Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXXIX


__ADS_3

“Apa kau yakin kita akan menginap di sini?” sahut Izumi, dia melangkah sedikit ke depan, menatap sebuah rumah kecil yang dihimpit oleh dua rumah sedikit besar di kanan dan kirinya.


“Aku meminta Kacper untuk menyiapkan tempat untuk kita tinggali sementara selama di sini. Setidaknya, di dalam sana terdapat kamar mandi untuk kita membersihkan diri,” ucap Haruki, dia berjalan maju sambil membuka gembok rumah dengan sebuah kunci yang ada di tangannya.


“Ayo masuk, Adik-adikku! Karena besok, kita akan langsung mengunjungi Istana.”


“Hah?!” ungkapku, Eneas, dan juga Izumi secara bersamaan.


“Jangan mengganggu tetangga kalian semua. Hanya masuk saja ke dalam, bersihkan tubuh kalian lalu beristirahatlah!” sambung Haruki yang telah menghilang masuk ke dalam.


Aku melirik ke arah Izumi yang juga sudah balas melirikku. Kedua kakiku bergerak mendekati pintu rumah yang terbuka saat Izumi menggerakkan sedikit kepalanya. “Nii-chan, apa kau yakin kita akan beristirahat di sini? Maksudku-”


“Kau ingin kita tinggal di ruangan yang gelap ini?” terdengar suara Izumi yang menimpali perkataanku.


“Mau bagaimana lagi, kita sampai tepat sebelum malam datang, kita tidak memiliki waktu untuk membuat penerangan saat ini. Jadi, istirahat saja, besok siang baru kita akan membersihkan tubuh. Dan untukmu, Izumi … tuntun kami untuk tidur di tempat yang layak!” sambung Haruki kembali yang terdengar dari arah depan.


____________.


Kedua mataku terbuka perlahan diikuti tangan kananku bergerak menggaruk kening ketika suara gaduh samar-samar terdengar. Aku perlahan beranjak duduk saat suara Izumi ataupun Haruki terdengar bergantian. “Ini pakaian milik Ryu, apa kau tidak bisa membedakan pakaian milikku dan miliknya?”


“Aku tidak tahu, aku tidak tahu! Cari saja sendiri!” timpal Izumi, dia beranjak berdiri dengan membawa lipatan kain di tangannya.


“Berikan ini kepadanya!” perintah Haruki sembari memberikan lipatan kain yang ada di tangannya kepada Izumi sebelum dia duduk berjongkok.


“Ryu, pakaianmu!” sambung Izumi seraya melemparkan lipatan kain pemberian Haruki pada Ryuzaki yang berdiri menatapi mereka.

__ADS_1


“Kalian telah bersiap-siap? Kenapa tidak membangunkanku?”gumamku sambil menatap mereka bergantian.


Izumi membungkukkan tubuhnya, “itu karena kau yang paling lama membersihkan tubuh di antara kami. Kalau kami harus menunggumu terlebih dahulu, bisa-bisa matahari sudah bersinar terang sebelum melakukan apa pun,” ucapnya yang kembali beranjak sambil merapikan pakaian yang baru saja ia kenakan.


Aku berbalik dengan meraih tas yang ada di sampingku, “jika pun aku bersiap-siap, waktu yang dihabiskan tidak akan selama itu,” gerutuku sambil membuka tas lalu mengambil lipatan pakaian yang akan aku kenakan darinya.


“Kami sengaja tidak membangunkanmu. Kau terlihat lelap sekali, jadi kami membiarkanmu untuk tidur sedikit lebih lama,” ucap suara Haruki yang terdengar dari arah belakang.


Aku beranjak berdiri seraya berjalan dengan membawa lipatan pakaian tadi di genggaman, “Eneas sedang di dalam,” ucap Ryuzaki, aku menoleh ke arahnya sebelum melanjutkan lagi langkah, menyandarkan diri di samping pintu kamar mandi.


______________.


“Kami, ingin bertemu dengan Raja!”


Dua Kesatria yang berjaga di depan gerbang Istana menganga saat Haruki mengatakan hal tersebut dengan santainya. “Apa dia telah kehilangan pikirannya?” umpat Izumi dengan setengah berbisik di sampingku.


Salah satu Kesatria melirik ke arah kami bergantian, “kami sekarang sedang berkelana, jadi kami tidak membawa satu pengawal pun. Namun, ini sudah cukup untuk menjadi bukti, bukan?” tukas Haruki, dia mengangkat sebuah koin emas berukuran besar ke arah Kesatria tersebut.


