Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXCVII


__ADS_3

"Kalian ingin membawa Ayah kemana?"


"Ayah berkata bukan? Jika Ayah ingin bertemu dengan Naga yang aku punya," ucapku, kualihkan pandanganku padanya yang telah menunggangi kuda miliknya di sampingku.


"Aku terkejut, kau bisa menunggangi kuda sekarang, Putriku," ucapnya balas menatapku.


"Haru dan dan Izu nii-chan yang mengajariku ketika kami masih tinggal di Kerajaan Paloma," ungkapku, kualihkan pandanganku menatap punggung kuda yang aku tunggangi.


"Begitu ya, Ayah bahagia bercampur sedih mendengarnya," ungkapnya mengalihkan pandangannya kembali menatap lurus ke depan.


"Ayah," ucapku masih menatapnya.


"Ayah tidak apa-apa, Ayah memahaminya," sambungnya, masih kutatap dia yang tak bergeming.


Kualihkan pandanganku kembali ke depan seraya kuikuti jejak kaki kuda yang ditunggangi Haruki, kembali kuarahkan pandanganku ke samping menatap Izumi yang juga telah menunggangi kudanya di sampingku.


Kembali kualihkan pandanganku pada Haruki yang telah menghentikan langkah kaki kuda miliknya, kutatap dia yang telah bergerak turun dari atas kuda miliknya...


Berjalan dia mendekati salah satu pohon yang ada di hutan seraya diikatkannya tali kekang kuda miliknya pada pohon tersebut. Ikut kugerakkan tubuhku turun dari atas kuda seraya melangkah aku mendekati salah satu pohon dengan kuda milikku di belakang...


Kuarahkan telapak tanganku melingkari pohon seraya kuikatkan tali kekang kuda yang aku genggam di sana. Berbalik aku berjalan kembali mendekati Ayah dan kedua Kakakku yang telah berdiri menatapku...


"Apa yang ingin kalian lakukan di sini?"


"Ayah ingin bertemu dengan Naga milik Sachi, dan kami tidak ingin ada seseorang pun di sana yang mengetahuinya. Jadi Ayah, Haruki berharap Ayah tidak menceritakan apapun kepada siapapun... Karena, aku masih belum bisa mempercayai semua orang di Kerajaan kita," ucap Haruki mengalihkan pandangannya kepada Ayah.

__ADS_1


"Ayah, bukannya kami tidak mempercayaimu..."


"Ayah mengerti, jika itu menyangkut keselamatan kalian bertiga. Maka Ayah akan melakukan apapun," ucapnya memotong perkataanku, kurasakan tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.


"Terima kasih Ayah," ucapku seraya menggerakkan tubuhku berbalik berjalan membelakanginya.


"Kou, datanglah. Aku membutuhkanmu," ucapku seraya kuarahkan pandanganku menatap langit.


Serpihan-serpihan es muncul tersusun memenuhi permukaan langit, perlahan dan perlahan... Kou muncul keluar dari dalam kepingan es yang ada di langit tersebut.


Terbang Kou mengitari langit, kutatap dia yang mengarahkan tubuh besarnya itu semakin mendekati. Mendekat kuarahkan tubuhku mendekati dia yang telah mendarat di hadapan kami...


"My Lord," ucapnya, kuarahkan telapak tanganku mengelus-elus kepalanya yang tertunduk mendekati.


"Ayahku, ingin bertemu denganmu," ucapku padanya, kugerakkan tubuhku kembali menatap Ayahku yang terlihat tertegun tanpa suara.


Kutatap Ayahku yang berjalan mendekati, berhenti ia di sampingku seraya diarahkannya pandangannya menatapku. Kuraih sebelah telapak tangannya sembari kugerakkan tangannya tadi semakin mendekati Kou...


"Dingin," ucapnya, kutatap dia yang sedikit terhentak saat telapak tangannya menyentuh kulit Kou.


"Namanya Kou, Ayah. Aku telah merawatnya sejak sebelas tahun yang lalu," ucapku menatapnya, kutatap Ayahku itu yang tampak terkagum-kagum memandangi Kou.


"Bagaimana? Bagaimana bisa?" ungkapnya seraya mengarahkan pandangannya menatap padaku.


"Apa Ayah ingat, pertama kali aku pergi ke festival berburu? Saat itu, aku menemukannya. Aku tidak tahu bagaimana aku menjelaskannya, hanya saja... Aku saat itu tiba-tiba saja, telah berada di tempat yang penuh sekali dengan salju. Dan, saat itulah aku menemukannya," ucapku menatapnya.

__ADS_1


"Dan kalian tidak menceritakan apapun pada Ayah kalian?" tukas Ayahku yang berbalik menatapi kami satu-persatu.


"Ayah, kami melakukannya untuk kebaikan kita bersama," ucap Haruki, kualihkan pandanganku padanya yang berjalan mendekati.


"Percayalah pada kami Ayah, kami tidak pernah sedikitpun berniat untuk menyakitimu," sambungnya yang juga telah berdiri di samping Ayah.


"Ayah," ucap Izumi, kugerakkan kepalaku menatapnya yang tiba-tiba melangkahkan kakinya mendekati.


"Apa kau tahu Ayah, kami seperti ini karena didikan yang kau lakukan. Kau yang katakan sendiri bukan? Kalau kami haruslah pandai, kuat dan bertanggung-jawab agar pantas menyandang gelar seorang Pangeran dan Putri Kerajaan Sora?"


"Ayah, kami melakukannya, karena kami melakukan semua yang kau katakan. Kami menyembunyikan semuanya, karena seperti yang Haruki katakan, kita tidak tahu pasti siapa musuh kita," sambung Izumi kembali, kembali kutatap dia yang telah berdiri di sampingku.


"Ayah, jika kami katakan. Jadikan kami senjata mematikan untukmu dan bukan anakmu, apa kau akan mengabulkannya?" ucap Haruki menimpali perkataan Izumi.


"Kalian bertiga ini benar-benar," ucap Ayahku, kualihkan pandanganku menatapnya yang tertunduk dengan memijat-mijat pelan keningnya.


"Aku tidak tahu, caraku mendidik kalian ini benar ataukah salah... Tapi, apa kalian tidak bisa sedikit menjadi seorang Pangeran maupun Putri biasa," sambungnya, masih kutatap dia yang telah mengangkat kepalanya menatapi kami bergantian.


"Ayah," ucapku, kuarahkan telapak tanganku meraih dan menggenggam sebelah tangannya yang lain.


"Ayah mengerti, Ayah akan mengikuti semua rencana dan perkataan kalian. Hanya dengan dua syarat," ucap Ayah sembari kembali mengarahkan pandangannya menatap kami satu-persatu.


"Dua syarat?" ucap Haruki, kutatap Ayah yang mengangguk membalas perkataannya.


"Syarat pertama, kembalilah padaku dengan keadaan baik-baik. Walaupun di antara kalian kehilangan anggota tubuh kalian, tetaplah kembali pada Ayah kalian ini," ungkap Ayah, kurasakan tepukan pelan yang ia lakukan mengusap kepalaku.

__ADS_1


"Lalu apa syarat kedua, Ayah?" sambung Haruki, kualihkan pandanganku menatapnya yang masih mengarahkan pandangannya menatapi Ayah.


"Syarat kedua, kalian harus...."


__ADS_2