Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXXVI


__ADS_3

Benturan-benturan kecil yang menyentuh kepalaku berulang-ulang berhasil membangunkanku. Kuarahkan pandanganku pada kerumunan manusia memakai penutup wajah berwarna hitam tengah berjalan di hadapanku...


Kualihkan pandanganku ke sekitar, penjara kayu yang berisi tubuhku di dalamnya berjalan di hadapan orang-orang tadi...


Kembali kuarahkan tatapan mataku pada simpul tali yang mengikat erat kedua kakiku menjadi satu. Coba kugerakkan kedua tanganku yang terikat ke belakang...


"....."


Suaraku? Apa yang terjadi pada suaraku?


"......."


Suaraku sama sekali tidak bisa keluar, apa yang mereka lakukan padaku?


Bagaimana caranya aku memanggil Kou jika suaraku saja tidak bisa keluar. Ya Tuhan, mau dibawa kemana aku oleh mereka?


Ayah, Nii-chan, Zeki... Tolong aku.


Melirik aku ke sekitar, pandangan mataku terjatuh pada sebuah sebuah kepala paku yang tak tertancap secara sempurna di salah satu kayu yang berbaris di hadapanku. Kugeser tubuhku perlahan membelakangi paku tadi...


Kuarahkan tanganku yang terikat kuat ke belakang tadi pada kayu tadi. Kugesek-gesek perlahan tali yang mengikat tanganku tadi padanya seraya tatapan mataku kuarahkan pada kerumunan laki-laki yang melangkahkan kakinya di hadapanku.


Rasa pegal menjalar di kedua lenganku, kuhentikan kegiatan yang aku lakukan tadi seraya kuangkat jari-jemariku memeriksa tali yang mengikat tanganku itu. Kutundukkan kepalaku yang penuh dengan keringat dengan helaan napas pelan yang tak henti-hentinya keluar dari bibirku.


Kurebahkan kembali tubuhku pada susunan kayu yang ada di belakangku seraya kuarahkan pandanganku ke samping. Menatap aku ke bias-bias jingga yang dipancarkan mentari...


Aku tahu... Aku tahu sudah berapa jauh mereka membawaku. Jika mereka semakin jauh membawaku pergi...


Haru-nii, Izu-nii... Aku takut, kumohon nii-chan. Kumohon, selamatkan aku.


__________________


Penjara kayu yang membawaku berhenti, kualihkan pandanganku pada mereka yang tengah berbaur keluar dari barisan. Kutatap mereka yang tengah merebahkan tubuh masing-masing di pepohonan yang ada di sekitar, beberapa dari mereka terlihat tengah sibuk membuat api unggun dengan tumpukan ranting yang mereka kumpulkan sebelumnya.

__ADS_1


Gesekan tanganku pada paku tadi semakin cepat... Kurasakan ikatan di tanganku melonggar, segera kutangkap dan kupegang tali tadi agar tak jatuh.


Lama kuperhatikan mereka yang tengah bersenda gurau satu sama lain, kuarahkan kembali pandanganku ke sekitar yang semakin menggelap akibat malam bersambut...


Kulepaskan pegangan tanganku pada tali tadi seraya kembali kuarahkan telapak tanganku ke depan. Pandanganku masih menatap lekat mereka sedangkan tanganku sendiri tampak sibuk membuka ikatan simpul yang membelenggu kakiku...


Kuregangkan kedua kakiku itu tadi perlahan sembari telapak tanganku bergerak menyusuri bagian dalam sepatu yang aku kenakan.


Kuraih pisau kecil yang selalu aku selipkan sebelumnya, kugerakkan tanganku bergeser mendekati pintu penjara kayu tersebut sembari pandangan mataku tak henti-hentinya menatapi mereka.


Kubuka sarung kayu yang menutupi pisau kecil tadi sembari kugesek-gesek pisau tadi pada tali yang mengikat pintu kayu yang ada di hadapanku. Jantungku berdegup kencang seraya berkali-kali kutatap kumpulan laki-laki tadi yang seakan tak memperdulikan keberadaanku.


Satu ikatan tali terlepas, kutarik napasku sedalam mungkin seraya kuembuskan berkali-kali. Kuangkat lengan tanganku yang lain sembari kugerakkan mengusap keringat yang tak berhenti keluar dari pori-pori wajahku.