“Nii-chan, apa kau tahu apa itu?”


“Itu koin emas yang dicetak langsung menggunakan stempel Kerajaan. Ayah sengaja membuatnya sebagai bukti jika kita adalah Pangeran dan Putri Sora, saat seseorang meragukan status yang kita miliki,” balas Izumi berbisik padaku.


Kedua Kesatria tersebut saling lirik, mereka menganggukkan masing-masing kepala mereka lalu berjalan mendekati gerbang dan membukanya. Haruki disusul Ryuzaki berjalan lebih dulu melewati gerbang, aku terlebih dahulu melirik ke arah Izumi sebelum menyusul mereka berdua yang telah berjalan semakin menjauh.


“Kami ingin bertemu dengan Raja!”

__ADS_1


Lagi-lagi Haruki mengucapkannya kepada salah seorang kesatria yang berdiri tak terlalu jauh dari gerbang. Kesatria itu mengangguk, tubuhnya berbalik membelakangi kami sebelum melanjutkan langkahnya berjalan. Kesatria tersebut menghentikan kembali langkahnya ketika kami berhenti di sebuah ruangan luas dengan pintu terbuka.


Kesatria itu masuk ke dalam, dia kembali lagi setelah kami berdiri menunggu sedikit lama dengan mengizinkan kami untuk masuk ke dalam. Langkahku terhenti saat Haruki juga menghentikan langkahnya, “Takaoka Haruki, Pangeran pertama dari Kerajaan Sora. Memberikan salam untukmu, Raja Piotr Zygmunt,” ucap Haruki, kami ikut membungkukkan tubuh saat Haruki sendiri telah membungkukkan tubuhnya.


“Mata hijau, mata abu-abu … Kumpulan pemuda? Jadi, ramalan itu benar,” ucap laki-laki tersebut, dia beranjak berdiri dari singgasananya dengan tersenyum lebar menatapi kami.


Ramalan?


“Kedatangan kami ke sini, karena aku … Ingin melamar Putrimu,” ucap Haruki yang membuatku mengernyitkan kening, “untuk adikku,” sambung Haruki lagi yang membuat keningku semakin mengerut mendengarnya.


Raja Piotr kembali duduk menatapnya, “panggilkan Putriku!” perintahnya dengan nada tinggi kepada seorang laki-laki yang berdiri tak terlalu jauh darinya.


“Aku, mendengar banyak hal tentang kalian darinya. Jadi kapan? Kalian akan melawan Kaisar?” Raja Piotr mengatakannya dengan sangat bersemangat diikuti senyum melebar terukir di pipinya.


“Kami, tidak terlalu paham apa yang engkau katakan, Raja.”


“Putriku mengatakan, jika akan ada sekumpulan pemuda yang datang mengunjungi Kerajaan kami. Di antara mereka, ada yang memiliki mata hijau dan juga mata abu-abu. Jika aku ingin membalaskan dendamku pada Kaisar, maka aku … Haruslah bergabung bersama kalian.”


“Kaisar sialan itu! Dia membuat Putra pertamaku tak bisa berjalan lagi, lalu membunuh Putraku yang lain saat dia meminta anak-anakku untuk mengunjungi Kekaisaran. Aku, ingin sekali memakan jantungnya yang masih berdetak untuk membalaskan semua dendam ini,” sambungnya dengan mencengkeram kuat singgasananya.


Aku baru paham. Jadi karena itu … Jadi karena itu, kenapa para Kesatria yang berjaga di gerbang Kerajaan, benar-benar berusaha untuk memastikan apa salah satu di antara kami terdapat perempuan atau tidak. Itu karena, ramalan yang hanya menggambarkan sekumpulan pemuda saja kah?


“Apa mereka benar-benar telah datang?”


Aku berbalik ke belakang saat suara perempuan terdengar. Pandangan mataku terjatuh ke arah seorang gadis remaja yang berdiri di depan pintu, menatap kami dengan napasnya yang tersengal. Dia terlihat sangat cantik …. Kulit putih, rambut cokelat dengan silau keabu-abuan, pipinya yang bersemu merah tampak serasi dengan bola matanya yang biru terang itu.

__ADS_1


Gadis itu berlari cepat mendekati salah satu di antara kami, “aku menunggumu. Aku benar-benar merindukanmu … Terima kasih Deus, terima kasih,” tangis gadis tersebut sambil memeluk erat Eneas yang berdiri di dekatku.


__ADS_2