Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCVI


__ADS_3

Kulangkahkan kakiku memasuki ruangan seraya ikut kuarahkan pandangan mataku ke sekitar. Tak ada satupun ranjang untuk tidur di sana, hanya sebuah kasur terbaring bebas di lantai itu pun dengan kain kusam yang menyelimutinya.


Menoleh aku menatapi dinding di sebelah kanan tubuhku, lama kutatap dinding kayu yang sedikit membiaskan warna hijau tersebut. Kugerakkan kakiku melangkah mendekati Eneas yang telah duduk di atas kasur tadi...


Tubuhku bergerak duduk di samping Eneas, kuangkat telapak tanganku yang penuh debu tatkala tangan kananku itu menyentuh bagian atas kasur tersebut. Kuarahkan telapak tanganku tadi bergerak saling menepuk-nepuk pelan seraya berusaha untuk menghilangkan debu-debu tadi.


Kualihkan pandanganku menatap Haruki, Izumi dan juga Daisuke yang juga telah duduk berhadapan denganku. Daisuke membaringkan tubuhnya menyamping di atas lantai dengan sebelah tangannya menopang kepalanya.


Sedangkan Haruki dan Izumi tampak sibuk memijat-mijat lengan dan menepuk-nepuk punggung mereka sendiri. Kualihkan pandanganku pada Daisuke kembali yang telah menggerakkan tubuhnya berbaring terlentang dengan kedua tangan menahan bagian atas kepalanya.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ungkap Izumi, kuarahkan pandanganku padanya yang juga telah menggerakkan tubuhnya terbaring menyamping.


"Apa kau mendapatkan informasi lebih tentang tempat ini, Daisuke?" sambung Haruki menimpali perkataan Izumi, kembali kualihkan pandanganku menatapnya yang tengah menatap Daisuke yang tengah terbaring di sampingnya.


"Serbuk memabukkan, begitu yang sempat aku dengar saat seseorang membicarakannya di sampingku ketika aku tengah memesankan sebuah kamar untuk kita tempati," ungkap Daisuke tanpa sedikitpun menoleh ke arah Haruki.


"Serbuk memabukkan?" tanya Haruki lagi padanya.


"Aku tidak tahu jelas apa itu, hanya saja... Beberapa tahun yang lalu, tempat ini termasuk salah satu surga dunia... Terlewat dari gambaran tentang sarang perampok yang melekat padanya," ungkap Daisuke kembali, beranjak ia duduk di samping Haruki.

__ADS_1


"Terakhir kali aku mengunjungi tempat ini bersama salah satu wakil kaptenku, tempat ini... Seperti apa aku mengatakannya, hampir setara dengan Kerajaan kita."


"Semua penduduk di dalamnya tampak hidup sedikit lebih baik dibandingkan sekarang yang aku lihat. Walaupun, semua perbudakan atas perempuan masih saja kuat di sini sampai sekarang," sambung Daisuke kembali seraya diarahkannya pandangannya menatapi Haruki.


"Jadi yang ingin kau maksudkan adalah, tempat ini mengalami penurunan? Maksudku, apa mungkin itu ada hubungannya dengan serbuk yang kau maksudkan?" ucap Izumi ikut menimpali.


"Bisa seperti itu, aku hanya mendengarkannya sekilas, jadi aku pun tidak terlalu yakin akan hal itu," ungkap Daisuke kembali, kualihkan pandanganku menatap tangannya yang saling menggenggam erat satu sama lain.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" ucap Izumi, kutatap dia yang juga telah beranjak duduk di samping Haruki.


"Bagaimana denganmu sendiri Sa-chan?" ucapnya, balas aku menatapnya yang juga telah mengalihkan pandangannya menatapku.


"Dan apa itu?" ucapnya kembali padaku.


"Narkotika, tapi narkotika sering digunakan sebagai obat penghilang nyeri, itu pun jika tidak dikonsumsi secara berlebihan. Jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menurunkan fungsi otak, seperti dengan cara memberikan efek halusinasi bagi pemakainya, jika benar yang dikatakan Daisuke seperti itu... Maka, itu sudah menjadi alasan yang cukup kuat untuk hancurnya tempat ini," ucapku lagi pada mereka.


"Halusinasi?" ungkap Eneas, kuarahkan pandanganku menatapnya yang juga telah menatapku.


"Seperti apa aku menjelaskannya," ungkapku lagi seraya kuarahkan pandanganku ke atas menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Halusinasi, adalah saat dimana kau melihat, mencium atau bahkan merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di sekitarmu," sambungku, kugerakkan kembali kepalaku menatapi Haruki, Izumi dan juga Daisuke bergantian.


"Jika yang kau maksudkan seperti itu, mungkin kau memang benar adanya. Bahkan kami para Peri saja menghindari beberapa tanaman yang menurut kami sangat merugikan," tiba-tiba terdengar suara Lux, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah terbang keluar dari balik rambutku.


"Apa kau menyetujui apa yang dikatakan Sachi, Lux?" ungkap Izumi, bergerak menoleh ia menatap Lux yang telah hinggap duduk di pundak Haruki.


"Aku menyetujui apa yang ia katakan, bahkan Ibuku dulu pernah bercerita... Jika, dahulu sekali ada dua beradik Peri yang saling membunuh dikarenakan tak sadar diri setelah memakan daun atau buah... Aahh, aku tak terlalu mengingatnya," ucap Lux kembali seraya digerakkannya tangannya menggaruk-garuk rambut di kepalanya.


"Apa itu ada hubungannya dengan halusinasi yang kau maksudkan tadi Sa-chan?" ucap Haruki, kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah menatapku itu.


"Tentu saja nii-chan, mereka kehilangan kesadaran pikirannya, mereka tidak bisa membedakan itu khayalan ataupun nyata, dan kemungkinan terburuknya mereka mungkin mengira orang di sekitarnya adalah musuhnya. Kalian dapat membayangkan sendiri bukan apa yang akan terjadi selanjutnya," ucapku seraya kuangkat telapak tangan kananku memijat-mijat pelan kepalaku.


"Lalu apa yang akan kita lakukan Yang Mulia?" sambung Daisuke, kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah berbalik menatapi Haruki.


"Jika benar apa yang dikatakan Putri, bukankah ini akan membahayakan kalian?" lanjut Daisuke kembali padanya.


"Apa kau tak tahu Daisuke, sebelumnya kami telah mengalami hal yang lebih buruk saat di Kekaisaran. Ini, tidak berarti apa-apa untuk kami," terdengar suara Izumi, kutatap Kakakku itu yang tengah mengarahkan pandangannya melirik ke arah Haruki.


"Izumi mengatakan yang sebenarnya, dan seperti yang aku katakan... Mendapatkan sekutu yang sama membangkangnya pada Kekaisaran membuatku semakin tertarik... Jadi kalian, mendekatlah dan dengarkan semua rencanaku," ucap Haruki seraya kutatap dia yang tersenyum menatapi kami bergantian.

__ADS_1


__ADS_2