
“Lux,” ucapku kembali memanggilnya, Lux masih sibuk berbicara tak menggubris panggilan yang aku lakukan.
Aku sedikit melirik ke arah Izumi yang telah duduk berjongkok di sampingku, Izumi mengangkat tangannya mencengkeram tubuh Lux, “apa yang kau lakukan, Izumi! Lepaskan aku! Aku masih belum selesai berbicara,” ucapnya memukul-mukul telapak tangan Izumi yang mengenggam tubuhnya.
“Lux!” Lux terdiam seketika saat bentakan Haruki terdengar di telinga, “jaga bicaramu!” Haruki kembali membuka suaranya, aku sedikit melirik ke arahnya yang menatap tajam ke arah kami.
Haruki menggerakan kedua tangannya menyentuh paha, kepalanya bergerak pelan tertunduk, “maafkan kesalahan yang dilakukan Adikku itu,” ucap Haruki dengan tetap menundukan kepalanya.
“Adik?” Suara perempuan tua tadi kembali terdengar, “benar, Adikku. Aku siap menanggung semua hukumannya, jika dia memang patut dihukum,” ucap Haruki masih menundukan kepalanya.
“Haruki,” ucap Lux pelan terdengar, aku sedikit melirik ke arahnya yang memegang jempol tangan Izumi dengan kedua tangannya.
“Aku, baru pertama kali melihat makhluk sepertinya. Aku, memang akan menghukumnya atas sikap lancang yang ia lakukan.”
“Apa yang kau lakukan? Jangan melampiaskan kesalahanku pada”
“Lux!” Perkataan Lux kembali terpotong oleh bentakan kuat yang Haruki lakukan, “jadi kau, ingin menghukum adikku atas kebenaran yang ia katakan?” Haruki kembali bersuara, dia kembali mengangkat kepalanya yang masih tertunduk sebelumnya.
“Bukannya berterima kasih, kau malah ingin menghukum adikku. Katakan! Hukuman apa yang ingin kau berikan untuknya?”
__ADS_1
“Kau ingin mencabuti kedua sayapnya, kau ingin memotong tubuhnya menjadi dua, atau kau ingin langsung menelan tubuh kecilnya itu hidup-hidup?” Sambung Haruki, aku sedikit melirik ke arah Lux yang terdiam dengan wajah pucat pasi tertunduk, “jangan bercanda!” Lanjut Haruki kembali diikuti Lux yang mengangkat kepalanya menatap Haruki.
“Apa kau pikir, aku akan mengizinkanmu menyentuh adik-adikku? Dengarkan aku! Dengarkan kebenaran yang akan aku katakan ini!”
Haruki menceritakan semua tentang Robur Spei kepada perempuan tua itu, awalnya perempuan itu mengerutkan keningnya mendengar apa yang Haruki katakan padanya, “aku tidak akan memaksa kalian untuk mempercayai apa yang aku katakan. Akan tetapi, air terjun yang dapat membuat perempuan memiliki anak dan juga dia,” ucap Haruki mengarahkan jari telunjuknya ke arah Lux, “sudah cukup untuk menjadi bukti tentang kebenaran yang aku katakan bukan?” Sambung Haruki kembali padanya.
_______________
Aku melirik ke arah Lux yang masih terdiam duduk di depan Haruki, perempuan tua itu melepaskan kami, dia juga mengatakan akan memberitahukan semua keputusan setelah mereka melakukan pembicaraan dengan para tetua desa, “Lux,” ucap Haruki, dia mengangkat kedua tangannya saling bersilang di dada.
“Apa kau paham? Di mana letak kesalahanmu?” Haruki kembali menatapnya, Lux masih diam seribu bahasa dengan pandangannya yang telah terangkat membalas tatapan Haruki.
“Jika kau membenci seseorang, maka simpan kebencian itu untukmu sendiri. Jika bisa, buat semua kebencianmu itu, untuk memanfaatkan mereka yang kau benci. Jangan katakan, aku membencinya, karena itu aku harus menunjukan semua kebencianku agar dia paham, tapi katakan pada dirimu sendiri … Aku membencinya, karena itu aku memanfaatkannya. Apa kau paham? Dengan apa yang aku maksudkan,” ucap Haruki kembali padanya, “aku memahaminya, dan aku menyesal,” ucap Lux menjawab perkataan Haruki.