Kugigit bibirku dengan sangat kuat seraya mataku masih melekat pada mereka. Kuangkat tanganku sedikit lebih tinggi menyentuh tali yang lain, kuarahkan pisau yang aku genggam tadi menggesek kuat tali yang mengekang pintu penjara kayu yang mengurungku.


Gerakan tanganku semakin cepat dan semakin cepat seraya sekali-sekali kualihkan pandanganku kembali pada kumpulan penculik yang membawaku tadi.


Napasku terasa lega ketika tali tadi terputus, segera beranjak aku membuka lilitan tali tadi. Masih kutatap mereka sembari kubuka perlahan demi perlahan pintu kayu tadi...


"Tahanannya melarikan diri!" teriak seseorang dari belakangku.


Sialan!


Kugerakkan kedua kakiku berlari cepat menjauhi mereka... Tubuhku terjungkal oleh suatu benda yang tak dapat kulihat. Kualihkan pandanganku ke belakang, puluhan sinar api terbang mendekatiku.


Kuarahkan telapak tanganku menyentuh tanah yang ada di hadapanku seraya beranjak aku berdiri dengan sisa tenaga yang kupunya...


"Disana!"


Kembali kudengar suara teriakan laki-laki, puluhan sinar api tadi semakin cepat mendekat. Kugerakkan kakiku semakin cepat dan semakin cepat menjauhi mereka...


Tubuhku terjungkal kembali ke depan, kurasakan tubuhku berguling-guling di tanah dan terhenti...

__ADS_1


Aku ingin menjerit kesakitan, tapi suaraku... Kuarahkan telapak tanganku ke depan menyentuh benda dingin nan keras yang ada di hadapanku.


Apa ini? Batu kah?


Air mataku tak berhenti mengalir, rasa sakit di lengan kananku seakan meruntuhkan jantungku. Kugerakkan telapak tangan kiriku menyentuh lengan kananku yang tak dapat digerakkan... Kurasakan lengan kananku tadi terasa basah dengan suatu benda tajam yang menembus kulitku...


Apa ini? Tulangku? Atau...


Ayah, lenganku rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa melihat apapun Ayah... Disini gelap sekali.


"Di bawah sana! Dia ada di bawah sana!" teriakan itu kembali terdengar.


Kuarahkan pandanganku pada deretan sinar api yang ada di hadapanku, kupegang dengan kuat lengan kananku tadi seraya beranjak berdiri aku dengan kedua kakiku yang ikut terasa perih.


Berbalik dan melangkah aku menjauhi mereka kembali. Langkah kakiku terseok menahan sakit, kuarahkan pandanganku ke arah kanan dan kiriku... Percuma Sachi, kau tidak akan bisa melihat apapun.


Langkah kakiku kembali terhenti, berdiri aku di samping tebing dengan sebuah sungai beraliran deras di bawahnya. Kutatap aliran sungai tersebut...


"....."


Kou, bawa aku pergi dari sini!


Aku tidak bisa mengatakannya, gerbangnya tidak akan terbuka. Kou tidak akan datang...


"Mau kemana kau?!"


Mataku terbelalak, genggaman seseorang di lengan kananku membuat tubuhku gemetar menahan sakit. Kugigit dengan kuat bibirku seraya balas kutatap tatapannya dengan kedua mataku yang semakin mengabur...


Kugenggam telapak tangan kiriku dengan kuat seraya kuarahkan genggamanku tadi memukul wajah laki-laki itu. Genggaman yang ia lakukan di tanganku meregang...


Kutatap ia yang mengangkat tinggi telapak tangannya, ditamparnya wajahku berulang-ulang olehnya. Mundur aku beberapa langkah tanpa sadar menghindarinya...


Kutatap wajah laki-laki tadi yang terlihat semakin menjauh... Tubuhku terjatuh ke bawah semakin cepat dan semakin cepat... Air memeluk seluruh tubuhku semakin dalam, cahaya bulan yang berada di permukaan semakin mengabur di pandangan...

__ADS_1


Apakah memang telah menjadi takdirku, Tuhan? Mati tanpa mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang selalu peduli.


__ADS_2