Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXV


__ADS_3

"Yadgar?"


"Apa kita harus pergi ke sana nii-chan?" tanyaku lagi pada mereka yang tengah menunggangi masing-masing kuda mereka di hadapanku.


"Apa perkataanku masih kurang jelas terdengar olehmu?"


"Haru..."


"Kau harus belajar mengendalikan dirimu sendiri, ketika memutuskan untuk membunuh diri kita sendiri... Bukankah kalian juga telah memikirkan semua konsekuensi yang akan kalian terima," ucap Haruki memotong perkataannya Izumi.


"Aku mengerti nii-chan," ucapku tertunduk.


Yadgar... Itu tempat kedua yang ingin sekali aku hindari selain Kerajaan kami. Aku tidak ingin datang ke sana, aku tidak ingin bertemu dengannya...


Zeki pasti akan mencekik leherku jika ia tahu kalau aku membohonginya selama ini.


Kutarik penutup kepala pada mantel yang aku kenakan ke depan, kutarik kembali penutup kepala itu hingga menutupi seluruh wajahku.


Kuda berwarna putih yang aku tunggangi kupacu semakin cepat dan semakin cepat dari sebelumnya. Penutup kepala yang aku kenakan kembali diterbangkan angin seperti sebelumnya...


"Kita akan berhenti sejenak di hutan yang ada di depan," ucap Haruki menghentikan langkah kaki kudanya.


"Eh? ini masih terlalu terang untuk kita beristirahat," sambung Izumi yang juga telah menghentikan kudanya.


"Aku ingin Sachi mengganti penampilannya, aku dan Lux telah menyiapkannya beberapa hari sebelumnya," tukas Haruki seraya menatap ke arahku.


"Mengganti penampilanku?" tanyaku bingung menatapnya.

__ADS_1


"Kau seorang Putri yang juga tunangan dari Pangeran Kerajaan Yadgar, walaupun kau hanya mengunjunginya sekali... Tidak menutup kemungkinan akan ada seseorang yang mengenalmu," ucap Haruki lagi seraya digerakkannya tali kekang yang mengikat kudanya itu.


Kuda-kuda kami melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusuri hutan, berhenti dan turun Haruki dari atas kudanya itu. Berjalan ia mendekati sebuah pohon seraya diikatkannya tali kekang yang ia pegang ke balik pohon tersebut...


Ikut turun aku mengikuti langkah mereka, kutarik perlahan tali kekang berwana hitam tersebut... Kuda putih itu mengikuti langkah kakiku di belakang, kulingkarkan lenganku melingkari pohon seraya kuikatkan tali kekang tersebut dengan kuat...


"Pakai ini, aku telah menyiapkan semuanya," ucap Haruki seraya menyerahkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam padaku.


Berbalik dan berjalan aku menjauhi mereka seraya kuletakkan bungkusan kain berwarna hitam tadi di atas tumpukan ilalang yang menghampar di sebelah kanan dan kiriku...


Gaun yang sebelumnya aku kenakan telah meluruh dari tubuhku, kubuka bungkusan hitam tadi... sebuah kain putih panjang lengkap dengan pakaian dan juga celana berwarna hitam tergeletak di dalamnya...


Kuraih kain putih panjang tersebut seraya kuletakkan hingga menutupi dadaku, kulilitkan kain putih tersebut berulang kali di tempat yang sama lalu kuikat dengan kuat agar tak terlepas...


Kembali kuraih dan kukenakan pakaian beserta celana berwarna hitam yang juga terletak di dalamnya... Duduk aku lama di sana seraya kulipat kembali gaun yang aku kenakan sebelumnya ke dalam bungkusan kain hitam sebelumnya lalu mengikatkannya kembali...


Beranjak aku berdiri seraya sebelah tanganku menggenggam kuat bungkusan kain hitam tersebut, berbalik aku seraya kulangkahkan kakiku mendekati mereka kembali...


Langkah kakiku mengikuti perintah darinya, duduk aku di hadapannya. Diraih dan dibukanya kuncir rambut yang aku kenakan seraya dikuncirnya kembali rambutku dengan model yang sedikit berbeda...


"Jika seperti ini, rambutmu akan terlihat tidak terlalu panjang," ucapnya lagi dari arah belakangku.


"Apa kau yakin seperti ini sudah cukup?" terdengar suara Izumi di telingaku.


Menoleh aku ke arah Izumi, Eneas dan juga Lux yang tengah berjalan mendekati. Tampak terlihat sebuah benda kecil nan tipis berada di genggamannya Izumi...


"Pakai ini sebelum lem yang kami buat mengering," ucap Izumi seraya berjongkok di hadapanku, diangkat lalu diarahkannya benda kecil tadi mendekati wajahku.

__ADS_1


"Apa itu?" ucapku balik bertanya padanya.


"Apa kau ingat Sachi, kita pernah membahas tentang rambut atau kumis palsu sebagai penyamaran. Jadi beberapa hari yang lalu aku mencoba membuatnya," ungkap Lux, kutatap ia yang tengah terbang di samping Izumi.


"Kau membuatnya? Dari?"


"Rambutnya Haruki, tubuhku kecil, jadi aku tidak merasa kesulitan menyusun sehelai demi sehelai rambutnya," ungkap Lux lagi kepadaku.


"Lama sekali, diam dan jangan bergerak! Aku akan memasangnya," ucap Izumi seraya menempelkan benda tersebut di atas bibirku.


Terasa dingin saat benda tersebut menyentuh kulitku, masih tetap dipegangnya benda tersebut oleh Izumi seraya sebelah tangannya mengipas-ngipas benda tersebut...


"Aku merasakan ada yang sedikit kurang padanya," ucap Haruki yang juga telah berjongkok di hadapanku, diangkat serta diletakkannya telapak tangan kanannya menopang dagunya menatapku.


"Apa menurutmu kulitnya tidak terlalu putih untuk seorang laki-laki pengelana," tukas Izumi menimpali perkataan Haruki.


"Apa kau sepemikiran denganku Izumi?" ungkap Haruki seraya mengalihkan pandangannya pada Izumi.


"Maksudmu ini?" sambung Izumi membalas senyuman Haruki, diangkatnya telapak tangannya yang penuh akan debu tanah ke atas.


"Apa yang ingin kalian lakukan?" ucapku seraya mencoba beranjak.


"Adikku tersayang, kau harus mengikuti semua kata-kata kakakmu ini. Kami melakukan semuanya untuk kebaikanmu juga," ungkap Haruki seraya mencengkeram lenganku lalu didorongnya ke bawah.


"Tapi nii-chan," ucapku lagi yang mencoba kembali untuk beranjak tetapi tak membuahkan hasil.


"Kami hanya akan membuat wajah dan tanganmu sedikit lebih berwarna, jadi bersabarlah sedikit Adikku," ungkap Izumi mengarahkan telapak tangannya yang penuh debu itu ke arahku.

__ADS_1


Mencoba aku untuk memundurkan wajahku menjauhinya, diraihnya kepalaku oleh Izumi... Melirik aku ke arah telapak tangannya yang semakin mendekati, kututup kedua mataku seraya kugigit pelan bibirku... Buliran-buliran kasar terasa mengalir di pipiku, menjalar ke bawah bibirku hingga memenuhi semua wajahku...


"Jangan lupakan lehernya, akan terasa aneh melihatnya jika wajahnya gelap akan tetapi lehernya putih," terdengar kembali suara Haruki disertai cengkeraman yang semakin kuat di kedua pundakku.


__ADS_2