Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXXV


__ADS_3

“Segeralah, cari tempat berlindung,” ucapku pelan padanya, perempuan paruh baya itu mengangguk sebelum dia berjalan dengan mengendong anaknya menjauhiku.


Aku kembali beranjak berdiri dengan mengalihkan pandangan mataku ke sekitar, kuangkat sebelah tanganku mencengkeram dadaku saat kutatap beberapa penduduk yang tengah menangisi keluarga mereka, “Yoona, Luana, Sasithorn,” gumamku pelan diikuti kedua kakiku yang melangkah ke depan.


“Nee-chan, kau mau pergi ke mana?!” Suara Eneas terdengar dari belakang, aku tetap melangkah maju tanpa menggubris teriakannya.


Langkah kakiku bergerak semakin cepat dan semakin cepat berlari menyusuri jalan yang dipenuhi abu itu, sesekali aku berhenti dengan menggerakkan kepalaku ke kanan dan juga kiri bergantian, “Yoona! Luana! Sasithorn! Haru-nii! Izu-nii!” Berulang kali aku meneriaki nama mereka seraya kakiku masih berlari menyusuri jalan.


Ya Tuhan, semoga mereka bertiga baik-baik saja.


Langkah kedua kakiku berhenti, “apa yang kalian lakukan? Geser batunya!” Suara Haruki yang terdengar menjadi penyebab langkah kakiku terhenti, aku menoleh ke samping kanan … Kutatap, Haruki dan Izumi sedang berusaha mendorong bongkahan batu dengan beberapa Kesatria yang membantu mereka.


Dengan perlahan aku berjalan mendekati mereka, langkah kakiku kembali terhenti saat terdengar suara tangisan perempuan di samping kiri. Aku menoleh ke arah suara tersebut, aku menggigit kuat bibirku saat kutatap Yoona yang tengah merangkul Sasithorn di sampingnya, Sasithorn duduk berlutut dengan tak henti-hentinya menangis.


Apa yang terjadi?


Aku berjalan mendekati mereka berdua, “kak Sasithorn,” suaraku terdengar bergetar memanggil namanya.


Sasithorn menoleh ke arahku diikuti Yoona yang juga melakukan hal yang sama, “Sachi,” tangisnya menatapku, tangisannya semakin kuat terdengar saat aku memeluk tubuhnya.


“Apa yang terjadi padamu Kak? Apa yang terjadi pada kalian?” Sasithorn kembali memeluk tubuhku dengan kuat, “kak Luana, dia terjebak. Dia terjebak karena berusaha menolongku, bagaimana ini?” pelukan Sasithorn di tubuhku semakin kuat, ikut kurasakan cengkeraman tangannya di pundakku ikut menguat.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah mereka yang masih berusaha mendorong bongkahan batu dari puing-puing dinding bangunan, “Kou!” Teriakku memanggil namanya, kutatap para Kesatria yang berdiri di samping kedua kakakku itu berlari tunggang-langgang berusaha menghindarinya.


Kou menurunkan tubuhnya di samping Haruki, kepalanya bergerak mendorong bongkahan batu tersebut. Kepulan asap membumbung di udara saat bongkahan batu besar itu bergeser oleh Kou, Izumi menarik lengan Haruki saat Haruki berusaha berjalan mendekati lubang bawah tanah yang sebelumnya ditutupi oleh bongkahan batu tadi.


Haruki meraih tangan Izumi, lalu berjalan mendekati lubang tersebut saat Izumi melepaskan genggaman tangannya di lengan Haruki … Sasithorn beranjak lalu berlari mendekati mereka saat Haruki kembali keluar dengan mengendong seorang perempuan di tangannya. Aku ikut berlari mendekati mereka, kuraih pundak Sasithorn yang sempat jatuh tersungkur sebelumnya.


“Kak,” tangis Sasithorn kembali saat Haruki dengan perlahan duduk merangkul tubuh Luana.


Haruki menggerakan telapak tangannya menyentuh pipi tunangannya itu, “Luana, Luana,” Haruki berulang-ulang memanggil namanya.


“Luana,” panggil Haruki sekali lagi padanya, tepukannya di pipi Luana terhenti, “kak, kak Luana … Kumohon bangunlah,” tangisan Sasithorn semakin kuat, dia mengangkat tangan kanan Luana hingga menyentuh kepalanya yang tertunduk.


“Maafkan aku, jika saja Kak Luana tidak menyelamatku, dia … Dia,” tangis Sasithorn dengan mengangkat sebelah tangannya mengusap matanya, “maafkan aku,” ucapnya lagi dengan terbata.


