombak miliknya ke punggung Zeki yang membelakanginya...


"Lihatlah kembali baik-baik," ucap Lintang yang mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


Kugerakkan kepalaku perlahan menatap Zeki kembali, air mataku mengalir saat kutatap ia yang telah berbalik dengan menggenggam tombak miliknya menahan ayunan tombak yang diarahkan laki-laki tadi padanya...


Kuarahkan pandanganku pada Izumi dan juga Aydin yang tak henti-hentinya berteriak seraya kedua tangan mereka menebas pasukan musuh menggunakan tombak mereka masing-masing...


Kualihkan pandanganku kembali kepada Zeki yang mendorong tombak milik laki-laki tadi, mundur kuda yang ditunggangi laki-laki tadi beberapa langkah ke belakang. Pasukan musuh maupun pasukan kami hanya berdiri mengelilingi mereka tanpa melakukan apapun... Hanya suara teriakan dukungan yang dikeluarkan oleh mereka saja yang semakin terdengar di udara.

__ADS_1


Kutatap para pasukan perompak yang juga telah bergerak menutupi pasukan musuh yang sebelumnya berusaha mengganggu duel antara Zeki dan laki-laki tadi. Laki-laki tadi kembali mengayunkan tombak miliknya, ditangkisnya tombak tersebut oleh Zeki menggunakan tombak miliknya...


Kutatap Zeki yang masih berusaha menghalau serangan dari laki-laki tadi seraya kuarahkan pandanganku pada kakinya yang bergerak menaiki punggung kuda yang ia tunggangi. Gerakan kaki Zeki semakin cepat bergerak menginjak punggung kuda yang ia tunggangi...


Melompat Zeki dari atas kudanya, tombak yang berada di genggamannya semakin nampak jelas terlihat di udara. Diayunkannya tombak tersebut oleh Zeki ke arah laki-laki tadi...


Laki-laki tadi menghalau tombak milik Zeki menggunakan tombak miliknya, kutatap kembali Zeki yang berteriak... Tombak milik laki-laki tadi jatuh terlepas, mata pisau besar yang menjadi ujung tombak milik Zeki bergerak cepat membelah pundak laki-laki tadi hingga ke dadanya...


Melompat-lompat aku berusaha melihat Zeki yang telah mendarat di hadapan laki-laki tadi, kuarahkan kembali pandanganku pada laki-laki tadi yang tertunduk di atas kuda miliknya... Jatuh tersungkur tubuh laki-laki tadi ke depan...


"Kapten Barend telah dibunuh oleh Kesatria Zeki!"


Sebuah teriakan menggema, menoleh aku ke arah Adinata yang meneriakkan kata-kata tersebut berulang-ulang dengan tombak miliknya yang terangkat ke udara. Sambutan menggemuruh datang dari seluruh pasukan kami, kutatap mereka yang ikut mengangkat senjata mereka ke udara...


"Awalnya aku meragukan kemampuanmu, namun aku tidak menyangka jika pada hari pertama kita akan langsung menikmati kemenangan manis seperti ini."


"Akupun, tidak menyangka," ucapku membalas perkataan Lintang dengan suara bergetar, kutundukkan kepalaku seraya kuarahkan telapak tanganku mengusap kedua mataku yang basah karenanya.

__ADS_1


__ADS_2