Fake Princess

Fake Princess
Chapter CIII


__ADS_3

Kutatap Kou yang kembali terbang menjauh, dengan tubuhnya yang sebesar itu akan mempermudah musuh untuk menemukannya. Karena itu, aku memintanya untuk kembali pulang ke rumahnya... Semuanya demi keselamatannya.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ucap Izumi, kualihkan pandanganku kembali ke punggungnya.


"Apa kau ada rencana Haru nii-chan?" sambungku seraya melepaskan kain yang melilit luka di tubuhnya Izumi.


"Entahlah," jawab Haruki singkat.


"Bukankah tujuan awal kita untuk kembali ke Kerajaan?" ungkap Izumi.


"Terlalu berbahaya, aku mengkhawatirkan keselamatan Ayah jika kita kembali pulang ke Istana," ucapku menjawab perkataan Izumi.


"Apa kau memikirkan hal seperti yang aku pikirkan Sa-chan?"


"Apa maksud kalian berdua?"


"Aku pernah mengatakannya sebelumnya bukan nii-chan, jika aku menyembunyikan keberadaan Lux dan Kou... itu bukan karena aku tidak mempercayai Ayah, hanya saja aku sedikit menaruh kecurigaan kepada seseorang..."


"Dan lagipun, pewaris tahta yang ingin dimusnahkan Kaisar tidak lain tidak bukan ialah kita bertiga. Selama ini yang mendominasi ekonomi ialah ia dan beberapa Kerajaan yang berada langsung di bawah kekuasaannya, setelah beberapa tahun terakhir kita menggantikan posisinya. Tentu saja, bagi musuh kita akan menjadi sesuatu yang merepotkan untuk mereka di masa depan," sambungku tertunduk.


"Karena itu, saat Kaisar berniat membunuh kita dengan mengorbankan nyawa yang tidak bersalah membuatku sakit. Dan tentu saja, jika kita terbunuh dan Ayahpun ikut terbunuh... Kerajaan Sora akan langsung berada dibawah kekuasaannya."


"Jadi, kita akan berpura-pura mati untuk menyelamatkan Ayah dan juga Kerajaan kita. Apa itu yang ingin kau maksudkan?" ucap Izumi menimpali ucapanku.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau memahaminya dengan begitu cepat Izu nii-chan," ungkapku menatapnya.


"Aku ingin berita tentang kematian kita tersebar ke seluruh dunia, dengan begitu Kaisar tidak akan menyentuh Ayah untuk sementara. Membuat musuh lengah, salah satu cara terbaik untuk membunuhnya," ucapku lagi.


"Sebenarnya, aku telah memperkirakan hal terburuk ini akan terjadi. Karena itulah, aku meminta beberapa Kesatria untuk mengikuti kita dan aku juga telah memberikan perintah kepada mereka... Jika terjadi sesuatu antara aku dan Izumi, segera bawa para tunangan kami dan sembunyikan mereka untuk menghindari eksekusi pada mereka," tukas Haruki, dibaringkannya tubuhnya itu ke atas tanah.


"Kalian telah memikirkannya jauh kesana?" ucap Izumi, mengangguk aku dan Haruki menjawab pertanyaannya.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah meninggalkan Kerajaan?"


"Tentu saja mendapatkan sekutu. Jika hanya Kerajaan kita saja yang berusaha menantang dan bertarung dengan Kaisar beserta para pengikutnya. Itu bunuh diri namanya, orang bodoh seperti apa yang berniat melakukannya tanpa rencana," ucapku seraya meniup-niupkan udara di luka yang ada di punggungnya Izumi.


"Pertama, kabar tentang kematian kita akan membuat Ayah aman untuk sementara. Kedua, kita jadi punya alasan untuk berpetualang... Jika Kaisar punya makhluk-makhluk bukan manusia yang ikut menjadi pasukannya, kita akan mencari makhluk-makhluk lain yang telah ditindas oleh Kaisar untuk kita jadikan sekutu..."


"Kita akan membuat rencana yang telah disusun oleh Kaisar menjadi suatu bumerang untuk dirinya sendiri. Dan juga nii-chan, kau sendiri bukan yang mengatakan jika musuh dari musuhmu adalah sekutu yang terbaik," ucapku lagi, berbalik Izumi menatapku.


"Selama ini aku hanya membaca apapun dari buku, aku ingin melihatnya sendiri. Aku ingin melihat lebih banyak makhluk-makhluk aneh lainnya," ucap Haruki balas menatap Izumi.


"Apa kalian pikir, berpetualang dapat dilakukan semudah itu?!" ungkap Izumi kembali.


"Aku telah menyiapkan semuanya, modal untuk kita berpetualang sejak lama-lama sekali. Apa kalian ingat dengan perhiasan yang aku sembunyikan?" ucapku tersenyum menatapi mereka.


"Aku selalu berpikir, jika nanti terjadi pemberontakan di Kerajaan kita dan kita tidak bisa menghindarinya, lalu kondisi terburuknya harta benda kita habis. Jadi aku menyimpan harta-harta berhargaku di tempat yang aman, dan ketika nanti aku diharuskan untuk meninggalkan Istana, aku tidak akan merasakan khawatir akan kelangsungan hidupku..." lanjutku tersenyum pada mereka.

__ADS_1


"Dan dimana harta tersebut berada?" ungkap Izumi lagi.


"Di hutan tempat kita menyembunyikan Kou dulu, aku juga bahkan meminta Lux untuk menungguku disana hingga aku pulang. Bagaimana ini?" ucapku menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah.


"Kita akan menjual ini," ucap Haruki, kuangkat kepalaku seraya menoleh ke arahnya.


"Itu satu-satunya harta peninggalan dari Ibumu," ungkapku menatapnya.


"Aku tahu, kalung ini satu-satunya peninggalan dari Ibuku. Akan tetapi, Ibuku pasti akan mengerti dan paham mengapa aku menjualnya," ucapnya seraya diangkatnya kalung berliontin Zamrud hijau ke hadapan kami.


"Apa kau yakin?" tanya Izumi lagi.


"Daripada aku mempertahankan kalung ini dan membuat kedua adikku kelaparan selama perjalanan, aku akan lebih memilih untuk menjualnya..."


"Aku tidak menyetujuinya," sambung Izumi memotong perkataan Haruki.


"Kenapa?" tanya Haruki kembali menatapnya.


"Itu kalung yang diberikan Ayah kepada Ibumu, bagaimana jika Ayah mengetahui tentang kalung tersebut lalu menyelidikinya? Rencana manis yang telah kita bangun akan gagal," ucap Izumi kembali.


"Aku tidak memikirkannya sampai kesana," ungkap Haruki tertunduk.


"Daripada menjual kalung milikmu, aku pikir lebih baik jika kita menjual ini," tukas Izumi seraya menyentuh telinga kananku.

__ADS_1


"Anting?" tanyaku bingung, kuarahkan telapak tanganku menyentuh telingaku.


"Aahh kau benar, bahkan akupun tak menyadari keberadaannya," sambungku seraya melepaskan anting-anting yang melekat di telingaku pada Izumi.


__ADS_2