Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXX


__ADS_3

Haruki diam membisu dengan kedua matanya masih menatap ke arah perempuan tua tersebut, “kau ingin mengabaikan perkataanku?” Ungkap perempuan tua itu kembali kepada Haruki.


“Kau pernah menjadi seorang Ibu bukan? Apa yang akan kau rasakan jika anakmu yang masih kecil, yang tidak mengerti mengenai apa pun tentang dunia dipaksa untuk melakukan suatu hal yang ia takuti?” Haruki mengatakannya dengan sangat datar dengan tetap menatap ke arah perempuan tua itu.


“Apa kau ingin membuatku terlihat seperti seorang Ibu yang jahat?”


“Tidak, tapi aku hanya memposisikan diri sebagai ibu untuk adik-adikku. Mereka tanggung jawabku, aku tidak akan membiarkan mereka terluka atau ketakutan di bawah pengawasanku,” Haruki kembali membalas perkataan perempuan tua itu dengan sangat tenang.


Perempuan tua tersebut terdiam, tubuhnya kembali bergerak mundur bersandar pada kursi yang ia duduki, “baiklah, kau boleh melakukannya,” ucap perempuan tua tersebut dengan mengangkat sebelah tangannya.


Haruki menganggukan kepalanya lalu beranjak berdiri, dia berbalik melangkahkan kakinya mendekati kami, “Cia,” ucap Haruki saat dia telah berlutut di hadapan Cia dengan sebelah tangannya menyentuh kepala Cia yang tertunduk, “kakak, akan memakan ulat ini untukmu,” Cia mengangkat kepalanya saat Haruki berkata pelan dengan sebelah tangannya telah meraih semangkuk penuh ulat yang tergeletak di hadapannya.


Cia sesenggukan menatap Haruki yang telah mengarahkan semangkuk ulat tadi mendekati mulutnya, “lihat, telah habis,” ucap Haruki mengarahkan mangkuk yang telah kosong tadi ke arah Cia yang masih sesenggukan menatapnya. “Apa kau bisa memakannya?” Haruki berkata pelan dengan kepalanya menoleh ke arahku, “aku akan memakannya nii-chan,” ucapku saat kedua mataku tak sengaja menatap bibirnya yang gemetar.


“Kau yakin?” Dia bertanya sekali lagi, tanpa menjawabnya … Aku langsung meraih mangkuk penuh ulat milikku, kugerakan dengan cepat mangkuk tadi mendekati bibirku. Aku mendongakkan kepala ke atas dengan mulutku yang sedikit terbuka, air mataku keluar tanpa sadar saat kurasakan kerumunan ulat itu bergerak di dalam mulutku. Tubuhku merinding seketika saat ulat-ulat itu bergerak menggelitik seluruh mulutku.


Bayangkan permen karet, Sachi. Bayangkan yang ada di dalam mulutmu ini permen karet.

__ADS_1


Aku kembali menutup kedua mataku, mulutku kembali bergerak perlahan memecah tubuh ulat yang mendekati gigiku. Lengket, berlendir, dicampur rasa manis memenuhi mulutku. Kuangkat sebelah tanganku mengusap pipi kananku saat kurasakan air mataku jatuh menetes di sana.


“Sa-chan, apa kau baik-baik saja?” Suara Haruki kembali terdengar, kubuka kedua mataku melirik bayangannya yang ada di tanah.


Aku ingin berbicara, tapi entah kenapa … Bibirku enggan untuk terbuka.


Wajahku terangkat menatap Haruki, “aku, baik...” Ucapku terhenti dengan sebelah tanganku bergerak menutupi mulut. Aku kembali mengangkat kepalaku menatap langit, semakin kuat telapak tanganku tadi mencengkeram mulutku saat kurasakan seluruh isi perutku seakan-akan berputar. Aku menengguk kuat air ludahku sendiri sebelum aku kembali menatap Haruki yang masih gusar menatapku.


Aku mengalihkan pandangan, berusaha menghindari tatapannya. Kuangkat sebelah tanganku mengusap keringat yang memenuhi kening saat terdengar suara helaan napas dari samping tubuhku, pandangan mataku kembali terangkat membalas tatapan perempuan tua tadi yang mengarahkan pandangan matanya ke arahku dengan senyum yang menyimpul di ujung bibirnya.


