
Aku berjalan keluar dari gubuk dengan sesekali menepuk-nepuk pipiku yang basah oleh basuhan air. Langkahku terus berlanjut, mendekati kakakku yang sedang berkumpul dengan para laki-laki. Aku duduk di samping Haruki, sambil memperhatikan Izumi yang terlihat fokus membantu para laki-laki dari penduduk desa. “Izu nii-chan, terlihat terampil sekali membuat banyak senjata,” gumamku yang tak berkedip menatapnya.
“Sebenarnya Sa-chan, Kerajaan kita juga memiliki senjata seperti itu. Namun, sudah jarang digunakan … Kerajaan lain menyebutnya sumpit, tapi kita menyebutnya fukiya. Perbedaannya, hanya dari racun yang digunakan. Dulu, Kerajaan kita menggunakan racun dari ikan yang bisa memperbesar tubuhnya, ikan tersebut hidup di laut.”
“Sebagai seseorang yang sangat tertarik dengan penyerangan maupun pertahanan seperti Izumi. Rasanya mustahil, jika dia tidak mengetahui senjata tersebut sebelumnya.”
“Heh, masih banyak yang harus aku ketahui ternyata,” gumamku dengan masih menatap Izumi yang tengah melilitkan benda seperti kapas di ujung anak sumpit tersebut sebelum akhirnya dia memadatkan kapas yang ia lilitkan tadi dengan bibirnya.
“Bagaimana keadaanmu? Izumi mengatakan, jika kau sedang tidak sehat semalam?”
Aku menoleh lalu tersenyum ke arahnya, “aku sudah baikan. Mendengar kata daging, membuatku tidak nafsu makan setelah melihat mereka membakar monyet hasil buruan untuk dimakan. Tapi sekarang, aku sudah baik-baik saja,” jawabku yang kembali melemparkan pandangan ke arah Izumi dengan Eneas yang juga duduk di sampingnya.
“Mengenai pertanyaan yang kau titipkan pada Izumi semalam, aku masih belum mendapatkan kabar darinya. Yadgar, Kerajaan yang luas … Menjadi Raja yang mengurus Kerajaan sebesar itu sulit, terlebih dia sekarang sedang mempersiapkan menyerang kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya. Jadi bersabarlah, kabarnya pasti akan datang cepat atau lambat,” tukasnya, aku menganggukkan kepala ketika usapan pelan kurasakan di belakang kepalaku.
Aku tertunduk saat kurasakan beberapa kali benda terjatuh di atas kepalaku. Kucoba untuk mendongakkan kepala, kedua mataku membelalak sambil sebelah tanganku meraih lengan Haruki yang duduk di samping. “Nii-chan, lihatlah ke atas,” tukasku dengan kembali menoleh ke arahnya.
Haruki melakukan apa yang aku pinta, dia beranjak dengan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku meraih tangannya itu lalu ikut beranjak di sampingnya. Kedua kakiku berjalan, mengikuti langkahnya saat Haruki menarik pelan tanganku untuk mengikutinya.
Kami berdua, berjalan beriringan menjauhi kerumunan. Sesekali, aku melirik ke atas … Melirik ke arah bayangan hitam kecil yang terbang di atas kami. Langkah kami semakin cepat dan semakin cepat, tatkala titik hitam yang kami ikuti tersebut kian mempercepat kepakan sayapnya.
“Haruki, Sachi!”
Kami berdua menghentikan langkah, saat Lux telah terbang di hadapan kami. “Jangan di sini, Lux!” tukas Haruki dengan kembali menarik tanganku, membawanya berdiri di balik pohon besar yang lumayan jauh dari perkampungan.
__ADS_1
“Jadi,” sambung Haruki sambil melepaskan genggaman tangannya padaku, “apa yang kau ketahui?” tukasnya lagi dengan masih mengarahkan tatapan ke arah Lux yang telah mendarat di pundakku.
“Apa kau mengetahui keberadaan mereka bertiga?” timpalku sambil berusaha melirik ke arahnya.
“Aku tahu, mereka sempat ditangkap. Tapi aku berhasil menyelamatkan mereka, sebelum para penduduk di sana ingin membunuh mereka.”
“Lalu, di mana mereka?”
“Mereka, aku perintahkan untuk pergi ke arah di mana perahu kalian berada.”
“Maksudnya, kau meminta mereka untuk pergi dari sini?”
