
Kugerakkan tangan kananku ke atas tanah lalu kudorong sekuat mungkin hingga tubuhku ikut terjatuh ke samping. Kutatap kapak besar itu yang tertancap persis di samping tubuhku.
Aku segera beranjak berdiri tatkala laki-laki tersebut masih berusaha menarik kembali kapak miliknya tadi. Kugerakkan tubuhku meraih pedang yang tergeletak tak jauh dari mayat laki-laki yang sebelumnya ku potong lehernya.
Kuraih kembali pedang tersebut yang sempat terjatuh dari tanganku, gagangnya yang basah dan licin membuatku sedikit kesulitan menggenggamnya. Pandangan mataku beralih pada seorang laki-laki berbeda yang berlari ke arahku.
Pedang yang ada di tangannya mengarah padaku, ikut kuarahkan pedangku menghadang pedang miliknya yang mengarah ke wajahku tadi. Kedua tanganku mundur sedikit ke belakang diikuti semakin majunya pedang laki-laki tadi mengarah padaku.
"Sachi, menunduk!" Terdengar teriakan kecil, kugerakkan kepalaku mengikuti teriakan tadi.
Laki-laki tadi mundur ke belakang beberapa langkah, kepalanya tertunduk dengan sebelah telapak tangannya bergerak mengusap-usap sekitar matanya. Kugerakkan kedua kakiku mendekati laki-laki yang masih tertunduk tadi, seraya kuangkat pedang yang ada di tanganku ke atas.
Kugerakkan pedang tadi menebas bagian belakang leher laki-laki tadi, kutarik kembali pedang tersebut lalu kugerakkan kembali menebas bagian depan lehernya yang sebelumnya mendongak ke atas. Kutatap darah yang mengucur deras di kedua sisi lehernya.
Laki-laki tersebut jatuh berlutut berusaha menutupi luka yang ada di lehernya dengan kedua tangannya. Kugerakkan kaki kananku menendang keras belakang kepalanya, laki-laki tersebut jatuh tersungkur dengan tubuh mengejang-ngejang disertai suara pilu yang redam terdengar.
Aku berbalik menatap Izumi yang masih bertarung dengan laki-laki pemegang kapak yang menyerangku sebelumnya. Berkali-kali Izumi bergerak ke kanan dan ke kiri, lalu menunduk dan beranjak menghindari ayunan kapak laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut mengayunkan kapak yang ia genggam ke samping, Izumi melompat menghindar seraya diangkatnya tinggi-tinggi pedang yang ia genggam. Pedang tersebut bergerak menancap bagian kepala laki-laki botak tersebut.
__ADS_1
Bias-bias cahaya yang dihasilkan obor yang tergeletak tak jauh dari mereka sedikit memperlihatkan darah yang mengalir menetes pada pedang milik Izumi yang masih tertancap di kepala laki-laki tersebut.
Izumi menarik pedangnya kembali tatkala laki-laki tersebut berbalik hendak balas menyerangnya. Kugerakkan kedua kakiku berjalan mendekati mereka, Izumi melirik tajam ke arahku, segera kuhentikan langkah kakiku saat melihat lirikannya tadi.
Laki-laki itu menggerakkan kapak yang ia genggam ke sembarang arah. Izumi menggerakkan kembali pedangnya menebas lengan kanan laki-laki tersebut, gerakan pedangnya bergerak cepat ke atas lalu turun ke bawah menebas lengan kiri laki-laki itu. Kapak yang ada di lengan laki-laki tersebut jatuh ke tanah...
Izumi kembali menggerakkan ujung pedangnya ke depan dengan telapak tangan kirinya menggenggam bagian paling ujung ganggang pedang tersebut. Didorongnya ujung pedang yang telah menempel di leher laki-laki tadi.
Semakin maju dan semakin maju hingga kepala laki-laki tadi sedikit mendongak ke atas. Kedua tangan laki-laki tersebut bergerak mencoba menahan pedang Izumi yang semakin maju menusuk lehernya...
Laki-laki tersebut berlutut di hadapan Izumi, kedua tangannya yang menggenggam pedang tadi tampak ikut terkulai ke tanah. Izumi menarik kembali pedangnya diikuti dengan semburan darah yang memercik pakaian Kakakku itu.
Aku duduk menatapi mereka, masih kutatap laki-laki tadi yang berbaring tak bergerak di dekat kaki Izumi. Izumi menoleh dan berjalan mendekati, kugerakkan kepalaku bersembunyi di antara kedua kakiku yang sedikit tertekuk.
"Apa kau baik-baik saja?" Ungkapnya berjongkok di hadapanku.
"Ini pertama kalinya untukku membunuh seseorang. Bukan seseorang, melainkan tiga orang sekaligus," ucapku balas menatapnya.
"Kau melakukannya dengan sangat baik. Itu bukan kesalahanmu, tenanglah," ucapnya kembali menepuk-nepuk pelan kepalaku.
__ADS_1
"Kau juga melakukan semuanya dengan sangat baik Lux," ucap Izumi kembali, ikut kuarahkan pandanganku mengikuti tatapan matanya.
"Aku hanya memberikan racun yang aku bawa pada dua manusia yang tak berguna itu," ucapnya terbang dan hinggap di pundaknya Izumi.
"Kau menyelamatkan ku, Lux. Apa yang kau lemparkan ke mata laki-laki tadi?" Ungkapku membalas tatapannya.
"Bukan apa-apa, hanya tanah. Kau menyelesaikannya dengan sangat baik," sambungnya bergerak terbang mendekatiku.
"Apa kau masih bisa berjalan? Kita akan segera pergi dari sini sebelum musuh yang datang lebih banyak," ucap Izumi beranjak berdiri dengan sebelah tangannya mengarah padaku.
"Tentu," ungkapku meraih tangannya sedangkan sebelah tanganku yang lain meraih pedang yang aku lepaskan sebelumnya.
Izumi menarik tanganku hingga tubuhku beranjak berdiri di sampingnya. Digenggamnya tanganku dengan sangat erat olehnya seraya bergerak ia berjalan tanpa sedikitpun menoleh.
Darah bercampur keringat yang memenuhi tubuhku sedikit membuatku menggigil tatkala angin berembus menerpa tubuh. Berkali-kali kugerakkan kepalaku ke kiri dan ke kanan seraya berharap tak ada lagi musuh yang muncul...
"Apa kau memikirkan hal yang sama seperti yang aku pikirkan?" Ucapnya, kugerakkan kepalaku menatapnya yang masih bergeming tak menoleh.
"Katakan nii-chan, apa yang akan kau lakukan nanti?"
__ADS_1
"Menurutmu? Bukankah sudah sangat jelas bukan?" Sambungnya, kurasakan genggamannya pada tanganku semakin menguat.
"Aku mengerti. Aku menyerahkan eksekusi nya padamu, nii-chan," ucapku ikut menatap lurus jalan gelap yang ada di hadapan kami.