
“Kau langsung menyanggupi permintaannya, Haruki?”
“Kenapa? Tidak ada salahnya, jika kita memang sanggup melakukannya, bukan?”
“Izumi, berikan saja selama dia masih ingin memakannya. Saat dia sedang tidak ingin memakan apa pun, kau sendiri yang paling cemas, bukan?”
“Benarkah itu?” tukasku dengan menoleh ke arah Izumi yang duduk di sampingku.
“Benarkah itu? Benarkah itu, kau ucap?” ungkapnya geram dengan mencengkeram pipiku menggunakan jari-jemarinya.
“Tapi aku, benar-benar ingin memakannya, nii-chan,” ungkapku saat dia meregangkan jarinya yang mengapit pipiku, “aku, sangat-sangat sedih saat kau menolak permintaanku sebelumnya. Hanya sekali ini saja, aku … Tidak akan meminta sesuatu yang merepotkanmu lagi kedepannya.”
“Kata-kata yang kau ucapkan itu, semakin membuatku tidak ingin melakukannya,” ungkapnya sembari beranjak turun dari atas ranjang, lanjut berjalan mendekati pintu kamar mandi lalu membukanya.
“Apa kau ingin, kami menggantikan Izumi menyiapkannya?”
Aku menoleh ke arah Haruki dan juga Eneas yang telah mengarahkan pandangannya kepadaku, “tidak perlu, nii-chan. Aku, hanya ingin mempermainkan Izu-nii … Dan juga, lupakan permintaan bodoh yang aku pinta sebelumnya,” ucapku tersenyum sebelum kembali membaringkan kepala di bantal.
______________.
Tidurku terusik, saat kurasakan suara perbicangan yang terdengar di sekitar. “Berhenti mengganggu tidurku,” ucapku pelan dengan tetap terpejam, hanya tanganku saja yang berusaha menyingkirkan sentuhan yang terasa beberapa kali di samping telinga.
“Kau sudah bangun?”
“Pembicaraan kalian mengganggu ti-”
Kedua mataku langsung membesar, aku menghentikan perkataan dengan segera mengangkat pandangan ke arahnya, “apa karena aku mengkhawatirkannya? Sampai-sampai dia sendiri yang langsung muncul di mimpiku?”
“Itu bukanlah mimpi kau bodoh! Dia sekarang sedang duduk di sampingmu!”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi Kou tiba-tiba muncul di Istana. Dia langsung membawaku terbang bersamanya ke sini, apa kau baik-baik saja?” tukasnya menimpali perkataan Izumi.
“Kou?” tukasku balik bertanya, dia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaanku itu.
__ADS_1
“Apa terjadi sesuatu kepadamu? Aku khawatir sekali sepanjang perjalanan bersamanya,” ungkapnya sambil membantuku beranjak duduk.
“Apa penjaga istana meloloskanmu begitu saja? Bagaimana bisa, kau masuk ke sini?”
Zeki menghela napas, “Kou sempat membawaku berkeliling di atas Istana ini, jadi aku menyimpulkan kalau kalian ada di dalamnya. Saat dia menurunkan aku di sebuah hutan, aku berjalan ke sini, lalu mengatakan kepada mereka … Jika aku, salah satu dari kalian. Apa kau pikir, aku ini bodoh sampai-sampai tidak bisa membuat rencana seperti itu,” ungkapnya sambil menyubit pipi kiriku.
“Izumi mengatakan, jika kau bersikap aneh akhir-akhir ini. Apa terjadi sesuatu padamu?” sambungnya dengan menggerakkan rambutku yang jatuh tergerai ke belakang.
“Tidak terjadi apa pun padaku, kenapa … Kau sama sekali belum mengirimkan surat untukku?”
“Aku mengirimkannya, kemungkinan belum sampai kepada Haruki. Wajahmu pucat sekali, apa kau makan dengan baik?”
“Kami, akan keluar menemui Raja. Bantu kami untuk menjaganya, Zeki,” tukas Haruki, Zeki hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah mereka.
“Jangan membuatku khawatir! Apa kau tidak mendengar, apa yang aku tanyakan?”
Kepalaku yang sebelumnya tertunduk kembali terangkat menatapnya, “aku, tidak ingin melihatmu,” ucapku singkat yang sama-sama membuat kami terdiam seketika.
“Apa yang kau katakan?”
