
"Putri, syukurlah... Syukurlah," ucapnya tertunduk dengan kedua tangannya menutupi wajahnya.
Aku melangkah maju mendekatinya. Apa Ayah yang mengutusnya datang ke sini? Lihatlah, dia sama sekali tidak berubah... Wajahnya, tubuhnya, sama persis dengan Tsubaru yang selalu merawatku dulu.
"Tsu nii-chan," ucapku berdiri di hadapannya dengan nada bergetar saat wajahnya kembali menatapku.
"Aku sangat merindukanmu Kakak. Maaf, aku membohongi mu selama ini," sambungku, lama dia menatapku dengan kedua matanya yang memerah.
"Putri," ucapnya seraya meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya.
"Kau tumbuh dengan sangat cantik Putri. Dan jujur itu membuatku sedih," sambungnya tersenyum menatapku.
"Tapi, dibandingkan itu. Aku bersyukur, pelayanmu ini sangat bersyukur bertemu denganmu lagi," ungkapnya lagi sembari berlutut di hadapanku, semakin kuat genggaman tangannya seraya digerakkannya telapak tanganku tadi menyentuh dahinya yang tertunduk.
"Kau masih sangatlah tampan seperti dulu Tsu nii-chan. Aku benar-benar merindukan senyuman yang kau lakukan," ucapku, diangkatnya kepalanya menatapku.
"Jangan keluarkan rayuan itu pada sembarang laki-laki. Kau pasti tahu sendiri, bagaimana berbahayanya dunia ini untuk perempuan seperti kalian, Putri," ucapnya menggerakkan tubuhnya beranjak berdiri.
"Maaf," ungkapku, kugerakkan tubuhku berbalik melangkahkan kaki.
"Apa yang kau lakukan di sini nii-chan? Apa Ayah yang memerintahkan nii-chan ke sini?" Ucapku, kuarahkan pandanganku menatapnya yang berjalan di sampingku.
"Yang Mulia memerintahkan kami bertiga untuk membantu membangun sebuah wilayah yang akan menjadi sekutu Kerajaan Sora."
"Kami bertiga?"
"Tatsuya dan bahkan Tsutomu, sekarang mereka pasti tengah menghabiskan waktu bersama Pangeran Haruki dan Pangeran Izumi," ucapnya kembali tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Aku tahu," sambungnya, diangkatnya kepalanya ke atas menatapi langit-langit lorong Kastil.
"Aku tahu, jika kau masih hidup Putri. Saat kami mendapatkan kabar kematian kalian, hatiku sangatlah hancur, rasanya benar-benar tak ada gunanya untukku hidup. Tapi, saat tiba-tiba Lux menghilang... Aku yakin, Putri yang aku besarkan masih hidup dan dia sekarang pasti berjuang. Maka aku memutuskan, akan menjaga rumahnya saat dia kembali," ucap Tsubaru lagi padaku.
"Apa kau telah bertemu dengan Pangeran Zeki, Putri?" Sambungnya, kugerakkan kepalaku mengangguk membalas tatapannya yang mengarah padaku.
"Syukurlah. Dia laki-laki yang baik," ungkapnya, digerakkannya lagi kepalanya menatap lurus ke depan.
"Apakah ada yang aneh padaku?" Ungkapku saat dia berbalik dan lama menatap, kuarahkan telapak tanganku bergerak menepuk-nepuk pelan pipiku.
"Bayi perempuan yang selalu kugendong saat dia rewel, sekarang telah tumbuh dewasa. Aku masih sedikit sulit untuk mempercayainya," jawabnya kembali tersenyum ke arahku.
"Maafkan aku Putri, tapi pelayanmu ini membutuhkan sedikit waktu menerima kenyataan," sambungnya kembali membalikkan tubuhnya.
Kami berjalan menyusuri lorong tanpa mengeluarkan suara satu sama lain. Bayangan saat pertama kali aku tersadar di dunia ini, kembali mencuat di ingatan.
"Putri, apa ada sesuatu yang salah?" Tukasnya terdengar, kuturunkan telapak tanganku yang sebelumnya menutupi wajah.
"Tidak ada yang salah," ungkapku tersenyum menatapnya.
"Bagaimana Kerajaan nii-chan? Apakah semuanya baik-baik saja?" Sambungku melangkahkan kaki melewatinya.
"Semuanya baik-baik. Kesehatan Yang Mulia semakin membaik saat dia kembali dari kunjungan ke Kerajaan Balawijaya."
"Benarkah, syukurlah," ucapku mengalihkan pandangan padanya yang tertunduk.
"Aku sempat merasa heran awalnya, tapi sekarang... Aku mengerti benar kenapa dia kembali hidup seperti dulu," ucapnya kembali tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Senyumanmu masih mematikan seperti sebelumnya nii-chan. Jika saja kau sering-sering melakukannya, aku tidak yakin akan bisa menghitung seberapa banyak perempuan yang jatuh hati padamu."
"Seberapa banyak pun itu, aku akan tetap melayani mu, my precious princess," ucapnya kembali tersenyum menatapku.
______________________
Maafkan aku Tuhan, aku telah menjelma menjadi bayi yang mesum.
Kugerakkan kepalaku berulang-ulang membentur meja rias yang ada di kamar. Pikiran kotorku ketika bayi tiba-tiba terngiang di kepala, aku kembali tersadar... Jika saja aku tidak mati di tangan perampok itu, mungkin sekarang usiaku sudah tiga puluh empat tahun.
Tiga puluh empat tahun, dan baru bisa merasakan cinta. Jika kali ini aku mati lagi dan bertemu dengan Tuhan, ingin rasanya aku melontarkan semua kekesalanku padanya. Kehidupan ku yang sebelumnya memanglah damai, tapi tak ada laki-laki pun yang tertarik karena bentuk tubuhku, sedangkan di sini... Aku harus menghadapi berbagai cobaan dulu. Rasanya aku ingin sekali mengutukmu Tuhan... Tapi setidaknya aku bersyukur, jiwaku terlahir kembali menjadi Sachi.
Aku penasaran, kemana Sachi yang sebenarnya pergi?
Saat aku menggantikan jiwanya... Kemana dia menghilang? Apa sejak awal tubuh ini milikku? Atau aku hanya meminjamnya untuk sementara?
Kau sangatlah cantik Sachi. Bahkan akupun, mengakuinya.
Lama kutatap bayangan tubuhku di cermin, jari-jemariku bergerak menyusuri bayangan yang terpantul di cermin. Lama kutatap mata hijau yang terpantul di cermin tersebut, siapa yang tak jatuh hati... Saat mata ini memandang mereka.
Kulit putih, hidung mancung, bibir merah yang kecil tipis, rambut cokelat yang mengembang. Entah kenapa... Aku merasa tak pantas berada di dalam tubuh ini.
Sebenarnya, apa tujuan Tuhan melakukan ini padaku?
Seharusnya dia memilih perempuan yang berprofesi sebagai polisi, pembunuh bayaran atau mungkin mafia seperti di komik-komik dan di novel untuk bereinkarnasi ke dunia ini.
Kenapa aku? Aku hanya mahasiswi biasa, aku hanya seorang kutu buku yang selalu menarik diri dari kehidupan sosial.
__ADS_1