Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLVI


__ADS_3

Aku memegang lengan Haruki saat kami melangkahkan kaki mengikuti para laki-laki yang sebelumnya mengepung kami. Para laki-laki itu membawa kami ke sebuah reruntuhan gedung yang ada di dekat hutan, aku melirik ke arah obor menyala yang menancap di tanah yang ada di sekeliling kami.


“Jika kalian menginap di penginapan, para Kesatria akan langsung menemukan kalian yang masuk ke sini secara sembunyi-sembunyi,” ucap laki-laki yang mengajak kami tadi saat dia berbalik menatap kami.


“Apa jaminan, jika tidak ada apa pun yang berbahaya untuk kami di sana,” Haruki melirik ke arah mereka yang terdiam menatap kami.


Mereka saling lirik antara satu dan yang lainnya. “Jika kalian tidak ada yang ingin menjawabnya. Maka kami bisa melakukan apa pun untuk keamanan kami, bukan?” Haruki kembali bertanya dengan menatapi mereka bergantian.


“Eneas, bawa racun yang mudah terbakar ke sini! Izumi, ambil salah satu obor yang ada di sana untuk membakar racun!” Perintah Haruki dengan sedikit meninggikan suaranya.


“A-apa yang i-ingin kalian lakukan?!” Salah satu laki-laki membentak diikuti kedua matanya yang membesar menatapi kami.


“Kami hanya ingin menjamin keselamatan kami di dalam, karena itu … Kami, akan menyebarkan racun di dalam tempat itu sebelum kami menempatinya.”


“Apa kalian sudah gila?!” Laki-laki lainnya tiba-tiba berteriak, kedua langkah kakinya mendekat dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah kami.


Aku melirik ke samping saat gema suara besi terdengar mendekat, pandangan mataku kembali beralih kepada para laki-laki itu yang terlihat semakin meringkuk ketika suara itu semakin mendekat. “Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian, mengganggu istirahat Ketua!” Tubuhku sedikit terhentak, kugenggam erat lengan pakaian Eneas yang berdiri di sampingku saat mataku terjatuh pada seorang laki-laki yang tiba-tiba jatuh tersungkur ke depan.


Masih kuarahkan pandangan mataku kepada laki-laki yang jatuh tersungkur tadi, aku melirik ke arah pisau yang entah kapan telah tertancap di leher laki-laki itu. “Apa yang ingin kalian lakukan di sini?” Aku segera berbalik ketika suara besi saling bertabrakan terdengar dari arah samping.


Izumi menurunkan tas yang ia angkat di samping kepalanya, dia tertunduk dengan sebelah tangannya meraih dan menarik sebuah pisau yang menancap di tas tersebut. “Heh, ternyata kau dapat menghindarinya,” suara laki-laki yang sama kembali terdengar dari arah reruntuhan itu.


Izumi melangkah mundur diikuti sebelah lengannya yang terangkat ke hadapanku, masih kuarahkan pandangan mataku ke arah beberapa bayangan hitam yang berjalan mendekat ke arah kami. “Siapa kalian?” Tanya seorang laki-laki bertubuh hampir sama seperti Izumi ketika dia menghentikan langkah kakinya di hadapan kami.

__ADS_1


“Kami, hanya ingin mencari tempat untuk menginap. Lalu mereka, membawa kami semua ke sini,” jawab Haruki menimpali perkataannya.


“Tempat menginap?”


“Pendatang?” Bisik beberapa laki-laki itu bergantian.


Laki-laki itu mengarahkan tangan kanannya dengan cepat ke arah Haruki, gerakan tangan laki-laki yang hendak mendekati leher Haruki tadi tiba-tiba berhenti saat pergelangan tangannya itu telah dicengkeram kuat oleh Haruki. “Aku akan lebih menghargai jika kau bertanya tentang apa yang terjadi di antara kami,” tukas Haruki kembali melirik tajam ke arah laki-laki itu.


Haruki melemparkan lengan laki-laki yang ia cengkeram sebelumnya ke samping, “aku katakan sekali lagi. Kami membutuhkan tempat untuk beristirahat. Jadi, jika di sini kami tidak menemukannya, kami akan segera kembali,” sambung Haruki lagi, kali ini lirikan matanya beralih kepada kami yang masih berdiri di belakangnya.


“Apa kalian, berasal dari luar?” Dia sedikit mendongakkan kepalanya menatap Haruki.


“Kami berasal dari luar,” jawab Haruki membalas tatapannya.


“Kalian,” laki-laki itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah kumpulan laki-laki yang mengepung kami sebelumnya, “berjaga di sekitar sini. Jangan biarkan, ada seseorang pun yang mendekat,” ungkapnya lagi dengan melangkahkan kakinya mendekati reruntuhan, tempat dia muncul sebelumnya.


