
Izumi berjalan mendekati kami dengan kedua tangannya dipenuhi kantung-kantung kulit kecil. Senyum lebar ditampakkan olehnya, ia berjalan melewati kami dan masuk ke salah satu bangunan. Aku berbalik mengikuti langkah mereka yang telah lebih dulu memasuki ruangan...
"Lihatlah, aku memenangkan banyak sekali uang," ucapnya membuka lipatan tangannya hingga semua kantung tadi terjatuh di atas meja.
"Kau melakukannya dengan sangat baik," tukas Haruki menarik kursi yang ada di samping Izumi lalu mendudukinya.
"Terima kasih untuk Adikku yang telah memberikan saran yang berguna," ucap Izumi mengarahkan telapak tangannya ke arahku.
Aku berjalan mendekati salah satu kursi lalu mendudukinya, masih kutatap Haruki yang tengah berbicara dengan seorang Perempuan dengan sebuah nampan di tangannya. Wajah Perempuan tersebut bersemu merah dengan sesekali mengangguk membalas perkataan dari Haruki.
"Apa yang kau pesan?" Tukas Costa menggerakkan kursi yang ada di sampingku lalu mendudukinya.
"Aku tidak tahu, aku hanya meminta mereka membawakan makanan yang paling banyak diinginkan di sini," ucap Haruki menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku ingin kuda, aku juga ingin beberapa lembar pakaian. Aku ingin membeli semuanya nii-chan," ucapku meraih satu kantung berwarna cokelat yang ada di atas meja.
"Aku mengerti. Sekarang, isi tenaga terlebih dahulu. Setelah makan, kita akan melanjutkan berkeliling tempat ini," sambung Izumi mengambil lalu meletakkan kantung-kantung yang ada di atas meja satu-persatu ke dalam tas kulit yang ada di hadapan Haruki.
"Baiklah, aku mengerti," sambungku kembali meletakkan kantung tadi ke atas meja, diraihnya kantung itu oleh Izumi seraya diletakkannya kembali ke dalam tas.
"Apa kau akan memberitahukan keadaan kita pada Ayah?" Tukas Izumi mengalihkan pandangannya kepada Haruki.
"Jika aku tidak melakukannya, aku takut... Ayah akan melakukan semua cara untuk membawa kita semua pulang," ungkap Haruki menggerakkan lengannya bersandar di sisi meja.
"Kau sendiri bagaimana Sa-chan?" Ungkap Haruki menatapku.
__ADS_1
"Aku? Aku kenapa?" Tanyaku kebingungan menatapnya.
"Apa kau akan mengirim surat untuk Zeki?"
"Jika aku melakukannya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ayah padanya," ungkapku menggerakkan lengan memangku wajahku di atas meja.
"Siapa itu Zeki?"
"Tunanganku," ungkapku menjawab pertanyaan Costa.
"Hmm, begitu ya," sambungnya kembali terdengar.
Pandangan mataku bergerak pada barisan Perempuan dengan nampan penuh makanan di tangan mereka tengah berjalan mendekati kami. Mataku tertegun saat makanan berserta minuman yang mereka bawakan terhidang di hadapan kami.
"Eneas, apa kau masih menyimpan buah yang kita pungut di hutan?" Ucapku mengalihkan pandangan pada Eneas yang juga diam membisu menatap makanan yang terhidang di meja.
"Aku sudah tanyakan, apa yang kau pesan? Di sini, tidak akan kau temukan makanan yang biasa kita temukan di tempat lain. Aku bahkan memasak makananku sendiri ketika berkunjung ke sini," ucap Costa mengangkat jarinya meraih setusuk penuh ulat putih yang masih meliuk-liuk badannya.
"Apa ini anak tikus?" Ungkap Izumi mengangkat botol kaca dengan rendaman bangkai anak tikus berwarna putih di dalamnya.
"Aku tidak bisa memakannya, aku akan menunggu di luar," ucapku beranjak dan berjalan pergi meninggalkan mereka.
Kuhirup udara dengan sekuat tenaga saat aku berhasil keluar dari bangunan tersebut. Memikirkannya saja sudah membuat perutku seakan diaduk-aduk, apalagi jika... Aahh, aku tidak ingin membayangkannya.
"Apa kau sendirian?" Terdengar suara laki-laki diikuti tarikan kuat pada lenganku.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, lepaskan!" Ucapku menatap laki-laki tinggi besar yang menarik lenganku tadi.
"Mata hijau, kau pasti berharga mahal jika dilelang," ungkap laki-laki tadi kembali menarik lenganku hingga tubuhku jatuh tersungkur ke tanah.
"Lepaskan dia! Atau..." Terdengar suara Costa diikuti teriakan yang memekakkan telinga.
Kuangkat kepalaku ke atas saat ikut kurasakan genggaman di lenganku terlepas. Laki-laki yang sebelumnya menarik lenganku telah duduk di hadapanku dengan kedua tangannya memegang kuat bagian samping kanan lehernya. Cairan merah mengalir dari sela-sela jarinya seraya matanya kembali mengarah ke atas menatap Costa yang masih berdiri dengan sebilah pedang berlumur darah di genggamannya.
"Pergilah! Atau aku akan membunuhmu saat ini juga," sambungnya melangkah maju mendekati laki-laki tadi.
"Ada apa ini?"
"Sa-chan, apa yang terjadi?" Ungkap Haruki kembali yang telah berjongkok di hadapanku.
"Apa kau yang telah melukai Adikku?" Sambungnya beranjak berdiri lalu berjalan mendekati laki-laki tadi dengan sebelah tangannya menarik pedang yang ada di pinggangnya.
Costa bergerak menyusul Haruki, ditariknya lengan Kakakku itu seraya bergerak ia membisikkan sesuatu di telinga Haruki. Kepalaku bergerak menatap Izumi saat kurasakan sesuatu membantuku beranjak berdiri.
Laki-laki bertubuh besar tadi beranjak berdiri lalu lari meninggalkan kami. Haruki kembali memasukkan pedang miliknya diikuti dengan Costa yang juga melakukan hal sama seperti yang Haruki lakukan.
Mereka berdua berjalan mendekati kami, tubuhku bergerak ke depan saat kurasakan dorongan pada punggungku. Kepalaku bergerak menatapi perempuan yang sebelumnya bersama Costa di kereta atau harus kupanggil dia Solana... Karena itulah namanya saat dia memperkenalkan diri di hadapan kedua Kakakku.
Apakah ini yang dinamakan rasa iri perempuan?
Aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini di kehidupan lamaku, karena memang... Aku selalu diperlakukan kasat mata oleh beberapa teman sekolah maupun teman-temanku satu universitas.
__ADS_1
Aku tidak membenci perlakuan yang dilakukan Solana beberapa kali terakhir padaku. Justru, entah kenapa... Aku merasa sangat bersemangat karena perlakuan darinya.