Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCV


__ADS_3

"Bergeraklah ke tengah, atau kau akan terluka," ucap Zeki yang duduk di hadapanku, kutatap sebelah tangannya yang memegang ujung pedang miliknya yang sebelumnya ia tancapkan ke pasir.


Tenda yang kami buat bergoyang tertiup angin, Haruki dan Izumi yang duduk di belakangku berusaha menahan kain agar tak diterbangkan oleh angin. Sedangkan Zeki dan Aydin, mereka memegang masing-masing pedang milik mereka yang menyangga tenda.


Suara angin yang berasal dari luar semakin kuat terdengar, gulungan pasir yang tertiup angin semakin jelas terlihat di mataku saat tenda yang dibuat tanpa menggunakan pintu yang menutupi. Aku menundukkan kepala, kuarahkan telapak tanganku menggenggam celana yang Zeki kenakan...


Aku tidak tahu, kapan badai pasir ini akan berakhir?


___________________


Kubuka kedua mataku pelan, kutatap Izumi dan juga Aydin yang terlelap tidur dengan duduk sambil menyilangkan lengan mereka masing-masing. Kepala mereka tertunduk, kadang terdengar suara dengkuran yang keluar di antara mereka.


Tunggu dulu, apakah aku membawa bantal? Aku tidak mengingatnya.


"Apa yang kau lakukan? Apakah kau ingin sekali menyentuh tubuhku hingga melakukannya," ucapan Zeki terdengar, kugerakkan kepalaku sedikit mendongak ke atas.


"Maaf," ucapku saat tersadar meraba pahanya, kuangkat dengan cepat telapak tanganku tadi darinya.


"Tidurlah," ucapnya mendorong kembali kepalaku yang sempat beranjak dari pahanya, ditepuk-tepuknya pelan kepalaku olehnya.


"Kalian berisik sekali, aku butuh istirahat," gumam Izumi dengan tetap memejamkan matanya.


"Benar-benar menjengkelkan," sambung Aydin yang juga ikut bergumam menimpali Izumi.


Tubuhku sedikit terkejut saat kurasakan sesuatu menyentuh pipiku, kulirik Zeki yang menggerakkan jari telunjuknya menari-nari di atas pipiku dengan sesekali jari telunjuknya itu menekan-nekan pipiku.


Ku raih jari telunjuknya tadi sembari kugenggam dengan kuat. Zeki membuka telapak tangannya lalu menggenggam telapak tanganku yang menggenggam jari telunjuknya. Kupejamkan kembali kedua mataku saat kurasakan sebuah usapan pelan yang mengelus belakang telingaku.


__________________


"Selanjutnya kita akan pergi ke mana?" Ucap Izumi sembari memasukkan kembali kain tenda yang telah aku lipat sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika ke kanan," ucap Aydin melangkah mendekati Haruki.


"Bagaimana menurut kalian?" Ucap Haruki berbalik menatap aku dan Izumi bergantian.


"Aku tidak masalah," sambung Izumi yang kuikuti dengan anggukan kepala yang aku lakukan.


"Baiklah. Apa semuanya sudah siap? Periksa sekali lagi agar tak ada yang tertinggal," ucap Haruki kepada kami.


"Apa kau telah memeriksa semuanya?" Bisik Izumi di sampingku.


"Aku telah memeriksa semuanya, tak ada yang tertinggal," ucapku membalas perkataannya.


Haruki memimpin perjalanan dengan Aydin melangkah di sampingnya, entah hanya perasaanku atau apa? Udara yang ada di sekitar terasa lebih panas dibandingkan sebelumnya.


"Apakah kalian masih memiliki air minum?" Ucap Aydin melangkah dengan menurunkan kepalanya, ia menoleh ke arah kami sembari menggoyang-goyangkan kantung air minum yang ada di tangannya.


"Itu air terakhir," ungkap Zeki mengangkat sebuah kantung air minum dari dalam tas yang ia bawa, diarahkannya kantung kulit tadi ke arah Aydin yang dengan cepat meraihnya.


"Putri, air untukmu," ungkap Aydin mengarahkan kantung berisi air yang ada di tangannya padaku.


"Terima kasih," ucapku meraih kantung tadi lalu menyimpannya kembali ke dalam tas milikku.


"Kau tidak meminumnya?"


"Aku akan meminumnya saat benar-benar haus," ucapku membalas perkataannya, kuarahkan telapak tanganku menepuk pelan punggungnya.


"Lihatlah ke sebelah sana!" Ungkap Aydin mengarahkan jari telunjuknya ke arah kanan.


"Air?" Ucap Haruki mengangkat telapak tangannya menempel di dahi.


"Aku tidak menyangka di tempat seperti ini ada air seperti itu," ucap Izumi ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.

__ADS_1


"Air? Di mana?" Ucapku melompat berusaha melihat apa yang mereka katakan.


"Di sana, apa kau tidak melihatnya. Bahkan pohon yang mengelilinginya bisa di lihat dari sini," ucap Zeki melingkarkan lengannya di pinggangku sembari diangkatnya tubuhku olehnya.


Aku tidak melihat air maupun pohon yang mereka maksudkan. Hanya ada pasir, dan juga sebuah lubang besar... Bukan air seperti yang mereka katakan.


Zeki kembali menurunkan tubuhku saat Haruki, Izumi dan juga Aydin telah berjalan ke arah yang mereka maksudkan. Kedua kakiku ikut melangkah saat Zeki menarik lenganku untuk mengikutinya...


"Hentikan!" Teriakku saat mereka semakin melangkah mendekati tempat itu.


"Ada apa Sa-chan?"


"Apa kalian tidak melihatnya! Lubang besar menganga yang ada di sana, apa kalian ingin kehilangan nyawa kalian dengan mendekatinya!" Bentak ku kuat pada mereka, kuarahkan telapak tanganku menyentuh tenggorokanku yang terasa mengering.


"Itu air, apa yang kau maksudkan Sachi," ucap Izumi berbalik menatapku.


"Izumi benar, apa kau tidak kehausan? Apa kau tidak ingin menyegarkan kembali tubuhmu," ucap Zeki ikut menatapku.


Aku melepaskan genggaman tangan Zeki pada lenganku, kugerakkan kedua kakiku berjalan melewati mereka. Tubuhku tertegun menatap lubang besar yang ada di hadapanku... Bara api yang keluar dari lubang itu seakan siap meleburkan tubuh siapapun yang masuk ke dalamnya.


"Jangan mendekat! Atau kalian akan jatuh ke dalamnya," ucapku mundur beberapa langkah ke belakang.


"Nii-chan, itu lubang berisi penuh bara api. Bukan air seperti yang kalian katakan," ucapku meraih dan menggenggam jubah yang Haruki kenakan.


"Apa maksudmu Sa-chan," ucap Haruki menatapku keheranan.


"Aku akan membuktikan, siapa yang benar di antara kita," ucapku berjalan mendekati Izumi.


"Izu nii-chan, berikan aku tali," ucapku mengarahkan telapak tangan kananku padanya, Izumi menunduk dengan telapak tangannya merogoh ke dalam tas yang ia bawa.


Aku berjalan mendekati lubang tadi, kubuka gulungan tali yang diberikan Izumi kepadaku. Dengan perlahan kuarahkan tali tadi menuruni lubang bara api yang ada di hadapanku itu. Kutarik kembali dengan perlahan tali tersebut saat kulihat ujung tali tersebut terbakar oleh bara api yang ada di dalam lubang.

__ADS_1


"Lihatlah, apakah talinya basah atau terbakar," ucapku melemparkan tali yang aku pegang tadi di hadapan mereka.


__ADS_2