Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXXVII


__ADS_3

"Deus, hari ini kami kembali mengikatkan takdir pada anak-anak Mu. Jaga dan bimbing hubungan mereka untuk kesejahteraan dunia ini. Rangkul mereka untuk tetap berada di naungan Mu. Kami titipkan takdir mereka di tangan Mu, Ameen"


"Ameen," sambung laki-laki berjubah putih mengikuti perkataan laki-laki tua yang berdiri di depan Altar


"Upacara pertunangannya telah selesai. Kalian semua, dipersilakan kembali ke rumah kalian masing-masing" ucap laki-laki tua seraya menatap kami satu persatu


Berbalik aku mengikuti langkah anak-anak lainnya yang telah lebih dulu berjalan duluan. Tampak beberapa anak perempuan tengah sibuk mengipas-ngipas leher mereka yang mengalami luka bakar.


Keluar kami semua dari dalam Kuil, udara sekitar benar-benar terasa menyejukkan tubuh kami yang dikerubungi rasa gerah sebelumnya. Tampak dari kejauhan, Julissa berjalan menuju ke arahku...


"Sachi..." ungkap Julissa seraya meraih kedua tanganku


"Ada apa?" ucapku seraya menatapnya


"Apakah kita masih bisa berteman setelah ini?" ucapnya lagi seraya membuang pandangan ke samping


"Tentu," balasku singkat sembari tersenyum ke arahnya


"Benarkah? terima kasih. Aku akan mengirimkan surat kepadamu lagi nanti..."


"Selamat tinggal. Sampai bertemu lagi." ungkapnya melambaikan tangannya ke arahku seraya berjalan menjauh


"Heh, kalian cepat sekali telah berteman?" terdengar suara Zeki dari arah belakangku


"Kau pun seharusnya melakukan hal yang sama. Belajarlah untuk lebih terbuka dengan perasaanmu.." ucapku seraya menoleh ke arahnya


"Aku tidak akan mempercayai siapapun." ungkapnya seraya menatap kosong kedepan


"Benarkah?" ucapku yang juga menatap lurus kedepan


"Kau tahu. Jika dalam suatu hubungan tidak membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik, itu berarti kau berada di dalam hubungan yang salah..."


"Apa kau ingin mencobanya bersamaku. Kau tahu bukan, kita bertunangan. Jadi tidak ada alasan untukmu menolaknya..."


"Kau tidak ada bedanya dengan mereka yang suka memanfaatkan seseorang." ucapnya kembali menatapku


"Kau benar..."


"Aku akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik..."


"Semakin bijak seseorang, maka semakin sedikit ia akan memberikan nasihat. Berhati-hatilah pada seseorang yang memberikan nasihat tanpa diminta, Darling." ucapku menepuk pelan punggungnya seraya berjalan menjauh


Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak yang aku lalui sebelumnya ketika pertama kali datang kesini. Entah kenapa, cuaca hari ini sangatlah cerah tak seperti sebelumnya yang tampak dipenuhi kabut.


"Apa kau juga melewati arah ini sebelumnya?" tukasku berbalik menatap Zeki yang mengikuti dari belakang

__ADS_1


"Aku datang dari arah sana" ucapnya seraya mengarahkan jari telunjuknya ke sebelah kanan tubuhnya


"Lalu? Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanyaku bingung seraya tetap menatapnya


"Aku tidak bisa membiarkan anak kecil sepertimu berjalan di tengah hutan sendirian." ucapnya balik menatapku


"Kau ingin mengantarku? Kalau begitu, kemarilah... Berjalanlah di sampingku." Ungkapku seraya melambaikan pelan tanganku ke arahnya


Berjalan kami berdua berdampingan menyusuri hutan. Hening, begitulah...


Tidak ada satu katapun keluar di antara kami berdua.


"Bagaimana dengan Keluargamu?" ucap Zeki membuka pembicaraan


"Keluargaku? Hmm, bagaimana aku menceritakannya..."


"Aku mempunyai satu orang kakak perempuan, dan dua kakak laki-laki. Aku tidak terlalu mengenal kakak perempuan ku, karena ia di eksekusi saat aku masih bayi.."


"Kakak laki-laki pertamaku, dia sangat jenius dan juga tampan, aku sangat mengandalkannya saat aku terbentur masalah. Sedangkan kakak laki-laki keduaku, dia sangat kuat, kadang dia terlihat konyol akan tetapi hal itulah yang membuatku tidak dapat meninggalkan mereka..."


