
Bibirku sedikit terbuka diikuti kedua mataku yang melirik ke arah Haruki, Haruki menundukkan pandangannya dengan sebelah lengannya mengusap wajahnya itu. Aku terhentak saat tiba-tiba kurasakan tanganku tertarik ke depan, kedua mataku membesar tatkala laki-laki tersebut mendenguskan napasnya di samping telingaku.
Suara hentakan napas terdengar di samping diikuti cengkeraman tangan yang dilakukan laki-laki tersebut merenggang. Aku berjalan mundur, mengalihkan pandangan kepada Haruki yang telah mencekik leher laki-laki tersebut dari samping. “Izumi, urus yang satunya!” Perintah Haruki dengan suara datar, kedua matanya bergerak melirik ke arah kusir kereta yang berusaha melarikan diri.
“Eneas, cari senjata di dalam kereta tersebut lalu berikan padaku!” Haruki kembali mengeluarkan suara yang sama datarnya diikuti matanya yang menatap sayu pada laki-laki yang ia cekik di hadapannya itu.
Tubuhku tertegun saat Haruki melirik ke arahku, “apa kau ingin mematahkan tangannya? Atau jarinya?” Aku segera menggelengkan kepalaku membalas pertanyaannya itu.
“Apa aku, mengizinkanmu untuk menolak perkataanku?” Aku kembali terdiam ketika Haruki mengatakannya.
“Kau, masih belum bisa mematahkan tangan seseorang, bukan? Berlatihlah, dengan menggunakan kedua tangannya.”
“Ini perintahku, Sa-chan,” sambungnya sambil melirik dingin ke arahku.
Inilah kenapa, aku tidak pernah berkeinginan mencari masalah dengan Haruki. Aku lebih memilih meladeni kemarahan Izumi, dibandingkan Haruki yang selalu terlihat tenang dari luar.
Aku berjalan mendekatinya, “nii-chan, kita akan menarik perhatian jika menyiksanya di sini,” bisikku sembari berusaha untuk menenangkannya.
“Eneas!” Bentak Haruki memanggilnya, aku berjalan melewati Haruki diikuti kepalaku yang bergerak menggaruk tengkuk.
“Tutup mata dan telinga kalian!” Perintahku pada kakek dan cucunya yang telah meringkukkan tubuh mereka menatap kami.
Aku menggigit bibirku saat terdengar suara keras dari arah belakang, suara itu kembali terdengar diiringi teriakan yang dilakukan oleh laki-laki yang lehernya dicekik oleh Haruki sebelumnya. Napasku keluar perlahan sambil kuberanikan diri untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Aku menghela napas pelan ketika mataku menatap Haruki yang mencengkeram rambut laki-laki tersebut, laki-laki itu berlutut di hadapan Haruki diikuti kedua tangannya yang patah sedikit menjuntai menyentuh tanah. Pandangan mataku melirik ke arah Eneas yang berjalan mendekat dengan sebuah pisau kecil di tangannya, langkah kaki Eneas berhenti di samping Haruki diikuti tangan kanannya mengarahkan pisau kecil tersebut ke arah Kakakku itu.
Haruki mengangkat kaki kanannya menerjang dada laki-laki tersebut hingga dia terjungkal ke belakang, “Lux, awasi sekitar! Segera beritahu aku, jika ada yang mendekat!” Perintah Haruki diikuti kakinya yang berjalan mendekati laki-laki yang masih terbaring kesakitan tersebut.
Haruki bergerak menduduki tubuh laki-laki itu, dia melepaskan pisau pemberian Eneas dari sarung yang menutupinya seraya diarahkannya mata pisau yang ada di genggamannya tadi menyusuri wajah laki-laki tadi.
“Apa kau, pemimpin di sini?” Tanya Haruki, dia menggerakkan pisau tadi mendekati telinga laki-laki itu.
“Kau tidak mendengar perkataanku? Berarti telingamu tidak kau butuhkan, bukan?” Aku sedikit memejamkan kedua mataku saat darah tiba-tiba mengucur keluar ketika Haruki menggerakkan pisau yang ada di tangannya tadi memotong perlahan telinga laki-laki itu.
“Simpanlah!” Perintah Haruki dengan sedikit menyunggingkan bibirnya ke arah sang kakek dan cucunya yang masih menutup kedua mata dan telinga mereka, ikut kuarahkan pandangan mataku yang melirik ke arah potongan telinga yang Haruki lemparkan mendekati mereka.
“Nii-chan!” Haruki menghentikan tangannya yang mengangkat pisau di tangannya mendekat ke arah bibir laki-laki tadi.