Izumi melangkahkan kakinya mendekati Sasithorn, “ikutlah denganku,” ucapnya pelan saat dia duduk berlutut di samping tunangannya itu, “apa yang harus aku lakukan? Semuanya kesalahanku, ini semua kesalahanku,” tangis Sasithorn semakin menguat saat dia mengangkat kepalanya menatapi Izumi.


Izumi mengangkat sebelah tangannya memukul tengkuk Sasithorn hingga dia tak sadarkan diri, “maafkan aku,” ucap Izumi pelan saat kepala Sasithorn jatuh di pundaknya.


Izumi mengendong Sasithorn yang sudah tak sadarkan diri itu, “bisakah kau membantuku untuk menjaganya,” ucapnya menatap ke arah Yoona yang berdiri di belakangku.


Kutatap Izumi yang telah berjalan menjauh mengendong Sasithorn diikuti Yoona yang juga berjalan di belakangnya. Aku kembali mengalihkan pandangan kepada Haruki yang masih diam tertunduk menatapi Luana yang sudah tak bernyawa di rangkulannya, sesekali tangannya mengusap pipi Luana yang menghitam oleh abu.

__ADS_1


“Nii...” Haruki mengangkat kepalanya saat aku mencoba memanggilnya, “apa kalian telah mengabari Ayah?” Tanyanya pada seorang Kesatria yang berdiri di dekatnya, “kemungkinan mereka akan,” ucapan Kesatria itu berhenti, aku ikut menoleh ke arah yang ia lihat.


“Yang Mulia,” Tatsuya meloncat turun dari atas kuda yang ia tunggangi, “bantu aku untuk menyiapkan upacara pemakamannya,” ucap Haruki saat Tatsuya telah duduk berlutut di sampingnya.


“Yang Mu...” Perkataan Tatsuya terhenti saat Haruki melirik ke arahnya, “pelayanmu ini, akan segera menyiapkan semuanya,” ucap Tatsuya menundukkan kepalanya dengan sebelah tangannya bersilang menyentuh dada.


Haruki kembali beranjak berdiri dengan mengendong tubuh Luana, “kalian semua! Bantu para penduduk yang terluka, singkirkan semua puing-puing bangunan dari jalanan. Sisanya, ikuti kami kembali ke Istana!”


“Laksanakan, Yang Mulia!” Balas para Kesatria ikut meninggikan suaranya sebelum Haruki berjalan menjauh meninggalkan kami.


Aku sedikit melirik ke arah Tatsuya yang masih duduk dengan sebelah tangannya menutupi kedua matanya, aku berjalan mendekatinya diikuti sebelah tanganku menyentuh pundaknya. Tatsuya mengangkat kepalanya menatapku, aku menggelengkan kepala membalas tatapan matanya yang telah memerah itu. Tatsuya kembali menunduk, mengangkat kedua tangannya mengusapi kedua matanya.


__________________


Kuda yang aku tunggangi berjalan pelan mengikuti langkah kaki kuda Haruki yang berjalan di depan kami semua. Kuarahkan pandanganku sedikit melirik ke arah tubuh Luana yang telah ditutupi jubah milik Haruki. Gerobak kayu yang membawa jasad Luana itu berjalan pelan di tengah-tengah kami, aku kembali melirik ke arah Haruki yang masih menutup suaranya sepanjang perjalanan.


Semakin kuda yang kami tunggangi mendekati Istana, semakin sesak dadaku karenanya. Aku memang ingin sekali pulang, tapi bukan pulang dengan cara seperti ini … Aku sudah memperingatkan kalian, jika saja kalian mendengarkan…


Aku mengangkat kembali kepalaku saat terdengar suara benda bergerak, kuangkat kepalaku menatap gerbang besi besar yang ada di hadapan kami. Gerbang itu terbuka perlahan ke dalam, kutatap Ayah, Tsutomu, dan juga Tsubaru dengan Lux yang duduk di pundaknya tengah berdiri menunggu kami dari balik gerbang.


Ayahku berjalan mendekati gerobak saat kami semua telah berjalan masuk melewati gerbang, Ayahku menutup mulutnya saat tangannya menyingkap jubah cokelat milik Haruki yang menutupi tubuh Luana, “Ayah, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Ucapan Izumi membuat Ayahku mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Ayah mengalihkan pandangan matanya ke arah Tsubaru, “persiapkan upacara pemakaman untuknya,” ucap Ayahku sebelum dia kembali menutup wajah Luana dengan jubah Haruki yang masih digenggamnya.


__ADS_2