
Ucapan Haruki dan Izumi saat memarahiku tadi sore masih terngiang di kepala, aku beranjak duduk sembari kuraih kotak kayu berisi cincin yang diberikan oleh Ratu Alelah. Kubuka kotak kayu tersebut sembari kupakai satu cincin yang tertinggal di sana ke jariku.
Kugerakkan kembali tubuhku berbaring di atas ranjang, kedua mataku berkedip beberapa kali dengan cepat berusaha menahan kantuk. Bulan purnama... Berapa hari lagi sampai bulan purnama itu muncul.
__________________
"Aku tidak diperbolehkan mengikuti upacara?" Ucapku kepada Callia yang tengah membereskan semua barang pemberian dari Ratu Alelah untukku.
"Hanya laki-laki yang harus melakukannya. Itu pun, jika mereka berhasil melakukannya," ucap Callia sembari memasukkan sebuah kain ke dalam tas kulit yang akan aku bawa.
"Saat bulan purnama, mereka berempat akan melewati sebuah goa. Di dalam goa tersebut, mereka akan dihadapkan ketakutan terbesar mereka. Jika mereka berhasil melakukannya, mereka akan keluar dari sana hidup-hidup," sambungnya kembali padaku.
"Kalian, tidak mengatakan hal ini sebelumnya... Bagaimana jika mereka tak berhasil melakukannya, apakah mereka akan..."
"Mereka akan kehilangan jati diri, dan semua kenangan mereka selama hidup. Mereka dapat keluar, tapi mereka tak bisa mengingat apapun," ucap Callia memotong perkataanku.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Jika ada, aku akan memilih cara tersebut," ucapku kembali padanya.
"Sayangnya, aku tidak mengetahui apapun lagi tentang itu. Ratu, hanya memberitahukan kami hal yang aku katakan sebelumnya," ucapnya sembari beranjak berdiri dari atas ranjang.
"Mereka, bagaimana dengan mereka? Apa mereka mengetahui hal ini?"
"Mereka mengetahui dan menyetujuinya langsung ketika Ratu menjelaskan risiko apa yang mungkin akan mereka hadapi..."
"Jadi Sachi, ikutlah! Aku akan mengantarmu ke tepi pantai," ucapnya mengangkat tas kulit yang ia isi dengan banyak sekali barang tadi.
"Setidaknya, aku ingin bertemu dengan mereka terlebih dahulu sebelum pergi," ungkap ku ikut beranjak berdiri menatapnya.
"Upacara mungkin telah dimulai, kau tidak bisa menemui mereka. Cepatlah, atau kita akan kehabisan waktu," ucap Callia melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar lalu membukanya.
Aku melangkah mengikutinya, Callia mengajakku menyusuri lorong Istana kemudian menuruni tangga panjang dengan sebuah gerbang besar di hadapannya. Gerbang besar itu telah terbuka, Callia semakin mempercepat langkahnya ketika kami melewati gerbang tersebut.
"Tunggu Callia, apakah kita memang harus berlari?" Ucapku menggerakkan kaki mencoba berlari menyusulnya.
"Meninggalkan tempat ini, seperti sesuatu yang sangat tabu. Meninggalkan tempat ini, berarti dianggap sebagai pengkhianat... Kau pasti tahu, apa hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat. Karena itu, cepatlah Sachi... Jika tidak, kita akan berada dalam bahaya," ucapnya semakin cepat berlari.
Kedua kakiku berlari cepat menyusuri hutan, Callia yang berlari di depanku berulang-ulang mengarahkan kepalanya menatapi bulan purnama yang kala itu bersinar kemerahan. Callia mengarahkan telapak tangannya ke belakang, digenggamnya pergelangan tanganku dengan sangat kuat olehnya.
"Lewat sini," ucapnya menarik tanganku mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
Suasana di sekitar tiba-tiba menggelap, cahaya bulan yang sebelumnya menerangi jalan... Kini lenyap bak ditelan bumi. Terdengar suara decakan lidah beberapa kali, decakan yang aku pikirkan berasal dari Callia.
Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian saat terdengar suara lolongan hewan yang memekakkan telinga. Aku kembali menoleh saat telingaku kembali mendengar suara daun kering yang diinjak oleh sesuatu...
"Tidak apa-apa, mereka penjaga tempat ini," ucap Callia pelan terdengar.
Aku bergerak ke samping saat kedua mataku terjatuh pada sepasang mata kuning yang bersinar di kegelapan. Sepasang mata itu bergerak mendekati diikuti suara patahan seperti patahan ranting-ranting pohon.
Callia menggenggam tanganku, menahan tubuhku untuk tak bergerak menjauhinya. Sepasang mata tadi mengalihkan pandangannya berbalik membelakangi kami, ikut kurasakan tarikan pelan di tanganku yang dilakukan Callia.
Dengan perlahan kami berjalan menyusuri gelapnya keadaan sekitar, kugerakkan kedua tanganku meraba pundak Callia sembari kakiku tetap berjalan mengikuti suara dengkuran hewan yang pelan terdengar.
Suara dengkuran tadi tergantikan dengan suara air yang kuat terdengar, semakin kami berjalan maju... Semakin jelas suara air tersebut. Aku menoleh ke belakang, tampak seekor serigala besar berekor dua telah berdiri menatapi kami melangkah.
