Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXXV


__ADS_3

"Sumpah darah, bukankah para Kesatria seperti kalian pasti telah melakukannya? Maksudku, bersumpah darah untuk selalu setia dan tunduk pada Kaisar," ucap Izumi mengangkat kepalanya dari pundakku.


"Di Kekaisaran, hanya para Kapten yang melakukannya. Jumlah Kesatria di Kekaisaran sangatlah banyak dan selalu bertambah hampir setiap hari, jadi untuk Kesatria seperti kami... Mereka tidak membutuhkannya," ucap Jabari kembali.


"Lalu, perihal yang kau katakan mengenai rahasia Kekaisaran?" Sambung Haruki berbalik menatap Jabari.


"Aku akan menceritakan semuanya, tapi bukan di sini," tukas Jabari sembari menggerakkan matanya melirik ke arah kanan dan juga kiri.


"Aku mengerti," ucap Haruki beranjak berdiri.


"Pergilah, aku baik-baik saja," ungkap Izumi saat Haruki menoleh menatapnya.


Haruki berbalik lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah, Jabari berserta laki-laki lainnya ikut berbalik mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam rumah.


Izumi mengangkat tas berisi Lux dan Uki yang ada di pundaknya, kepala dan tangannya yang menggenggam tas tadi mengarah ke arah Eneas. Eneas melangkah maju lalu meraih tas tersebut darinya...


"Dia berisik sekali dari tadi, bantu aku memberikannya makanan," ucap Izumi berbalik membelakangi Eneas.


"Aku mengerti," ungkap Eneas menghela napas, dia berbalik lalu meraih tangan Cia untuk berjalan mengikutinya.


"Jika kalian membutuhkan sesuatu, segera panggil saja aku," tukas Yoona berbalik menyusul langkah Eneas berserta Cia yang telah masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana keadaanmu nii-chan?" Ucapku bergerak duduk di sampingnya.


"Sedikit lebih baik. Dan maaf," ungkapnya menatapku.


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, nii-chan," balasku, kugerakkan kepalaku menatap lurus ke langit malam.


"Setelah nanti kau meninggalkan kami dan pergi bersama Zeki. Setidaknya, kirim surat kepada kami nantinya," ucapnya mengangkat kepalanya ke atas saat aku melirik ke arahnya.


"Aku akan mengunjungi kalian, bukan hanya surat. Aku pasti akan selalu mengunjungi kalian," ungkapku bersandar di pundaknya.

__ADS_1


"Aku menginginkan kalian bahagia dibandingkan siapa pun. Karena itu nii-chan, jangan menyiksa diri sendiri, jangan menyalahkan diri sendiri."


"Luka di pundakmu, bagaimana keadaannya?" Sambungku, kuangkat kepalaku yang bersandar di pundaknya sebelumnya.


"Baik-baik saja. Itu hanya luka panah, lagipula tidak terlalu dalam, jadi tidak perlu khawatir," ucapnya beranjak berdiri.


"Berdirilah, ini sudah malam. Kau pasti lelah bukan?" Ungkapnya mengarahkan telapak tangannya ke arahku.


"Kau pun, harus banyak beristirahat, nii-chan," jawabku beranjak berdiri, kugenggam kuat telapak tangannya yang mengarah ke arahku sebelumnya.


_____________________


Kedua mataku terbuka saat kurasakan sesuatu menindih lengan kananku, tubuhku berbalik menatap Cia yang masih nyenyak tertidur di samping. Aku beranjak pelan sembari kugerakkan sebelah tanganku dengan berhati-hati mengangkat kepala Cia.


Aku beranjak berdiri, pandangan mataku terjatuh pada Haruki, Izumi dan juga Eneas yang masih lelap tertidur berdampingan. Kedua kakiku berjalan meninggalkan kamar seraya kedua tanganku bergerak menyisir pelan rambut.


Sesekali telapak tanganku bergerak menutupi mulutku yang tak henti-hentinya menguap. Sunyi sekali, seperti tak ada kehidupan sama sekali di sini....


"Berjaga," ucap salah satu laki-laki.


"Berjaga? Kalian khawatir jika kami melakukan sesuatu pada salah satu di antara kalian?" Ungkapku bergerak mendekati dinding lalu bersandar padanya.


"Kami hanya mencoba melindungi diri," ungkap salah satu laki-laki yang rambutnya tergerai sampai ke bahu.


"Aku tahu," ucapku berbalik membelakangi mereka.


"Apakah itu benar?" Ucap seorang laki-laki berhasil menghentikan langkah kakiku.


"Benar? Apa maksudnya?" Ungkapku kembali berbalik menatapi mereka.


"Jika Kaisar membunuh semua Ratu Kerajaan Sora."

__ADS_1


"Apakah kalian tidak pernah mendengar kabar ini sebelumnya?" Balasku bertanya kepada mereka.


"Tidak ada kabar seperti itu yang tersebar ketika kami masih melayani Kekaisaran," ucap salah satu laki-laki yang disambut dengan anggukan kepala dari yang lainnya.


"Jadi Kaisar menyembunyikan hal tersebut dari kalian? Apa Kakakku juga mengetahui hal ini?" Tanyaku kembali menatap mereka, kuangkat dan kugigit pelan ujung ibu jariku.


"Kami tidak mengikuti pembicaraan antara dia dan juga Jabari. Karena itu, kami bertanya padamu untuk memastikan," ucap laki-laki yang rambutnya tergerai itu kembali.


"Ada yang ingin aku pertanyakan kepada kalian," ungkapku berjalan maju mendekati mereka.


"Apa kalian semua bertemu langsung dengan Kaisar?" Sambungku berdiri menatapi mereka satu persatu.


"Kesatria rendahan seperti kami, tidak akan punya kesempatan untuk bertemu langsung dengannya. Tapi, dari kabar yang aku dengar..." Ungkap salah seorang laki-laki bertubuh gelap menghentikan ucapannya sesaat.


"Kaisar sangatlah kejam, kami bahkan seringkali menemukan perempuan yang dieksekusi walaupun dia tidak bersalah, dan sebenarnya... Syarat utama kami untuk menjadi Kesatria adalah memberikan para tunangan kami untuk dieksekusi demi kemasyhuran Kekaisaran," ucap laki-laki bertubuh gelap itu kembali dengan wajah tertunduk.


"Kekaisaran, setiap tahun selalu mengumpulkan seratus warga dengan iming-iming hadiah yang besar jika mereka dapat menangkap sesuatu menarik yang hidup di hutan."


"Apakah?"


"Hutan yang sama seperti yang para Pangeran dan Putri datangi dulu," ucap salah seorang laki-laki menjawab pertanyaanku.


"Apakah, salah satu diantara para warga itu ada yang kembali?" Ucapku, mereka bergerak memandang satu sama lain.


"Sepertinya tidak, karena setiap Kaisar melakukannya... Kabar selanjutnya tentang keadaan mereka seolah menghilang."


"Apakah kalian pernah bertemu dengan seorang laki-laki pembuat racun saat Kaisar melakukan permainan itu?" Terdengar suara dari arah belakang, aku berbalik menatap Eneas yang telah berdiri menatapi kami.


"Laki-laki itu mengalami kesulitan berjalan karena luka yang ada di kakinya, apa kalian pernah bertemu dengan laki-laki tersebut di Kekaisaran?" Ucap Eneas kembali kepada mereka.


"Apa kau mengenal laki-laki itu?" Ungkap salah satu laki-laki kepadanya.

__ADS_1


"Dia Ayahku," jawab Eneas menjawab perkataan laki-laki itu.


__ADS_2