“Sachi, aku tidak suka jika kau bermain-main seperti ini. Apa kau tidak tahu, bagaimana pikiranku berkecamuk sepanjang terbang ke sini? Memikirkan bagaimana keadaanmu sekarang. Jangan bercanda dengan mengucapkan kata-kata seperti itu-”
“Aku, sedang tidak bercanda kau tahu,” ungkapku pelan, kepalaku tertunduk dengan menggigit kuat bibirku, “kenapa, tidak ada yang menanggapi serius perkataanku? Aku pun, tidak ingin bersikap aneh seperti ini,” ungkapku, aku menyentuh pergelangan tangannya, lalu beranjak turun dari ranjang saat dia melepaskan genggaman tangannya di lenganku.
“Kau ingin pergi ke mana?”
Aku berjalan menjauhi ranjang setelah mengenakan sepatuku kembali, “menemui Raja, aku ingin tahu … Apa yang akan mereka diskusikan selanjutnya,” ungkapku, sambil mengangkat tangan membuka pintu kamar.
“Tunggu aku! Jangan pergi sendirian,” sahutnya, aku tetap berjalan tanpa menghiraukan apa yang ia katakan.
"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan, Sachi?!"
Aku menarik napas dengan menghentikan langkah, "apa kau marah karena aku terlambat mengirim surat? Kau tahu sendiri, bukan? Betapa jauhnya jarak antara Sora dan Yadgar. Sebelum itu, aku harus mampir sejenak mengunjungi Danurdara karena Ayah menitipkan perintah untuknya."
__ADS_1
"Aku melakukannya bukan karena sengaja," sambungnya yang telah berdiri di sampingku.
"Aku tidak mempermasalahkannya-"
"Lalu kenapa sikapmu jadi seperti ini? Jika benar aku melakukan kesalahan, hanya katakan saja!"
"Kau, baru saja, membentakku?"
Dia mengembuskan kuat napas sebelum mengangkat kepalanya menghindari tatapanku, "ini, bukan rumah kita. Aku bahkan tidak tahu, wajah Ayahnya Luana itu seperti apa, karena memang kami belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi, mengertilah-"
"Aku mengerti," ungkapku pelan, aku menarik napas dalam sambil mengedipkan mataku agar air mata kembali masuk ke dalam sebelum aku mengangkat pandanganku ke arahnya.
Aku berjalan melewatinya, kembali masuk ke dalam kamar ... Melepaskan sepatu lalu membaringkan tubuh di ranjang. Tubuhku enggan beranjak walau terdengar suara dari pintu yang tertutup, "apa kau yakin baik-baik saja? Apa kau ingin makan sesuatu?" tanyanya beruntun diikuti tubuhnya yang telah duduk di samping ranjang.
"Bau tubuhmu membuat kepalaku pusing, apa kau telah membersihkan tubuhmu?"
"Apa kau tidak lihat? Pakaian siapa yang aku kenakan sekarang."
"Milik Izu-nii," tukasku menjawab perkataannya.
"Aku ingin ikan bakar, Zeki. Aku menginginkannya," ucapku sambil meraih lalu menggenggam jari kelingkingnya.
"Jika kau memang menginginkannya, kita dapat membelinya."
"Tapi aku inginnya, Izu-nii yang membakar ikan tersebut untukku. Aku sudah memintanya, namun dia menolak ... Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun sadar, bahwa aku tidak boleh merepotkan mereka terus-menerus, tapi-"
"Aku masih menginginkan hal tersebut, aku semakin menginginkannya."
"Jika kau mengatakan hal tersebut baik-baik, Izumi pasti akan menurutinya, kenapa kau harus mengucapkan kata-kata tersebut kepadanya?"
"Aku mengucapkannya tanpa sadar. Aku ingin minum, tapi aku hanya ingin air kelapa, bisakah aku mendapatkannya?"
"Aku bercanda," tukasku saat dia hanya diam tak bersuara, "tidak perlu mendengarkan celotehan yang tak berguna dariku," sambungku dengan melepaskan genggaman tanganku di jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Aku, akan meminta Kou untuk mengantarmu kembali ke Yadgar. Maaf, jika dia melakukan hal itu kepadamu, aku pun tidak tahu kalau dia ke sana."
"Ganti pakaianmu! Pakailah pakaian yang lebih tertutup. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, tapi ... Entah kenapa, aku tidak bisa tenang, jika tidak mengabulkan itu semua," tukasnya, aku melirik ke arahnya yang berjalan mendekati sebuah tas yang ada di sudut ruangan.