Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXXIII


__ADS_3

Laki-laki misterius berjubah putih tadi, masih setia menunggu kami di tempat ia berdiri sebelumnya. Berjalan kami semua kembali menuju ke arahnya, sirat-sirat cahaya yang dihasilkan oleh obor, memperkuat bayangan wajahnya yang tertunduk.


"Ikuti aku!" ungkap laki-laki misterius tadi seraya berbalik dan berjalan menjauh


Kembali kami mengikuti langkah kakinya menyusuri jalan setapak terbuat dari tanah yang digali dan dibuang rumputnya. Langkah kaki kami berlanjut menyusuri jalan setapak terbuat dari susunan batu yang sengaja ditenggelamkan setengah ukurannya ke dalam tanah.


Berhenti kami di sebuah bangunan Kuil berbentuk layaknya Kastil yang telah aku lihat sebelumnya, cat bangunan yang berwarna putih tampak sedikit bercahaya di kegelapan dini hari yang menyelimuti kami.


Di dorongnya pintu Kuil yang berukuran besar itu oleh laki-laki misterius tadi menggunakan tubuhnya sedangkan sebelah tangannya memegang erat obor bambu yang menyala. Pintu Kuil yang besar itu sedikit terbuka...


Masuk ia ke dalam Kuil melewati celah pintu yang terbuka, menoleh ia ke arah kami seraya memberi isyarat menggunakan jari telunjuknya untuk kami mengikuti langkahnya. Satu persatu anak mengikutinya masuk melewati celah pintu tadi...


Di dalam ruangan sangatlah terang oleh lilin-lilin yang sengaja di susun di sepanjang sudut ruangan, berbeda jauh sekali dengan kegelapan yang ada di luar. Bagian dalam Kuil sendiri ikut berwarna putih, sama seperti warna cat yang melapisi dinding luar bangunan.


Bangku-bangku panjang berwarna cokelat terbuat dari kayu yang di ukir, tersusun rapi berbaris di sudut sebelah kanan dan kiri bangunan, dengan sebuah mimbar kayu besar berwarna putih penuh ukiran berdiri kokoh di tengah-tengah bangunan.


Tampak terlihat sepuluh lebih laki-laki berpakaian putih berdiri dengan sebuah pita melilit lengan kiri mereka masing-masing, pita berwarna merah, putih dan biru, sama seperti yang kami dapatkan sebelumnya.


Usia mereka pun berbeda satu sama lain. Jika kau mengarahkan pandangan ke arah kiri, kau akan mendapati lima orang dewasa berjubah putih, menggendong bayi yang juga berpakaian putih dengan sebuah pita merah di lengan kirinya.


Jika kau mengarahkan pandanganmu lagi ke hadapanmu, kau akan mendapati anak laki-laki berusia sama seperti kami para perempuan lengkap dengan pita putih yang melilit lengan kirinya. Dan ketika kau menjatuhkan pandanganmu ke sebelah kanan, kau akan mendapati enam laki-laki berbeda usia berdiri dengan pita biru yang melilit lengan kirinya.


"Eh?" ungkap Julissa dengan sangat pelan


"Ada apa?" bisikku seraya menoleh ke arahnya


"Lihat, laki-laki yang ada disana?" balasnya berbisik seraya mengarahkan jari telunjuknya ke seorang anak laki-laki yang tengah duduk tertidur bersandar di dinding.

__ADS_1


"Apa kau mengenalnya?" ungkapku seraya mengarahkan pandangan mataku ke arah yang ditunjuknya


"Tentu saja. Kerajaan kami bertetangga dan juga sering melakukan kerja sama, jadi aku sedikit tahu tentangnya..."


"Aku pertama kali bertemu dengannya saat dia mengunjungi Kerajaan kami bersama ayahnya..."