Lux menganggukkan kepalanya menjawab kembali pertanyaan Haruki. Aku masih terdiam, ketika Haruki mengalihkan pandangannya kepadaku, “apa kau ingin pergi dari sini? Atau tinggal sedikit lebih lama?” tanyanya yang menatapku tanpa berkedip.
“Kenapa menanyakan pendapatku? Aku, akan mengikuti keputusanmu, nii-chan,” ungkapku membalas tatapannya.
“Kenapa aku harus menunggu di sini? Maksudku, bukannya aku harus berpamitan dengan mereka semua?”
“Kau sudah menikah tapi tetap bodoh seperti biasanya!”
Kepalaku tertunduk saat Haruki menyentil keningku, “selama ini, aku selalu menganggapnya biasa saat Izu-nii meneriakiku bodoh, Tapi-”
“Seorang laki-laki, tidak akan mudah mengikuti permintaan perempuan yang tidak menarik perhatiannya. Aku sudah menyadarinya saat kepala suku itu, membebaskan kami begitu saja. Kau, akan sulit kembali bersama kami kalau harus meminta izin kepada mereka terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Apa kau, ingin tinggal di sini selamanya?”
“Tentu saja tidak! Untuk apa aku ke sini, sedangkan ada rumah yang menunggu kepulanganku.”
“Karena itu, tunggulah di sini … Kalau perlu, bawa dia pergi dari sini, Lux! Tuntun dia, ke arah perahu yang kami tinggalkan. Urusan di sini, serahkan kepada kakakkmu ini,” ucapnya yang berbalik memunggungiku.
“Nii-chan, apa yang kau rencanakan? Jangan katakan, kau ingin mengadu domba mereka, dengan alasan-”
“Kau benar,” tukas Haruki yang kembali tersenyum menatapku, “kepala suku tersebut tertarik kepadamu, dan itu akan memberikan keuntungan yang sangat besar untuk kita. Aku, akan berpura-pura memberitahukan kepada mereka jika kau diculik oleh suku yang memiliki ikatan kepala,” ungkap Haruki yang diikuti kedua mataku membesar tatkala ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik pakaiannya.
Haruki membuka sarung kayu di pisau yang ia pegang, sembari menggerakkan pisau tersebut melukai lengan kirinya sendiri, “dengan ketertarikan dari sang kepala suku. Dia pasti akan berusaha menyelamatkanmu, saat itulah kami akan menyelinap diam-diam meninggalkan mereka lalu menyusul kalian,” ungkap Haruki, dia melemparkan pisau yang ia pegang ke tanah ketika tubuhnya sendiri dengan perlahan mengeluarkan darah oleh luka yang ia buat.
“Aku, tidak ingin menyia-nyiakan semua kesempatan. Dengan melakukan rencana ini, kita bisa pulang dengan selamat … Lalu para suku-suku tersebut, akan saling berperang dengan alasan yang sebenarnya tidak terjadi. Menarik, bukan?”
“Tapi nii-chan, kita mungkin akan kesulitan untuk berkerjasama dengan mereka kedepannya. Jika kalian pun, tiba-tiba ikut menghilang, bukan?”
Haruki kembali tersenyum membalas perkataanku, “kalau tidak bisa berkerjasama, kita hanya tinggal menaklukan mereka. Lagi pun, kita telah mengetahui, bagaimana caranya mereka menaklukan musuh. Aku telah mengumpulkan informasi yang cukup dengan menilai kebiasaan mereka setelah beberapa saat tinggal di sini.”
“Kebiasaan manusia itu membahayakan untuk orangnya sendiri. Jadi, jangan sekali-sekali menunjukkannya kepada siapa pun. Bahkan orang yang sangat kuat pun, akan mati oleh kebiasaannya yang diketahui oleh musuh yang mengincarnya,” dia kembali tersenyum sebelum langkahnya itu berjalan menjauhiku.
Aku bergeming, kutelan ludahku sendiri saat tatapan mataku itu terjatuh ke arah darahnya yang menempel di rerumputan. “Mengerikan sekali, bukan?” Aku mengangkat kepalaku, melirik ke arah Lux yang berbicara pelan.
“Dia akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya … Tipe manusia yang sangat aku benci, sekaligus tipe manusia yang juga sangat aku kagumi. Kadang, aku merasa sangat tertekan saat bersamanya-”
__ADS_1
“Bukan hanya kau, Lux. Aku pun, tidak mengerti jalan pikirannya.”
“Hal yang sama juga berlaku kepadamu. Cepatlah Sachi! Aku, akan menunjukkan jalannya,” ucapnya, aku kembali melirik ke arahnya yang telah terbang menjauhi pundakku.