Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLI


__ADS_3

"Pangeran Takaoka Haruki, Pangeran pertama Kerajaan Sora. Memberikan hormat," ucapnya seraya membungkukkan tubuh ke arah Raja.


"Pangeran Takaoka Izumi, Pangeran kedua Kerajaan Sora. Ikut memberikan hormat," sambung laki-laki bernama Izumi seraya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Haruki.


"Berdirilah kalian berdua," ucap Raja seraya mengangkat telapak tangannya ke arah mereka berdua. Beranjak berdiri kembali mereka berdua di hadapan Raja...


"Lamond Laura, Raja dari Kerajaan Leta. Di sebelah kananku ini, Putra pertamaku Miron Laura. Dan yang di sebelah sana..." ucapnya lagi seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah belakang kami.


"Kalian bertiga pasti telah mengenalnya, Putriku Julissa Laura."


"Terima kasih karena telah mengizinkan Adikku untuk tinggal di sini sebelumnya," ucap Haruki kembali membungkukkan tubuhnya.


"Tidak perlu, berkat kalian... Setidaknya kedua anakku dapat kembali, walaupun yang lainnya harus..." ucapnya tertahan.


"Maafkan aku, kejadian enam tahun yang lalu benar-benar menghancurkan jiwaku," ucapnya lagi seraya tertunduk.


"Adik kami, Sachi lah yang menyelamatkan kami semua, kami berdua bisa pulang pun karena dia," sambung Haruki ikut tertunduk.


"Putriku bahkan mengamuk dan melempar beberapa barang sambil berteriak-teriak, temanku Sachi tidak akan mati dengan mudah begitu saja. Aku akan, membayar pembunuh untuk membunuh orang yang telah menyebarkan berita bohong tersebut."


"Ayah! Kau membuatku malu," ucapnya, kualihkan pandanganku padanya yang tertunduk.


"Kenapa? Bukankah itu berarti kau sangat menyayangi temanmu."


"Yang menyebarkan berita bohong tersebut tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri, apa kau masih berniat membunuhku Julissa?" ucap Izumi seraya mengarahkan jari telunjuknya ke dirinya sendiri.


"Kak Izumi, tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku membunuh seseorang yang sudah seperti kakakku sendiri," sambung Julissa tersenyum ke arah Izumi.


"Kaisar telah membantai saudaraku, isteri dan calon anakku juga ikut menjadi korban permainan darinya enam tahun yang lalu," ungkap Pangeran Miron seraya menggenggam kedua tangannya.


"Aku benar-benar tidak akan memaafkannya. Jika kalian berniat menghancurkan Kekaisaran, bawa aku bersama kalian," ucapnya lagi seraya menatap ke arah kami bertiga.


"Menghancurkan Kekaisaran?" ucapku menoleh ke arah Haruki.


"Aku akan menjelaskannya nanti kepadamu," balasnya menatapku.


"Kak Haruki," ucapku tertahan padanya.


"Apa kau tahu sesuatu tentang My Lord?" ucapku lagi padanya.


"Darimana kau?"


"Aku tidak terlalu mengerti, hanya saja... Kata-kata tersebut tidak berhenti-henti terdengar di kepalaku," tukasku seraya mengalihkan pandangan darinya.


"Pangeran Miron, kau berkata ingin bergabung bersama kami bukan?" ucapnya mengalihkan pandangannya pada Pangeran Miron, mengangguk Pangeran Miron tadi membalas perkataannya.


"Apa kau dapat membantu kami, aku ingin kau menyediakan sebuah lapangan kosong yang sangat luas dan pastikan tidak ada seseorang pun yang mendekatinya."


"Untuk apa hal tersebut?"


"Menyembuhkan Adikku. Aku tidak akan membahas tentang kerja sama ini sebelum Adikku sembuh sepenuhnya."


"Aku mengerti, serahkan semuanya padaku."

__ADS_1


_________________


"Apa kau yakin tidak ada orang lain di sekitar kita?" ucap Haruki mengalihkan pandangannya pada Pangeran Miron.


"Sangat yakin, percayalah padaku."


"Baiklah. Sa-chan, kemarilah," ucapnya seraya mengarahkan telapak tangannya ke arahku. Kurasakan tepukan pelan di punggungku, menoleh aku ke arah Izumi yang telah berdiri disampingku.


Maju aku beberapa langkah mendekatinya, kugenggam rok gaunku dengan kuat seraya berjalan tertunduk semakin mendekati. Kuraih telapak tangannya tadi, disambutnya telapak tanganku tadi dengan genggaman lembut yang ia lakukan.


"Kalian semua, mundurlah beberapa langkah. Izumi mendekatlah juga!" ucapnya seraya menoleh ke belakang, ikut menoleh aku mengikuti pandangan matanya. Tampak terlihat mereka semua yang sebelumnya berada di dalam ruangan mundur beberapa langkah ke belakang termasuk Raja.


"Sa-chan," ucapnya pelan, menoleh aku menatapnya.


"Ikuti semua perkataan yang aku ucapkan, apa kau mengerti?" ucapnya kembali, mengangguk aku menjawab perkataan darinya.