Haruki menghela napas, “kau keluarga kami Lux. Ingatlah itu,” ucapnya beranjak berdiri lalu berjalan melewatiku dan juga Cia, “bersiap-siaplah, mereka mengundang kita untuk mendatangi jamuan makan malam,” sambung Haruki kembali terdengar diikuti suara deritan pada lantai kayu yang ada di belakang kami.
“Lux,” ucapku memandang bayangan kecil tubuhnya, “apa yang kau lakukan Sachi, apa kau tidak dengar perkataan Haruki?” Suara Lux terdengar mendekat diikuti bayangannya yang semakin terbang melewati.
Aku menghela napas, tubuhku beranjak berdiri seraya tanganku meraih tangan Cia lalu mengenggamnya erat saat dia juga telah ikut berdiri di sampingku. Aku dan Cia berjalan mendekati pintu rumah yang telah terbuka, kedua kakiku berhenti di depan pintu … Menatap Haruki dan juga Eneas yang tengah berbincang di ujung anak tangga.
__ADS_1
Aku melangkah menuruni anak tangga menyusul mereka semua, kedua tanganku bergerak mengenggam tangan Cia agar dia tak terjatuh ketika menuruni tangga tersebut, “di mana Izumi?” Tanya Haruki menatapi Eneas, “Izu nii-san menjaga bagian belakang rumah. Aku akan memanggilnya,” jawab Eneas melangkahkan kakinya menjauhi Haruki.
Aku melirik ke arah Lux yang duduk di atas pundak Haruki, “Lux, kau paham apa yang harus kau lakukan nanti bukan?!” Ungkap Haruki sedikit melirik ke arah Lux yang duduk di pundaknya, “aku mengerti, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Lux mengarahkan kepalanya menatap Haruki.
“Kau harus ingat ini Lux, semakin banyak kita mendapatkan sekutu … Semakin mudah kita akan melawan Kekaisaran dan semua yang berada di bawah pimpinannya. Kita harus melakukan apa pun untuk mendapatkan kepercayaan mereka yang tidak mempercayai Kekaisaran, kau sangat ingin merebut kembali bunga tersebut bukan?” Sambung Haruki kembali padanya.
“Tentu, apa pun yang terjadi … Aku harus mendapatkan bunga itu kembali, harus,” ucapnya kembali mengarahkan pandangannya menatap lurus ke dapan.
“Kalian telah berkumpul? Apakah semuanya telah terselesaikan?” Suara Izumi terdengar, aku melirik ke kanan, menatapnya yang tengah berjalan mendekat dengan Eneas yang juga tengah berjalan di sampingnya.
“Lux,” ucap Izumi kembali saat kedua kakinya berhenti melangkah di depan Haruki, “maaf, karena aku mencengkeram kuat tubuhmu. Apa kau terluka?” Sambungnya berbalik menatap Lux.
“Aku baik-baik saja, lagi pun itu memanglah kesalahanku,” ucapnya menanggapi perkataan Izumi, “baiklah, kita pergi sekarang. Mereka mungkin telah menunggu kita,” suara Haruki kembali terdengar memecah keheningan.
Haruki berjalan membelakangi kami, aku sedikit mengelus kepala Cia dengan kedua kakiku mengikuti langkah kakinya dari belakang, "apa mereka berdua baik-baik saja?” Bisikan Izumi yang terdengar pelan membuatku menoleh ke arahnya.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka baik-baik saja,” aku balas berbisik padanya, “apa kau yakin?” Izumi kembali berbisik, aku menggeleng pelan menjawab pertanyaannya itu.
Rangkulanku di pundak Cia semakin kuat saat angin yang berembus semakin dingin menusuk kulit, api yang menyala di obor-obor yang menghampar sepanjang jalan, tampak ikut bergoyang mengikuti angin. Dari kejauhan, suara musik bercampur nyanyian menyentuh telingaku. Aku sedikit mendongak ke atas, menatap asap yang mengepul di udara.
__ADS_1
Semakin lama, jalan yang kami lewati semakin menerang oleh obor-obor yang berbaris lebih banyak dibanding sebelumnya. Langkah kakiku ikut terhenti saat Haruki telah menghentikan langkah kakinya di hadapan kami, “kalian mengerti, apa yang harus kalian lakukan bukan?” Ungkap Haruki diikuti pandangan matanya yang juga tertuju ke arah para penduduk desa.