
Kudaku terus berjalan maju mengikuti langkah kuda milik Tatsuya yang memimpin perjalanan, ikut kuhentikan kuda milikku saat dia yang berada di depan juga telah menghentikan langkah kaki kudanya. Kugenggam erat tali kekang kuda yang aku tunggangi dengan mataku yang masih tertuju kepada Arata dan juga Yuki yang berkuda mendekat.
Mereka berdua menghentikan langkah kaki kuda mereka di hadapan kami, “Pangeran, kami telah menemukan penginapan yang akan kita gunakan untuk beristirahat malam ini,” ungkap Arata sambil mengarahkan pandangannya kepada Haruki yang berkuda di belakang Tatsuya.
“Lalu, tunggu apa lagi … Tunjukkan kami semua jalan ke sana,” sambung Haruki yang dibalas oleh anggukan pelan Arata.
Kuda milik Arata dan Yuki berbalik lalu berjalan membelakangi kami. Kuda yang aku tunggangi kembali bergerak mengikuti mereka yang telah satu per satu berkuda menjauh. Kami kembali berhenti di sebuah bangunan luas dengan pagar terbuka yang tak terlalu jauh dari pasar, mungkin karena semua pengalaman mereka … Kami bisa dengan sangat mudah masuk ke Kerajaan ini, tanpa terlalu mendapatkan pertanyaan dari beberapa Kesatria yang berjaga di perbatasan.
Kuda milikku kembali kugerakkan mengikuti mereka yang telah berkuda masuk melewati pagar tersebut. Kereta-kereta kuda terlihat berbaris di depan bangunan dengan beberapa laki-laki yang berdiri membawa sebuah ember kayu, lalu memercikkan air yang ada di dalam ember yang mereka bawa ke bunga-bunga yang tumbuh di kanan dan kiri jalan setapak yang kami lalui.
Untuk ke Ardenis, kami akan melewati dua Kerajaan kecil sebelum sampai ke sana. Jadi, Yuki dan Arata ditugaskan oleh Haruki untuk mencari banyak informasi mengenai Kerajaan tetangga yang akan kami kunjungi. Setidaknya, seperti itu ... Sepintas kata-kata yang Haruki ucapkan ketika kami turun dari kapal.
Tempat ini pun sama, sama-sama bukan tempat yang aman untuk ditinggali. Entah apa yang Haruki rencanakan dengan meminta kami untuk menginap lama di sini.
“Tempat ini, biasanya dikunjungi oleh banyak sekali bangsawan dari Kerajaan lain ketika mereka melakukan kunjungan ke sini. Jadi, Pangeran dan Putri akan dipastikan nyaman untuk beristirahat beberapa waktu di sini,” tukas Yuki yang membuatku sedikit menoleh ke arahnya.
“Kami pun, telah menyewa kamar untuk kita semua tempati,” sambung Yuki kembali dengan mengarahkan ibu jarinya ke arah bangunan yang berada di belakangnya.
_____________.
“Jadi aku akan tinggal di kamar ini dengan Lux, sedangkan kalian di kamar yang ada di kanan dan kiri,” tukasku kepada Tsubaru yang berjalan meletakkan tas kulit milikku ke atas ranjang.
“Benar Putri. Hal ini dilakukan Pangeran Haruki untuk melihat, apakah tempat ini aman atau tidak untuk ditempati. Pangeran, ingin memastikan sendiri kabar gelap yang disampaikan Yuki sebelum memutuskan untuk ke sini. Putri tenang saja, walau aku di sebelah, namun aku bersumpah … Tidak akan sedikit pun lengah,” timpal Tsubaru ketika dia berbalik menatapku.
Aku tersenyum lalu berjalan mendekati ranjang, “aku tahu. Tsu nii-chan tidak perlu terlalu khawatir, lagi pun masih ada Lux, bukan?”
“Benar, masih ada aku. Lagipula, Sachi sekarang memiliki sihirnya sendiri di tubuhnya, walau sedikit … Aku masih bisa merasakannya dengan jelas,” lanjut Lux yang menimpali perkataanku.
“Aku mengerti, aku akan kembali ke kamar sebelah. Beristirahatlah, Putri … Segera berteriak memanggilku jika terjadi sesuatu,” ungkapnya sambil membungkukkan tubuh sebelum melenggang pergi.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Tsubaru yang telah menutup kembali pintu, “Lux,” ucapku sambil membaringkan tubuhku di ranjang menatapnya yang juga telah berbaring di salah satu bantal.
“Apa Robur Spei benar-benar mengagumkan?”
“Kau bisa menilainya sendiri saat melihatnya secara langsung, Sachi,” jawab Lux, dia menguap lebar sebelum memejamkan kedua matanya.
_____________.
“Sachi! Sachi!”