"Sachi, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Selanjutnya, kau hanya harus berjalan lurus, di sana banyak sekali perahu-perahu yang tak terpakai. Kalian dapat memakai perahu-perahu itu untuk pergi dari sini," ucap Callia sembari kurasakan telapak tanganku diletakkan sesuatu.
"Aku mengerti, terima kasih," ucapku menggenggam benda seperti tali tadi yang ada di tanganku.
Aku melangkah maju mengikuti suara air yang semakin memenuhi pendengaran ku itu. Kedua kakiku semakin cepat melangkah saat kutatap hamparan pasir yang ada di hadapan. Laut biru yang ada di hadapan tampak berkilau dijatuhi sinar matahari yang bersinar terang.
Siang? Bukankah ini malam? Atau... Entahlah, itu tak penting yang penting sekarang... Bagaimana keadaan mereka berempat?
Kugenggam pasir yang ada di sampingku lalu kulepas kembali dari genggaman, kuambil dan kugenggam pasir tersebut lalu kulepaskan kembali dari genggaman. Kulakukan hal itu berulang-ulang sembari kepalaku tertunduk bersembunyi di sela-sela kedua kakiku yang bertekuk.
Mereka belum kembali, pikiranku kalut memikirkan semua kejadian buruk yang mungkin menimpa mereka. Kuarahkan pandanganku menatap langit, bahkan awan pun tak terlihat sama sekali sejauh mata memandang.
Haru-nii, Izu-nii, Zeki, Aydin. Kumohon, kalian harus baik-baik saja apapun yang terjadi.
Aku berbalik ke belakang, kutatap Izumi, disusul Haruki, Aydin dan juga Zeki keluar dari sebuah lubang kecil yang ada di sebuah gundukan di bawah sebuah pohon kelapa bercabang dua. Aku beranjak berdiri sembari melangkahkan kaki mendekati mereka...
"Haru-nii," ucapku menyentuh pundaknya saat dia berdiri tertunduk membelakangi.
"Siapa kau?" Ungkapnya menatap ke arahku dengan ekspresi seperti seseorang yang kebingungan.
"Izu nii-chan," ucapku dengan suara bergetar menoleh ke arahnya.
"Apa aku mengenalmu?"
"Ze..." Ucapanku terhenti saat kutatap Zeki yang ikut menatapku seperti seseorang yang tak ia kenal.
"Aydin."
__ADS_1
"Jangan sentuh aku," ucapnya mengarahkan telapak tangannya ke depan saat aku berusaha meraih tangannya.
"Apa kalian sama sekali tidak mengingat apapun?"
"Nii-chan, aku Sachi. Aku adik perempuan kalian," ucapku menatap Haruki dan Izumi bergantian, kuarahkan tanganku meraih lengan Haruki lalu menggenggamnya dengan erat.
"Adik? Katakan, apa aku mengenalmu?" Ucap Haruki mengalihkan pandangannya kepada Izumi.
"Harusnya aku yang bertanya, apa aku mengenalmu?" Sambung Izumi membalas tatapan Haruki.
"Zeki, apa kau sungguh-sungguh melupakanku juga?" Ucapku mengalihkan pandangan menatapnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan?" Ucapnya berbalik melangkahkan kakinya menjauh.
Aku tertunduk diam saat Haruki menggenggam tanganku, kulepaskan genggaman tanganku di lengannya sembari dilepaskannya juga genggaman tangannya padaku. Haruki, dan juga Izumi berjalan melewatiku begitu saja...
"Aku benci ini, aku benci ini," tangis ku sembari kuangkat kedua telapak tangan menutupi wajah.
"Jika aku tahu, akan seperti ini. Aku tidak akan memperbolehkan mereka ikut... Apa, yang akan aku katakan pada Ayah," ucapku seraya menggerakkan telapak tanganku tadi mengusap kedua mataku.
"Sa-chan," suara Haruki mengangetkan, aku berbalik menatapnya yang telah berdiri menatapku.
"Nii-chan, kau memanggilku Sa-chan bukan?" Ucapku berjalan mendekatinya, dia mengangguk membalas pertanyaanku.
"Kau tidak melupakanku bukan?" Ungkapku memeluk tubuhnya, kubenamkan kepalaku dengan dalam di pundaknya.
"Tentu saja tidak, aku hanya berpura-pura," ucapnya, diusapnya kedua mataku menggunakan telapak tangannya.
"Izu nii-chan," ucapku mengalihkan pandangan menatapnya.
"Aku hanya mengikuti permainan mereka yang ingin sekali menggoda mu," ucap Izumi dengan sebelah tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Rasa lelahku langsung berkurang seketika saat melihat wajahnya tadi," sambung Zeki, aku berbalik menatapnya yang tersenyum menatapku
"Kalian melakukannya dengan sengaja? Tega sekali," ucapku melepaskan pelukanku pada Haruki, kugerakkan kedua kakiku berjalan mendekati salah satu perahu lalu duduk di dalamnya.
"Apa kau marah?"
"Aku tidak tahu," ucapku membalas perkataan Zeki yang telah berdiri di sampingku.
"Kau terlihat imut sekali tadi, benar-benar membuatku untuk tak ingin melepaskanmu, Darling," bisiknya saat ia menunduk lalu mendekatkan wajahnya padaku.
__ADS_1