
"Walaupun rasanya sedikit aneh, setidaknya kerongkonganku terasa segar kembali," ucap Julissa yang kembali berjalan di depanku, ditutupnya wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Langkah kaki Haruki terhenti, berjalan aku dan yang lainnya mendekatinya. Sebuah jejak darah terlukis di seluruh permukaan tanah yang ada dihadapan kami.
Berjalan Zeki mendekati jejak darah tersebut, berjongkok ia seraya meletakkan telapak tangannya ke atas darah tersebut.
"Darahnya mengarah ke arah sana, haruskah kita mengikuti jejak darah ini?" sambung Zeki menatap Haruki, diarahkannya jari telunjuknya ke arah kanan kami.
"Danur?" tanya Haruki.
"Me-mereka a-ada di se-sebelah sa-sana," jawab Danurdara menunjuk ke arah yang sama dengan Zeki.
"Sachi, Danur... Kalian tetap dibelakang kami, lindungi Julissa, Luana, Sasithorn dan Arion dengan panah kalian. Sedangkan aku, Izumi, Zeki dan Adinata akan menyerang mereka dari jarak dekat," ucap Haruki menatapku.
"Aku mengerti," ucapku, mengangguk Danurdara mengikuti perkataanku.
"Pedangku," ucapku menatap Zeki, berjalan ia mendekati.
"Kau diperintahkan kakakmu menggunakan panah bukan?"
"Untuk berjaga-jaga, jika saja anak panahku habis dan mereka mendekat ke arahku," ungkapku menatapnya, diraihnya pedang yang ada di punggungnya seraya diberikannya pedang tersebut padaku.
__ADS_1
"Julissa, pegang pedangku. Dan jangan berdiri terlalu jauh dariku," ucapku lagi seraya berbalik dan menyerahkan pedang punyaku padanya.
"Laksanakan," jawab Julissa meraih dan memeluk pedang yang aku berikan.
Berjalan Haruki, Izumi, Zeki dan Adinata jauh di depan kami, sebuah pedang telah siap digenggaman mereka masing-masing.
Jeritan pilu perempuan terdengar dari sebelah kanan kami, berlari kami mengikuti jejak suara jerit pilu tersebut. Haruki mengangkat sebelah lengannya sebagai tanda untuk berhenti, menunduk kami dibalik semak-semak mengikuti mereka berempat yang lebih dahulu melakukannya...
Melirik aku ke arah Luana yang menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, kualihkan kembali mataku ke pemandangan mengerikan yang terjadi tepat di hadapan kami.
Terlihat ada sekitar dua puluh makhluk kerdil berkerumun disana, mereka semua mengarahkan pandangannya ke atas... Lebih tepatnya ke arah empat perempuan yang tubuhnya digantung terbalik dengan besi-besi menyerupai rantai...
Sedangkan sebagian yang lain, tampak menampung atau bahkan meminum langsung darah segar yang menetes keluar dari tubuh perempuan-perempuan tadi...
Bibir para perempuan tadi tak lagi mengeluarkan suara, tangan mereka yang menjuntai ke bawah tak kuasa lagi untuk mereka angkat... Mereka semua sudah tak akan merasakan apapun lagi...
Satu persatu makhluk kerdil tersebut menoleh ke arah semak-semak tempat kami bersembunyi, suara sesenggukan dari Luana dan Sasithorn membuat mereka menyadari kehadiran kami...
Beranjak berdiri Haruki, Izumi, Zeki dan Adinata seraya berjalan ke arah makhluk-makhluk tadi yang mulai berlarian satu persatu ke arah kami.
"Manusia bodoh memberikan nyawa mereka secara langsung kepada kita."
__ADS_1
"Hahaha itulah kenapa selalu menjadi santapan untuk Tuan dan juga kita," ucap mereka satu persatu menggunakan bahasa Latin.
Haruki menerjang dua makhluk kerdil sekaligus dalam satu tendangan, ditebasnya kedua lengan makhluk kerdil yang hendak menyerangnya. Tertunduk makhluk tersebut menahan sakit seraya melihat kedua lengannya yang terpotong bergantian... Ayunan pedang Haruki menembus lehernya, jatuh tersungkur ia dengan leher yang hampir terputus.
Izumi ikut menendang makhluk kecil yang ingin menyerang Haruki dari sebelah kiri, ditancapkannya pedang miliknya menembus tulang tengkorak makhluk kerdil tersebut. Makhluk itu diam seketika dengan bibir menganga dan lidahnya yang terjulur. Ditariknya pedang yang ia tancapkan pada kepala makhluk tadi oleh Izumi, darah layaknya air mancur mengucur deras keluar dari lubang yang dihasilkan pedang Izumi. Ditendangnya oleh Izumi tubuh makhluk yang sudah kehilangan nyawanya tadi.
Zeki ikut melindungi sisi kiri Izumi, diayunkannya pedang yang ada ditangannya mengiris kedua mata dan hidung makhluk kerdil yang ingin menyerangnya. Kedua makhluk tersebut jatuh tertunduk dengan masing-masing mencengkeram mata mereka yang terluka. Darah mengalir di kedua pipi makhluk itu, kembali Zeki mengayunkan pedangnya membelah kepala kedua makhluk yang berlutut di hadapannya... Kedua makhluk tersebut jatuh tersungkur kedepan, dengan tulang tengkorak mereka yang terkelupas hingga memperlihatkan sebagian isi kepala mereka. Tampak terlihat, darah menggenang membanjiri sepatu yang Zeki kenakan.
Adinata juga ikut menendang kepala makhluk kerdil yang ada dihadapannya, ikut ditancapkannya pedang yang ia genggam menembus dada makhluk tersebut. Sekumpulan darah menyembur keluar dari tubuh makhluk itu, ditariknya kembali pedang yang ia tancapkan sebelumnya pada makhluk tersebut. Berjalan kembali ia meninggalkan makhluk kerdil yang tampak mengejang-ngejang meregang nyawa.
Sebuah anak panah yang terbang disampingku menembus kepala makhluk kerdil yang berniat lari menghampiri kami. Ikut kuarahkan anak panahku menembus kepala salah satu makhluk yang masih berusaha berlari ke arah kami, melirik Danurdara ke arahku seraya tersenyum.
Bergantian aku dan Danurdara menembakkan panah... Pemandangan yang ada dihadapan kami penuh dengan warna merah, darah memercik dan membasahi tubuh mereka berempat yang tengah bertarung di hadapan kami.
Kulepaskan tabung kayu di punggungku yang sudah kosong isinya, kuangkat telapak tanganku ke arah Julissa. Diberikan dan diletakkannya pedang yang aku titipkan padanya sebelumnya ke atas telapak tanganku.
Kulepaskan sarung pedang yang menutupi pedangku tadi seraya kulemparkan ke tanah. Berjalan aku mendekati dua makhluk kerdil yang berlari ke arah kami, satu makhluk terjatuh dengan anak panah menusuk tajam menembus kepalanya...
Kuayunkan pedangku menebas bahu makhluk tersebut seraya kutendang kuat dia hingga tubuhnya jatuh terpelanting beberapa langkah kebelakang. Meringkuk ia seraya berbaring dengan memegang kuat lengannya yang terluka, berbalik ia menatapku yang telah berdiri di sampingnya...
"Matilah, kau makhluk menjijikan," ucapku balas menatapnya, kutancapkan pedang yang aku genggam menembus wajahnya yang menyeramkan itu.
__ADS_1