Kedua mataku sedikit terbuka tatkala suara itu terus mengetuk diikuti sesuatu yang terus-menerus juga menarik rambutku, “ada apa, Lux?” gumamku dengan tetap memejamkan mata.
“Ini sudah pagi, namun … Ada yang aneh.”
Dengan cepat kubuka kedua mataku, aku menoleh ke kanan, menatapnya yang sedikit terbang mundur menjauh, “apa yang kau maksudkan, Lux?” tanyaku ketika dia telah kembali mendarat di atas kasur.
Aku beranjak berdiri dengan masih menatapnya, “kau benar,” tukasku sembari melirik ke samping mata. Dengan sigap aku merangkak sebelum beranjak turun dari atas ranjang, “kita harus memeriksa mereka semua, Lux,” ucapku sambil tetap melangkahkan kaki mendekati pintu lalu membukanya.
Langkahku kembali terhenti di depan pintu kamar yang ditinggali saudara-saudaraku, berkali-kali aku mengetuk pintu dengan memanggil mereka … Namun, tak ada sahutan apa pun. Aku mengangkat tanganku memegang gagang pintu, mencoba untuk membukanya namun gagal. “Aku akan menyelinap dari celah pintu untuk membukakannya untukmu,” ucap Lux yang terbang dari atas pundakku ke arah bagian bawah pintu.
Aku masih terdiam menunggu dengan sesekali melirik ke arah kanan dan juga kiri memastikan keadaan. Kugerakkan kembali tanganku yang memegang gagang pintu tersebut hingga pintu itu terbuka ketika suara Lux yang terdengar dari dalam memintaku untuk masuk.
Aku tertegun sambil berjalan mundur menutup pintu. “Aku mencium aroma aneh yang memenuhi kamar, aku telah mencoba untuk membangunkan mereka semua namun mereka tetap lelap seperti itu,” ucap Lux ketika aku mengarahkan tatapan membisu ke arahnya.
Aku berjalan mendekati Izumi yang lelap tertidur, kutepuk-tepuk pipinya sambil memanggil-manggil namanya namun tak kunjung ada jawaban. Kedua kakiku berjalan mendekati Ryuzaki yang juga tertidur lelap dengan membaringkan kepalanya di atas meja, berkali-kali juga aku memanggil namanya, dia masih saja lelap tertidur seakan tak mendengar suaraku.
Aku berbalik, berlari ke arah pintu yang ada di dalam kamar. Kubuka pintu tersebut sembari dengan cepat aku meraih ember yang ada di belakang pintu lalu ku isi ember tadi dengan air yang ada di dalam tong yang juga ada di sana. Aku kembali berlari mendekati Ryuzaki, mengambil sedikit air menggunakan tanganku lalu memercikkan air tersebut ke wajahnya berulang kali.
__ADS_1
“Kau sudah bangun, Ryu?” tanyaku ketika dia dengan perlahan membuka kedua matanya.
Ryuzaki masih terdiam menatapku dengan beberapa kali telapak tangan mengusapi matanya. Aku kembali berbalik melangkah mendekati Izumi, sama seperti yang aku lakukan kepada Ryuzaki sebelumnya, Izumi perlahan membuka kedua matanya ketika aku memercikkan air ke wajahnya berulang-ulang.
Izumi masih berbaring menyamping dengan mata abu-abunya yang mengarah kepadaku, “apa yang terjadi?” ucapnya yang masih enggan untuk mengangkat kembali kepalanya.
“Aku akan menjelaskannya nanti, nii-chan,” ungkapku yang segera meninggalkannya lalu melangkah mendekati Eneas.
“Eneas … Eneas,” panggilku berulang-ulang sambil memercikkan air yang ada di tanganku ke arahnya.
“Cepatlah bangun,” ucapku menyentuh pipinya ketika dia telah mulai membuka matanya.
Eneas menatapku bingung dengan kedua matanya yang masih sembab, “aku akan menjelaskannya nanti, cepatlah bangun!” tukasku sambil berjalan menjauhinya.
“Nii-chan, Haru-nii!” suaraku yang memanggilnya terus keluar dari bibirku. Aku menghentikan tanganku yang memercikkan air ke wajahnya saat Haruki mengangkat wajahnya menatapku.
“Syukurlah kalian baik-baik saja,” ungkapku sambil berjalan lalu duduk di samping ranjang.
“Apa yang kau maksudkan, Sa-chan?” tanya Haruki, dia berbaring menyamping sambil menatapku.
“Itu-”
Perkataanku terhenti ketika Lux terbang dengan cepat mendekat sambil melambaikan tangannya, “aku tidak terlalu tahu, tapi yang jelas … Kalian semua, kembalilah berpura-pura tidur, aku akan bersembunyi di dalam kamar mandi. Ada seseorang yang mendekat,” ungkapku beranjak lalu berlari cepat mendekati kamar mandi yang pintunya masih terbuka.
__ADS_1