Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXVIII


__ADS_3

“Kau cantik sekali, Sachi,” ucap Julissa yang berdiri di belakangku.


Aku beranjak berdiri lalu berbalik menatapnya, “terima kasih untuk bantuanmu, Julissa,” ucapku tersenyum menatapnya.


Julissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum membalas tatapanku, “semoga hari kalian lancar,” ungkapnya dengan melangkah sedikit maju lalu meletakkan sisir yang ia pegang di atas meja.


“Terima kasih,” ucapku kembali sembari berjalan meninggalkannya.


Aku berjalan mendekati pintu kamar lalu membukanya, kuanggukan kepalaku saat Amithi dan juga Chandini membungkukkan tubuhnya di kanan dan kiri tubuhku. Kedua kakiku terus melangkah menyusuri Istana, langkah kakiku sempat terhenti saat kedua mataku terjatuh pada Kedua Kakakku dan juga Eneas yang terngah berjalan berdampingan dengan Akash di samping mereka.


“Kau ingin ke mana?” tanya Haruki ketika langkah kaki mereka berhenti di hadapanku.


“Zeki mengajakku untuk berkeliling, dan karena para penduduk sudah mengenali wajahnya … Akan sangat memalukan untuknya yang mengajakku pergi jika aku tidak berdandan,” ucapku dengan menggaruk bagian atas telingaku sendiri.


“Kau terlihat cantik, segeralah pulang jika kalian sudah selesai berkeliling,” ucap Haruki menyentuh pipiku sebelum dia melangkah berlalu diikuti Akash dan juga Eneas di belakangnya.


“Nii-chan, maafkan aku,” ungkapku kepada Izumi yang masih berdiri menatap di hadapanku.


Izumi meletakkan telapak tangannya di kepalaku, “jangan terlalu mempermasalahkannya. Berhati-hatilah, dan segera kembali jika kalian telah selesai,” ucapnya tersenyum sebelum berjalan pergi.


Aku menarik napas dengan menyelipkan sedikit rambutku ke telinga sebelum kedua kakiku kembali melanjutkan langkah, langkahku kembali terhenti saat pandanganku terjatuh ke sebuah kereta kuda megah dengan atap terbuka, ikut pula beberapa puluh Kesatria yang berbaris di sekitar kereta tadi.

__ADS_1


Wajahku kembali terangkat saat bayangan laki-laki berjalan mendekat, aku mengangkat tanganku meraih tangannya yang ia julurkan kepadaku sebelumnya. “Kau terlihat sangat cantik,” ungkapnya menoleh lalu tersenyum menatapku yang berjalan di sampingnya.


Zeki menghentikan langkahnya lalu bergerak menaiki kereta kuda tadi, dia berbalik dengan mengangkat sebelah tangannya yang lain ke arahku. Kuraih dan kugenggam kuat kedua tangannya saat dia membantuku beranjak naik ke kereta. Dia duduk di sampingku saat aku telah duduk di atas kereta berwarna hitam keemasan itu, “aku sebenarnya ingin mengajakmu berjalan-jalan seperti rakyat biasa. Tapi di sisi lain, aku ingin memperkenalkan calon isteriku kepada mereka.”


Aku menguatkan genggaman tanganku di tangannya “aku paham,” ucapku tersenyum saat dia memainkan jarinya di rambutku.


Kutarik napas sekuat mungkin lalu kuembuskan kembali saat kereta tersebut mulai berjalan, kuangkat sebelah tanganku menyentuh dada ketika jantungku kian bergemuruh tak menentu. Aku mencengkeram lengan pakaian Zeki diikuti semakin kuatnya tanganku yang lain menggenggam tangannya saat kereta yang membawa kami berjalan semakin mendekati pemukiman. Aku mencuri pandangan dengan melirik ke sekitar ketika orang-orang menghentikan perkerjaan mereka lalu mengalihkan pandangan mereka ke arah kami.


“Tenanglah. Wajah tegangmu malah membuatku ingin sekali menggodamu,” bisiknya di sampingku saat dia mendaratkan ciuman di keningku.


Aku menggigit kuat bibirku sebelum mengembuskan napas berulang-ulang. “Apa ada yang ingin kau beli?” Aku berbalik menatapnya ketika dia mengatakan hal tersebut.