"Banyak rumor yang beterbangan tentangnya. Anak tidak sah lah, anak pelayan yang tidak tahu diri, bahkan rumor terakhir yang aku dengar kalau ia sampai menggoda Ratu, istri Ayahnya sendiri untuk tetap bertahan tinggal di Istana..." bisik Julissa pelan di telinga ku


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?" ungkap Julissa yang melihatku menatapinya seraya menepuk-nepuk pelan wajahnya


"Aku kagum sekali padamu, hidupmu dipenuhi banyak sekali informasi." Ucapku kembali menatapnya


"Kau jangan meremehkan kemampuan ku, aku bisa memberikan informasi apapun. Asalkan, bayarannya setimpal." Tukasnya balas menatapku diiringi senyuman dingin


"Heh, begitukah?" ucapku yang ikut tersenyum ke arahnya


"Aku tidak menyangka, kalau aku akan menemukan seorang Putri yang sifat licik nya sama sepertiku" ucapku dalam hati seraya menatap ke arah Julissa


Berjalan kami berdua menuju ke arah anak laki-laki yang tertidur tadi. Disentuhnya pergelangan kaki anak laki-laki tadi oleh Julissa menggunakan ujung jari kakinya seraya dipanggilnya berulang-ulang anak laki-laki tadi...


"Berisik!!" Teriaknya yang mengejutkan seisi ruangan


Bola matanya yang berwarna biru menatap tajam ke arah kami berdua, rambut hitamnya yang lebat tampak terlihat lusuh dan kering. Wajahnya yang putih, dipenuhi bekas lebam membiru. Luka-luka sayatan, nampak membayangi leher punggungnya yang tersembunyi baik di balik pakaiannya.


"Maafkan saya, Pangeran. Saya Putri Julissa Laura dari Kerajaan Leta, memberikan hormat padamu.." Ungkap Julissa seraya membungkukkan tubuhnya kepada anak laki-laki tadi


"Menyingkirlah!! kau benar-benar mengganggu." Ucapnya seraya menatap tajam ke arah Julissa yang gemetaran

__ADS_1


"Tutup mulutmu, sialan. Dia hanya mencoba melakukan kewajibannya." ucapku berbisik seraya menarik kerah baju yang dikenakannya


"Hal ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Dan beraninya kau memanggilku sialan.." ungkapnya yang juga berbisik seraya menatap tajam mataku


"Aku tidak peduli apa statusmu. Apa kau pikir, aku akan tunduk padamu hanya karena kau seorang Pangeran?" ucapku kembali seraya berbisik di telinganya


"Tutup mulutmu, atau aku akan..."


"Akan apa?" balasku sembari menatapnya


"Kau tidak lebih kuat dibandingkan kedua kakakku. Apa kau pikir, kau dapat menghancurkan ku?"


"Jika kau membuat tubuhku memar sedikit saja, akan aku pastikan. Akan aku pastikan, Kerajaan kesayanganmu itu akan hancur sebelum kau kembali.." ucapku kembali berbisik di telinganya


"Sachi.. oi Sachi.." ungkap Julissa seraya berbisik sembari menarik-narik pelan lenganku


"Sachi, apa kau sudah kehilangan akal?" ucapnya lagi sembari menarik kembali lenganku


"Cih.." ucapku seraya melepaskan genggaman tanganku di kerah pakaian laki-laki tadi


Beranjak aku berdiri di samping Julissa, kupandangi kembali laki-laki tadi yang entah kenapa tiba-tiba tersenyum menatapku.


"Apa kau Takaoka Sachi?" ungkapnya kembali menatapku


"Kau benar, aku Takaoka Sachi." ucapku yang juga menatapnya


"Kalau begitu..." ungkapnya seraya meraih sesuatu dari saku celana putihnya

__ADS_1


"Zeki, Zeki Bechir. Pangeran Ke empat dari Kerajaan Yadgar..."


"Akulah yang akan menjadi tunanganmu, Takaoka Sachi." Ucapnya seraya mengambil sebuah pita biru dari saku celananya sembari di arahkannya pita itu ke hadapanku diiringi senyum menyeringai di kedua ujung bibirnya.


__ADS_2