Tarikan napasku kembali terhenti sejenak ketika laki-laki tadi kembali menjerit kesakitan. Aku mengalihkan pandangan kepada Haruki yang sudah tertunduk kembali dengan menarik ke atas pisau yang ia tancapkan di salah satu bola mata laki-laki tadi.
“Haru-nii,” aku kembali untuk berusaha menenangkannya, “kau tidak akan mengecewakan adikmu sendiri, bukan?” Sambungku ketika Haruki mengangkat kepalanya menatapku.
Haruki menghela napas, dia beranjak dengan melemparkan pisau yang ada di tangannya ke samping laki-laki tersebut. “Aku marah karena dia menyentuh adikku sembarangan. Jadi, aku memerintahkanmu untuk membunuh dirinya dengan tanganmu sendiri, Sa-chan,” sambungnya lagi-lagi bersuara dengan sedikit berjalan mundur menjauhi laki-laki tadi.
Aku lama menatapnya sebelum menghela napas kuat mendekati mereka berdua, aku berjongkok dengan meraih pisau yang ia lemparkan ke tanah. "Maafkan aku,” ucapku ketika telah berjongkok di samping laki-laki yang masih bergumam kesakitan itu.
Aku mengangkat pisau tadi menggunakan tangan kiri diikuti tangan kananku yang memegang dagu laki-laki itu, kuarahkan pisau tadi menggesek leher laki-laki tersebut hingga darah mengucur deras keluar. Aku beranjak berdiri kembali ketika tanganku sedikit terkena cipratan darah dari lehernya.
__ADS_1
Aku melirik ke sekitar saat suara Izumi tiba-tiba terdengar, dia berjalan mendekat dengan pedang berlumuran darah di tangannya, “kalian masih di sini?” Tanya Izumi ketika dia telah menghentikan langkahnya di dekat kami.
“Apa kau telah melakukan apa yang aku perintahkan?” Haruki balik bertanya kepadanya.
Izumi menganggukkan kepalanya diikuti sebelah tangannya menggoyangkan sedikit pedang yang ada di tangannya hingga sisa-sisa darah yang masih menempel … Memercik menjauhi. “Ambil barang-barang berharga yang ada di kereta itu Izumi! Dengan begitu, kita akan sedikit bisa mengalihkan pandangan dari para Kesatria yang ada di sini. Mereka akan mengira jika dia mati karena ada perampok yang membunuhnya,” cetus Haruki sambil berbalik, melangkahkan kakinya mendekati kakek yang membawa kami ke sini.
Aku mengembuskan napas berat sambil berjalan mengikutinya, “kakek,” ucap Haruki berjongkok di hadapannya.
Kakek itu membuka kedua matanya perlahan, dia kembali menutup cepat kedua matanya itu saat tersadar jika Haruki telah berjongkok di hadapannya. Haruki mencengkeram tangan kakek tersebut lalu menarik tangan kakek itu hingga tangannya tadi sedikit menjauh dari matanya.
“Apa dia, majikan yang kau maksudkan?” Tanya Haruki, kakek itu semakin tertunduk, tak berani membalas tatapan Haruki.
“Aku tidak akan membunuhmu jika kau menjawab pertanyaanku.” Kakek itu semakin gemetar ketakutan akan apa yang Haruki katakan.
“Kakek, kami ingin menyelamatkan kau, dan juga cucumu.”
Kakek tersebut mengangkat wajahnya menatapku, “cucumu sudah menceritakan semuanya kepada kami. Kakek juga tak ingin bukan? Jika cucumu disakiti lagi oleh mereka,” aku tersenyum saat kedua mata kakek itu sedikit membesar menatapku.
Kakek itu bersujud di depan Haruki, “maafkan kesalahanku, maafkan kebodohanku. Bunuh saja aku, tapi ampuni cucuku … Dia masih sangatlah muda untuk mati.”
“Masih muda katamu?” Aku melirik ke arah Eneas yang berjalan sambil memotong tangisan kakek tua itu, “jika kau menganggapnya masih kecil, kau tidak akan membiarkan orang-orang itu menyentuhnya! Membuat dia harus kehilangan hampir seluruh jari kakinya!” Wajah Eneas merah padam menahan amarah.
Kakek itu kembali meraung, menangis tanpa henti dengan wajahnya yang semakin terbenam ke tanah, “aku akan memberitahu,” tukas kakek itu terhenti sejenak, “apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kumohon, ampuni dan selamatkan cucuku dari tempat terkutuk ini,” sambung kakek tersebut dengan suaranya yang terdengar parau menyentuh telinga.
__ADS_1