“Itu adalah air sungai yang dicampur dengan darah dari para penduduk,” ucapnya dengan mengangkat tangannya yang lain, kutatap ikatan daun yang melingkar di pergelangan tangan perempuan tua tadi, tampak juga terlihat ikatan-ikatan daun melingkar di pergelangan tangan penduduk yang lain saat aku menggerakan kepala melirik ke arah mereka.


“Darah?” Gumamku pelan diikuti kedua mataku mengarah pada gelas bambu berisi air berwarna merah di hadapanku.


Aku kembali melirik ke arah Haruki yang telah meraih gelas bambu milik Cia yang ada di hadapannya, diarahkannya gelas tadi oleh Haruki mendekati bibirnya seraya diminumnya air yang ada di dalam gelas tersebut. Pandangan mataku terjatuh pada jakunnya yang bergerak naik-turun saat dia meminum air tersebut diikuti air berwarna merah yang sedikit mengalir di ujung bibirnya.


Haruki menunduk dengan sebelah tangannya mengusap bibirnya, dia melirik ke arahku saat tangannya kembali meletakan gelas bambu yang ia genggam ke tanah. Aku membuang pandangan mataku menghindari lirikan matanya diikuti kedua tanganku yang meraih gelas bambu yang ada di hadapanku. Bau amis, seketika menusuk hidungku saat aku mendekatkan hidung mendekati air yang berwarna merah itu.

__ADS_1


Kembali, aku sedikit menjauhkan gelas tadi saat bau amis khas darah yang dihasilkan mengaduk-aduk isi perutku. Pandangan mataku sedikit melirik ke arah Izumi yang telah menurunkan gelas bambu yang ia pegang menjauhi mulutnya, ikut juga terlihat … Dia mengangkat lengan kanannya mengusap sisa air darah yang menetes di dagunya.


Aku kembali mengarahkan pandangan pada gelas yang masih aku genggam, genggaman tanganku di gelas bambu semakin kuat tatkala kutatap Haruki yang telah meminum gelas keduanya. Dengan perlahan, aku kembali menggerakan gelas bambu tadi mendekati bibirku.


Kau sudah beberapa kali meminum darah Kou, Sachi. Jadi, lakukan seperti biasa!


Aku sedikit mengangkat cangkir tadi ke atas saat ujung cangkirnya menyentuh bibirku, rasa amis seketika memenuhi mulutku tatkala air darah itu mulai mengalir di seluruh rongga mulutku. Kedua mataku terpejam tanpa sadar saat air darah memenuhi mulutku, aku mencoba untuk tidak memikirkan bau amis yang menganggu kuat perutku itu.


Pundakku bergerak merinding saat air yang ada di dalam mulutku tadi perlahan mengalir di dalam kerongkonganku. Saat aku meminum darah Kou, walaupun darahnya tetaplah amis … Tapi ketika mendekati kerongkongan, rasanya sangatlah berbeda. Aku tertunduk dengan mengeluarkan sedikit air ludahku ke luar. Gigiku ikut bergerak menyapu permukaan lidahku itu.


Benar-benar buruk, ini benar-benar mimpi buruk.


Aku kembali mengangkat wajahku menatap lurus ke depan, pandangan mataku melirik ke arah Haruki, Izumi, Lux dan juga Eneas yang telah mengarahkan pandangan mereka ke arahku. Kelopak mataku berkedip lalu kembali tertunduk menatap sisa air darah yang ada di dalam gelas bambu yang aku genggam erat tersebut.


Air darah yang ada di dalam bambu tersebut kembali mengalir perlahan di dalam mulutku, gumpalan-gumpalan kecil yang aku pun tidak tahu itu apa … Terasa menyangkut di ujung kerongkonganku. Aku semakin kuat memejamkan mataku, rasa hangat pada air tersebut semakin membuat rasa amis darah yang ada di dalamnya menguat.


“Kalian semua telah melakukannya dengan baik,” suara perempuan tua itu kembali terdengar saat aku telah kembali tertunduk setelah menghabiskan air darah yang mereka sediakan, “setelah itu, kita akan melakukan prosesi upacara selanjutnya,” sambungnya kembali terdengar di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2