“Oi, kalian yang di belakang, tunggu apalagi? Ikuti aku!” Perintahnya dengan mengangkat jari telunjuknya lalu menggoyangkan jari telunjuknya itu ke kanan dan kiri bergantian/


Dia kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah kami. Aku berjalan saat kurasakan genggaman di tanganku yang dilakukan Haruki, sesekali aku melirik ke sekitar, melirik ke arah beberapa laki-laki yang mengikuti Pria tadi keluar dari reruntuhan, tengah berbaris menatap kami dari sisi kanan dan juga kiri.


Pria itu membawa kami ke sebuah gua bawah tanah dengan banyak sekali obor yang berbaris menerangi jalan. Dengan perlahan, kami menuruni tangga terbuat dari batu yang menjadi jalan masuk ke dalam gua. Aku kembali melirik ke sekitar, melirik ke arah beberapa terowongan yang bersusun rapi di kanan dan kiri kami.


Pria itu berbelok ke kiri, memasuki salah satu terowongan dengan cahayanya yang temaram. Aku ikut melangkahkan kaki mengikutinya ketika Haruki sedikit menarik tanganku yang ia genggam. Pria itu memasuki sebuah lubang besar berbentuk segiempat dengan dinding penuh tumbuhan merambat yang memenuhinya.

__ADS_1


“Apa ini? Apa ini, kereta api?” Bisikku pelan ketika pandangan mataku terjatuh pada beberapa bangku yang bersusun di dalamnya.


Aku menggigit kuat bibirku saat kurasakan genggaman Haruki di tanganku menguat tiba-tiba, seakan memintaku untuk menutup mulutku. Aku kembali mengangkat pandanganku, sesekali aku melirik ke beberapa tengkorak manusia yang duduk bersandar pada beberapa bangku layaknya manusia yang masih hidup.


Pria itu melompat turun ketika terowongan, maksudku gerbong kereta itu berakhir. Kembali aku melirik ke arah rel yang berada di sepanjang jalan sebelum aku melompat turun mengikuti mereka. Langkah kaki kami terus berlanjut, mengikuti sosok Pria tadi yang hanya berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Dari dulu, aku selalu penasaran … Akan dunia apa yang aku tinggali sekarang ini. Jika itu kereta, apakah ini masa depan? Atau ini, hanya persimpangan waktu?


Semakin kami berjalan maju, semakin itu juga terdengar suara hiruk pikuk yang terdengar menggema dari kejauhan, aku mengangkat tanganku yang lain menggenggam erat lengan pakaian Haruki ketika suara cekikikan perempuan ikut terdengar bersamaan dengan suara hiruk pikuk yang aku maksudkan.


Semakin lama kami berjalan, suasana temaram yang ada di hadapan kami perlahan menghilang, digantikan cahaya yang sedikit demi sedikit menyeruak … Menerangi sekitar. Kedua mataku membesar tatkala pandanganku mengarah ke sekitar, bagaimana tidak … Baik laki-laki ataupun perempuan yang ada di dalam terowongan, mereka semua tidak mengenakan sehelai pa-


“Kau tidak boleh melihatnya,” ucap Haruki diikuti pandangan mataku yang menggelap, “geser ke kiri,” sambungnya lagi terdengar di sampingku.


Aku mengikuti apa yang ia katakan, langkah kaki kami kembali berlanjut ketika kepalaku yang ia pegang bergerak ke samping hingga wajahku sedikit terbenam di dadanya. Semakin aku melangkahkan kaki, suara desahan, erangan yang ada di sekitar, terdengar berkecamuk di telinga.


“Tampan, a-apa kau … Ingin aku hibur,” terdengar suara wanita yang sedikit terengah-engah terdengar entah dari mana.


“Maaf, aku sudah memiliki pasangan. Aku benar, bukan?” Ikut terdengar suara Izumi yang menimpali perkataan perempuan tadi.


“Dia benar, laki-laki tampan ini, adalah pasanganku,” aku menggigit kuat bibirku ketika suara Eneas terdengar menimpali perkataan Izumi.


“Baron, meminta kita untuk menyiapkan semua persembahan, ketika dia datang berkunjung,” kedua tanganku menggenggam erat pakaian yang Haruki kenakan saat suara laki-laki tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


“Katakan kepada Ayahku itu, jangan terlalu membuatku banyak berkerja. Aku pun, ingin bersenang-senang,” timpal suara Pria yang memandu kami tadi menimpali perkataan suara asing yang terdengar.


__ADS_2