"Bagaimana dengan dirimu sendiri? kau Pangeran keempat bukan?" sambungku seraya menatapnya


"....." tertunduk tanpa mengatakan sepatah katapun


"Aku tidak akan memaksamu, jika kau sendiripun tidak ingin menceritakannya. Tapi itu bukan berarti aku tidak ingin mengetahuinya, aku hanya akan menunggunya sedikit lebih lama." ucapku seraya menatap lurus kedepan


"Dia menceritakannya. Akan tetapi, aku pernah membaca kata-kata ini di suatu tempat..."


"Jangan terlalu cepat mempercayai apapun yang kau dengar, karena kebohongan lebih cepat tersebarnya dibandingkan kebenaran..."


"Karena itulah, aku tidak terlalu memikirkannya..." ucapku kembali menatapnya seraya tersenyum


"Kau yakin usiamu empat tahun?" ungkapnya yang juga ikut menatapku


"Kau orang kesekian yang mengatakannya. Lagipun, jika aku tidak berumur empat tahun, kita tidak akan bertunangan..."


"Tanganmu sendiri, bagaimana keadaannya?" ucapku seraya mengarahkan pandanganku ke lengannya


"Aku baik-baik saja, hanya saja aku tidak dapat membayangkan jika gigimu sama tajamnya dengan perkataanmu.." ungkapnya diiringi senyum kecil yang mengukir


"Berhenti sebentar.." ucapku seraya menarik lengannya


"Ada apa?" tukasnya seraya menghentikan langkahnya


"Kau lihat itu?" ucapku seraya mengarahkan jari telunjuk ke sebuah perkemahan dengan beberapa kereta kuda di sekitarnya

__ADS_1


"Aku melihatnya." ungkapnya seraya melayangkan pandangannya ke arah yang aku tunjukkan


"Itu adalah perkemahan Ayahku."


"Ayahmu? maksudmu, Raja dari Kerajaan Sora?" ucapnya terlihat terkejut


"Aku sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya bukan? Ayahku akan melakukan semuanya untukku." ungkapku seraya tersenyum tipis ke arah Zeki


"Aku juga telah mengatakan sebelumnya, kalau aku tidak akan mengkhianati mu. Akan tetapi Zeki, jika kau mengkhianati kepercayaan ku. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan kehidupanmu..."


"Apa kau ingin melihat buktinya?" ucapku lagi seraya menatap Zeki


Kutarik nafasku dalam-dalam, kupukul kedua pipiku dengan sangat kuat dengan kedua telapak tanganku.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Zeki seraya menahan kedua lenganku dengan tangannya


"Hanya lihat saja, dan jangan mengucapkan sepatah katapun." ungkapku seraya melepaskan tangan Zeki yang memegang lenganku dan berjalan menuju ke arah Raja dan rombongannya


"Ayah.." ucapku berjalan ke arahnya seraya berpura-pura menangis


"Ini sakit sekali. Kenapa tidak ada yang mengatakannya, jika leherku akan dibakar.." ucapku kembali seraya langsung memeluknya yang tengah duduk di samping Duke Masashi


"Ayah tidak mengatakannya, karena takut membuatmu khawatir.." ucapnya seraya menepuk pelan punggungku


"Tapi ini sakit sekali, Ayah." Tukasku seraya menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata


"Coba Ayah lihat.." ucapnya, terasa angin dingin berhembus di sekitar luka bakarku


"Apa masih sakit?" ungkapnya kembali seraya menatapku yang kubalas dengan anggukan kepala


"Siapa dia?" ucap Raja seraya menatap ke arah belakangku


"eh?" balasku seraya menatap ke arah yang dilihatnya


"Zeki Bechir, Pangeran keempat dari Kerajaan Yadgar. Tunangan dari Putrimu, memberikan hormat." ucap Zeki seraya membungkukkan tubuhnya ke hadapan kami


"Takaoka Kudou, Raja dari Kerajaan Sora. Dan Ayah dari Putri Takaoka Sachi. Berdirilah, kau tidak perlu memberikan hormat.."


"Apa kau lelah?" ucap Raja seraya kembali menatapku


"Aku lapar, Ayah. Aku sama sekali belum makan dari kemarin.." ucapku yang balas menatapnya


"Baiklah, aku akan meminta mereka menyiapkan makanan. Kau juga, Pangeran Zeki. Bergabunglah bersama kami..." ungkap Raja seraya beranjak berdiri menggendongku


Berbalik ia menuju ke arah salah satu tenda yang didirikan, kupandangi Zeki yang juga balik menatapku..

__ADS_1


"Kau lihat itu, bukan?" ungkapku menggerakkan bibir tanpa suara seraya tersenyum tipis ke arah Zeki


__ADS_2