“Aku mengerti,” ucapnya diikuti usapan di belakang kepalaku, “bawa kami, ke semua tempat terbaik yang ada di sini! Terlebih dahulu, aku ingin berkunjung mencari perhiasan,” sambung Zeki yang kembali terdengar di dekatku.


Kereta berjalan perlahan lalu berhenti di sebuah bangunan luas nan megah yang ada di tengah kota, Zeki beranjak berdiri dengan bergerak menuruni kereta. Aku ikut beranjak lalu berjalan dengan meraih tangannya yang mengarah kepadaku. Saat kami berjalan masuk ke dalam ruangan, semua yang ada di sana langsung membungkukkan tubuh mereka, “hanya bawakan kami perhiasan terbaik dari yang terbaik,” ucap Zeki singkat ketika seorang laki-laki berjalan mendekat lalu membungkukkan tubuhnya ke arah kami.


Kami berjalan mengikuti seorang laki-laki lainnya yang menuntun kami ke sebuah ruangan luas dengan kursi megah di dalamnya. Zeki menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut ketika aku telah duduk di kursi yang sama, “apa kau lapar?” tanyanya dengan menatapku saat beberapa orang laki-laki masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah teko lengkap dengan cangkir keramiknya diikuti cemilan-cemilan cantik yang berjejer di atas meja di hadapan kami.


“Kau tahu, walau aku seorang Putri. Ini pertama kalinya untukku dilayani seperti ini, aku tidak pernah berbelanja barang-barangku sendiri di Istana, semuanya dilakukan oleh Tsubaru … Karena itu, aku sungguh terkejut jika seorang bangsawan benar-benar diperlakukan sangat istimewa seperti ini,” ungkapku pelan dengan melirik ke arah satu per satu cemilan yang ada.


Aku mengangkat wajahku saat dua orang laki-laki masuk, menggantikan beberapa laki-laki yang membawakan kami makanan. Mereka berdua berdiri di hadapan kami dengan salah satu di antara mereka membawa tumpukan kotak di tangannya. Salah satu di antara laki-laki tersebut meraih dan membuka salah satu kotak lalu ditunjukkannya kepada kami.

__ADS_1


“Apa kau menyukainya?” Zeki kembali bertanya saat laki-laki yang ada di hadapan kami itu berhenti menjelaskan tentang satu set perhiasan yang ada di tangannya.


“Aku, lebih menyukai kalung yang dulu kau berikan. Bisakah, kau memberikannya lagi kepadaku?” Aku balik bertanya dengan menoleh ke arahnya.


“Aku akan memberikannya lagi kepadamu. Tapi sebelum itu, pilihlah perhiasan yang lain sebagai teman untuk kalungmu itu.”


Aku kembali menghela napas dengan sedikit menekan dadaku sendiri, “diperlakukan seperti ini, justru membuatku semakin gugup,” gumamku pelan dengan melirik ke arah perhiasan yang dipegang oleh laki-laki tadi.


“Bawa semua perhiasan itu ke Istana! Aku akan menunggu kalian di Istana,” ucap Zeki beranjak berdiri, lama dia menatapku sebelum aku ikut beranjak berdiri di sampingnya.


Aku melirik ke arah dua orang laki-laki tadi yang kembali membungkukkan tubuh mereka saat kami berjalan melewatinya. Zeki menghentikan langkahnya, “aku lebih menyukai saat kita berjalan-jalan seperti rakyat biasa,” ungkapnya dengan helaan napas yang mengikuti.


“Bukan hanya kau, aku pun merasakan hal yang sama. Ini benar-benar membebaniku, maaf,” ungkapku menimpali perkataannya.


“Kabhir!” tukas Zeki menoleh ke belakang.


“Carikan kami berdua pakaian! Yang Murah dari yang termurah, hingga kami terlihat sama seperti mereka yang ada di luar sana,” ungkap Zeki yang langsung disanggupi dengan anggukan kepala yang Kabhir lakukan.


“Kami akan memakai ruangan kalian lebih lama. Aku tidak ingin, ada yang mengganggu,” ucapnya kembali sambil melirik ke arah dua orang laki-laki yang baru saja keluar dari ruangan yang kami tempati sebelumnya.


“Baik, Yang Mulia. Akan kami laksanakan sesuai perintah dari Yang Mulia,” ucap salah satu laki-laki tersebut yang masih enggan untuk mengangkat wajahnya yang tertunduk.

__ADS_1


__ADS_2