Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXX


__ADS_3

"Berpeganglah yang erat," ucapku sedikit melirik ke arah Ebe yang duduk di belakang dengan kedua tangannya melingkar di pinggangku.


Kou terbang membawaku ke udara, ia berhenti sejenak sebelum berbelok tajam ke kanan. Rangkulan tanganku di lehernya semakin kuat saat tubuh Kou bergerak miring ke samping.


Aku melirik ke arah sayap Kou yang bergerak menyentuh air laut, sebuah garis panjang dari es terbentuk di permukaan laut sebelum Kou kembali terbang dengan cepat ke udara.


"Kuro!" Teriakku kuat, sembari kuarahkan pandangan mataku menatap permukaan laut yang ada di bawah.


"Sachi," suara Ebe terdengar pelan di belakang, aku menggerakkan kepala mencoba berbalik meliriknya.


"Bertahanlah sedikit lagi Ebe, hanya sedikit lagi," ucapku kembali melirik ke arah lautan.


Kuarahkan sebelah tanganku meraih lengan Ebe sembari kugerakkan tubuhku ke samping ... Aku jatuh dari atas tubuh Kou dengan Ebe yang mengikuti di samping.


Pandangan mataku melirik ke arah Kou yang terbang lalu membekukan ombak tinggi yang ingin menerjang tubuhku, kembali Kou melakukannya pada ombak tinggi lainnya yang tak kunjung berhenti mendatangi.


Aku kembali melirik ke arah Ebe yang juga masih terdiam menatapi permukaan laut yang kian mendekat. Kulepaskan tanganku yang menggenggam lengannya tadi, pandangan mataku berkedip beberapa kali saat rasa perih terasa menusuk ketika kami semakin mendekati permukaan laut.


Tubuhku menghantam air laut, rasa sakit yang terasa saat air laut itu menabrak tubuhku seakan meremukkan seluruh tulang. Dengan cepat kuraih leher Kuro yang telah berenang menungguku di bawah air.


Sebelah tanganku yang lain ikut bergerak melingkar di lehernya. Kuro berenang cepat ke kanan menghindari para duyung yang masih berusaha mengejarnya. Tubuhnya berbalik berenang mendekati Ebe yang telah dikepung oleh beberapa duyung.


Kutatap ekor Kou yang mengibas beberapa duyung yang ada di hadapan Ebe, beberapa duyung itu ada yang terlempar ke udara sebelum mereka kembali membentur air laut.


"Lindungi dia Kou, asalkan aku bersamanya. Kakek tua itu, tidak akan menyakitiku di dalam lautan."

__ADS_1


"Sesuai perintahmu, My Lord," jawab Kou, ekornya kembali mengibas beberapa duyung yang masih mengelilingi Ebe, kibasan ekor Kou meninggalkan dinding es yang mengambang mengelilingi Ebe.


Kuro semakin berenang cepat, beberapa kali dia menghindar saat duyung-duyung yang terkena kibasan ekor Kou itu terlempar ke arah kami. Kuro sedikit menyelam ke bawah air saat kami sedikit mendekat ke dinding es yang Kou buatkan untuk Ebe.


"Ebe!" Teriakku kuat dengan sebelah tanganku bergerak ke depan.


Ebe menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berusaha mencari sesuatu. Ia menggerakkan ekornya menyelam ke bawah lalu berenang ke luar dari tembok es yang Kou buat. Kugerakkan tanganku tadi ke arahnya saat Kuro semakin cepat berenang ke arahnya.


Kuraih lalu kugenggam dengan sangat kuat pergelangan tangan Ebe. Sebelah tangannya yang lain bergerak merangkul pinggangku sebelum aku melepaskan genggaman tanganku di tangannya. Kuarahkan sebelah tanganku yang menggenggam tangan Ebe tadi bergerak merangkul leher Kuro kembali.


Kuro berbalik tajam ke kanan lalu berenang cepat menembus lautan. Pandangan mataku melirik ke atas, menatap bayangan Kou yang terbang di atas kami. Tubuhku ikut miring ke kiri saat Kuro bergerak cepat menghindar dari pusaran air yang tiba-tiba muncul di hadapan kami, ia berbelok kembali ke kanan ... Berusaha menghindari pusaran air yang lain.


"Berhati-hatilah Sachi, pusaran air itu seperti penjara yang Kakekku ciptakan," ucap Ebe semakin memperkuat pelukannya di pinggangku.