Digenggamnya pergelangan tanganku yang tidak terluka ke atas menghadap langit, kuarahkan pandanganku ke atas mengikuti pandangannya...


"Kou."


"Kou."


"Datanglah..."


"Datanglah..."


"Aku membutuhkan bantuanmu."


"Aku membutuhkan bantuanmu."


Kutatap benda putih bertaring yang keluar darinya, semakin lama semakin jelas sosok dari makhluk berwarna putih tersebut. Mundur aku beberapa langkah ke belakang...


"Tidak apa-apa, kau sendiri lah yang telah membesarkannya," ucap Haruki yang merangkul punggungku.


Sayap makhluk berwarna putih tadi membelah langit, kepakan yang ditimbulkannya menggoyangkan beberapa pohon yang berada di sekeliling kami. Berputar ia terbang mengitari langit lalu mendarat perlahan ia di hadapanku...


Melangkah ia perlahan mendekati, kualihkan pandanganku pada jejak kakinya yang membeku. Langkah kakinya terhenti seraya diletakkannya kepalanya di dekat kakiku...


"My Lord," kembali terdengar suara itu lagi di pikiranku.


"Usap lehernya, kau selalu melakukannya sejak dia kecil," ucap Haruki seraya mengarahkan telapak tanganku mendekat pada makhluk putih tadi, kupejamkan mataku seraya tanganku kembali bergerak mengikuti arahan Haruki.


Dingin, tanganku terasa membeku karenanya. Kubuka perlahan kedua mataku, tampak terlihat makhluk berwarna putih tadi memejamkan matanya di hadapanku...


"Ambil darahku."


Menoleh aku ke arah Haruki, dibalasnya tatapan dariku dengan ekspresi Haruki yang terlihat mengerutkan keningnya.


"Ambil..."


"Darahku," ucapku mengulangi perkataan yang terdengar berulang-ulang di pikiranku.


"Izumi, ambil sedikit darah Kou dan berikan padanya," ucap Haruki mengalihkan pandangannya pada Izumi.

__ADS_1


"Darah?" ungkapku bingung, kutatap laki-laki yang mengaku kakakku itu.


Haruki diam tanpa menjawab pertanyaanku, kualihkan pandanganku pada Izumi yang berjalan mendekati makhluk tadi. Diangkatnya pedang yang berada di tangannya menggores tubuh makhluk tadi...


Darah segar mengalir keluar akibat goresan yang dilakukan Izumi, ditampungnya darah yang keluar tadi menggunakan ujung pedangnya seraya berjalan kembali ia mendekatiku...


"Buka mulutmu, Sachi," ucap Izumi seraya mengarahkan pedang yang ia genggam tadi ke arahku.


Kupejamkan mataku seraya kubuka lebar mulutku, kurasakan rasa amis nan dingin menetes di ujung lidahku. Perasaan membeku itu semakin menjalar hingga memenuhi rongga mulutku...


Tubuhku terhentak jatuh, kedua kakiku seakan tak sanggup menahan beban tubuh. Menjerit aku menahan sakit, kugenggam dengan sekuat mungkin lengan Haruki yang merangkul tubuhku sebelumnya...


Kugigit kuat bibirku, air mataku tak kunjung berhenti ketika tulang-tulang di lenganku bergerak dengan sendirinya...


"Gigit lenganku Sachi," ucap suara laki-laki yang aku tidak tahu itu siapa.


Kugigit dengan kuat lengan tadi, seraya sebelah tanganku yang lain ikut mencengkeram erat lengan yang aku gigit tadi. Rasa sakit yang ada di lenganku terasa menjalar seakan membelah seluruh otakku...


Gigitanku di lengan tadi semakin kuat, kurasakan rasa sakit teramat sangat seakan meremukkan seluruh isi kepala. Kupejamkan mataku seraya menahan ribuan suara yang berdenging memukul-mukul telinga...


"Kata-katamu adalah perintah mutlak untukku, Putri."


"Panggil aku Onii-chan, ini perintah!"


"Sachi, if i said i loved you, would you believe me?"


"Aku memerintahkanmu sebagai seorang Pangeran, untuk membalaskan semua dendamku pada Kaisar."


"Ayah juga menyayangimu."


"Kenapa? Apa kau tidak nyaman bertunangan dengan yang lebih tua darimu?"


"Apakah kita masih bisa berteman setelah ini?"


"Tapi aku sendiri dilahirkan menjadi pedang dan perisai untukmu, My Lord."


"Apa kalian tega meninggalkan anak kecil sepertiku di tengah hutan nan suram ini?"


"Aku mencintaimu Takaoka Sachi, aku mencintaimu sejak sebelas tahun yang lalu."


Kubuka kembali kedua mataku, kutatap pandangan mengabur di hadapanku. Ikut kurasakan sentuhan telapak tangan menyapu pelan air yang menggenang di ujung mata...


"Okaeri," ucap Haruki tersenyum menatapku dengan kedua matanya yang memerah.


"Tadaima..."


"Onii-chan," ungkapku balas tersenyum menatapnya.


____________


-Okaeri: Selamat datang kembali.


-Tadaima : Aku pulang.

__ADS_1


__ADS_2