"Aku mengerti," ucapku kembali mengusap leher Kuro sebelum ia berbelok tajam ke arah kiri menghindar pusaran air yang tak henti-hentinya berdatangan.


"Ke arah kanan, ikan itu ada di sana," ucap Kou, segera kuusap leher Kuro hingga tubuhnya terhenti sejenak sebelum kembali berenang cepat ke arah kanan.


"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, lakukan tugasmu, Kou!"


"Sesuai perintah darimu, My Lord," ucap Kou, aku mengarahkan pandangan ke atas, menatap bayangannya yang semakin menghilang di atas permukaan laut.


Kuro berenang semakin menyelam ke dalam lautan, tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri berusaha menghindar dari pusaran-pusaran air yang kembali datang entah darimana.


Kuro berhenti bergerak, kutatap laki-laki tua, Kakeknya Ebe tengah berenang di hadapan kami dengan banyak sekali duyung laki-laki termasuk Dekka di sampingnya. Masing-masing duyung itu itu duduk di atas punggung kuda-kuda mereka, kecuali laki-laki tua itu yang berdiri di atas kereta dengan beberapa kuda yang menariknya.

__ADS_1


"Kakek!" Teriak Ebe melepaskan rangkulan yang ia lakukan di pinggangku, aku melirik ke arahnya yang telah berenang di sampingku.


"Apa yang Kakek lakukan?!" Sambung Ebe kembali berteriak, laki-laki tua itu masih terdiam dengan kedua matanya menatap tajam ke arahku.


"Kau telah berada di bawah pengaruh jahat dari para manusia itu. Kemarilah!" Teriak laki-laki tua itu dengan sangat kuat hingga air yang ada di sekitar sedikit bergelombang.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menyerang kapal kami?" ucapku, Kuro kembali berenang dengan perlahan mendekat.


"Kalian ingin mencelakai cucuku, manusia tak bisa dipercaya."


"Kalian, yang sebenarnya tak dapat dipercaya. Bukankah, selama di lautan aku selalu menghormati semua keputusan yang kalian buat, kecuali keinginan keras kepalaku yang ingin menyelamatkan adikku dulu," ucapku membalas tatapan laki-laki tua itu.


"Apa kau pikir aku akan mempercayai semua perkataan kalian para manusia?!" Teriaknya kembali kuat, ikut kurasakan tubuh Kuro yang sedikit terombang-ambing karena gelombang air yang ada.


"Kau ingin aku mempercayaimu? Lihat saja, kau bahkan memerintah makhluk ini untuk menyerangku secara diam-diam," ucap laki-laki tua itu kembali lantang, jari telunjuknya terangkat lalu bergerak pelan diikuti tubuh Kou yang telah terikat oleh beberapa cincin air besar yang mengikat tubuhnya.


"Beraninya kau! Lepaskan dia!" Bentakku dengan menggerakkan Kuro semakin mendekatinya.


"Apa kau pikir makhluk ini dapat mengalahkanku di lautan?" Ucap laki-laki tua itu lagi diikuti suara tawa kuat yang ia keluarkan.


"Nagaku, memang dapat mengalahkanmu. Kau bodoh," ucapku sembari tetap mengarahkan Kuro berenang mendekati mereka.


Satu per satu dari para duyung itu berbalik ke belakang, cincin air yang mengikat tubuh Kou perlahan membeku lalu hancur berkeping-keping melebur bersama air laut. Sebelah tangan Kou dengan cepat mencengkeram tubuh laki-laki tua itu, sedangkan ekornya ... Mengibas cepat, membelah air hingga beberapa duyung yang tak sempat berenang melarikan diri, terpelanting karena kibasan kuat yang Kou lakukan.


"Bagaimana? Bagaimana ini bisa terjadi?" Teriak laki-laki tua itu, berkali-kali gelembung air besar yang ada di samping tubuhnya pecah.

__ADS_1


"Apa kau pikir dapat mengendalikan air setelah berada di dalam cengkeraman Naga kesayanganku? Jangan bermimpi," ucapku berenang mendekati Kou lalu duduk di lengannya yang mencengkeram kuat laki-laki tua itu.


"Apa kau tidak tahu Pak Tua? Sihir Naga dapat menembus sihir apa pun, terlebih ... Jika itu sihir dari makanan yang sangat ia sukai. Jadi, hukuman apa yang akan kau pilih untuk memudahkan kami memusnahkan kalian semua?" Ucapku dengan sedikit tersenyum menatapnya.


__ADS_2