
"Apa yang terjadi padanya?" Bisik Izumi yang telah berdiri di samping, pandangan mataku masih menatap Eneas yang duduk tertunduk di sudut ruang kamar.
Aku menarik lengan Izumi ke luar kamar, aku bergerak mendekatinya sembari membisikkan semua yang terjadi pagi tadi. Izumi berjalan masuk ke dalam kamar, ia bergerak duduk di samping Eneas yang masih diam tak bergeming.
Izumi mengarahkan telapak tangannya meraih kepala Eneas, dirangkulnya Eneas yang semakin membenamkan kepalanya di pundak Izumi. Suara tangis pecah terdengar memenuhi kamar yang kami tempati...
Tubuhku sedikit terperanjat saat kurasakan sesuatu menarik pelan lenganku. Aku berbalik menatap Cia yang telah berdiri menatapku dengan kedua tangannya menggenggam lengan tanganku.
Tubuhku menunduk dengan kedua tangan meraih Cia, kedua kakiku melangkah meninggalkan mereka dengan Cia yang kugendong erat. Aku melangkah menyusuri lorong rumah mendekati suara bising yang tak henti-hentinya terdengar sejak pagi.
"Kau datang. Bagaimana keadaan mereka?" Ungkap Haruki berbalik menatapku saat langkah kakiku berjalan semakin mendekatinya.
"Izu nii-chan sedang menenangkan Eneas, sedangkan Lux sibuk merawat Uki," ucapku pelan terdengar saat aku telah berdiri di sampingnya.
"Apa semuanya telah siap? Kapan kita segera pergi dari sini?" Ungkapku kembali menatapi para laki-laki yang hilir-mudik berjalan memindahkan banyak sekali barang maupun makanan ke dalam kotak-kotak kayu.
"Kita akan pergi saat tengah malam. Jika kita pergi saat siang hari, akan memicu banyak sekali keributan dan aku tidak menginginkan itu," ungkapnya menyilangkan tangan di dada, sesekali ia berteriak memberi perintah pada beberapa laki-laki.
"Aku mencari kalian," suara perempuan terdengar dari arah belakang, aku berbalik menatap Yoona yang melangkahkan kakinya mendekat.
"Apa kau telah merapikan semua keperluan yang akan kau bawa?" Ucapku melirik ke arahnya yang telah berdiri di sampingku.
"Aku telah melakukan semuanya. Karena itulah, aku mencari kalian."
"Apa kau perlu sesuatu?" Sambung Haruki menimpali perkataannya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak memerlukan apapun. Hanya saja, ketika aku membereskan kamar Ayahku, aku menemukan ini," ucapnya memberikan sebuah buku kecil ke arahku, diraihnya buku tersebut oleh Haruki saat aku melirik padanya.
"Buku apa ini?" Ungkap Haruki membuka ikatan yang melilit pada buku tersebut.
"Aku belum sempat untuk membacanya. Akan tetapi, aku menemukan buku tersebut di dalam sebuah kotak yang Ayah sembunyikan di sudut lemari pakaiannya. Aku pikir, itu buku yang sangat berharga untuknya," ucap Yoona menjawab perkataan Haruki.
"Apa isi di dalamnya, nii-chan," ucapku melirik padanya yang tampak serius membuka satu persatu halaman pada buku tersebut.
"Sebuah daftar," ucap Haruki masih menatapi buku itu tanpa sedikitpun mengangkat pandangannya.
"Daftar? Daftar apa?" Ucapku kembali padanya.
"Daftar Kerajaan yang telah dihancurkan oleh Kekaisaran. Aku pikir, ini catatan Hanbal ketika masih menjadi Kapten pasukan," ungkap Haruki mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah tulisan yang ia arahkan padaku."
"Awal musim dingin, satu hari, Kerajaan... Hancur di tangan kami."
"Entahlah, akupun kesulitan membacanya," ucap Haruki semakin mendekati buku tadi ke wajahnya.
"Aku akan mencari beberapa petunjuk yang ada di buku ini nanti," ucap Haruki kembali menutup buku itu, tali yang ada di sebelah tangannya kembali ia lilitkan pada buku tadi.
"Aku akan memeriksa mereka kembali sekaligus membereskan semua keperluan kita," ucapku berbalik meninggalkan mereka.
"Sa-chan," ucap Haruki, langkah kakiku terhenti sembari kepalaku menoleh ke arahnya.
"Sampaikan kepada Eneas. Dia telah menjadi Adikku sejak lama, jadi dengan kata lain... Kita sekarang keluarga," ucap Haruki tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Aku mengerti. Akan aku sampaikan kepadanya," ungkapku kembali berbalik melangkahkan kaki meninggalkan mereka.
_______________________
"Berikan Cia padaku," ucap Izumi berdiri di sampingku dengan kedua tangannya mengarah padaku.
"Apa kau yakin?" Tukasku saat kedua tanganku bergerak memberikan Cia kepadanya.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika di perjalanan. Ini juga akan sedikit membantumu saat tiba-tiba musuh menyerang," ucapnya mengangkat tubuh Cia duduk di atas kuda miliknya.
"Eneas, apa kau juga ingin berkuda denganku?"
"Tidak, terima kasih. Aku lebih nyaman menunggangi kuda milikku sendiri," ucapnya membalas perkataan Izumi, Eneas bergerak menaiki kuda miliknya lalu menungganginya berjalan mendekati kami.
"Kalian telah siap," sambung Haruki yang telah menunggangi kuda miliknya, kepalanya tertunduk menatapi tas berisi Uki yang menggantung di pundaknya.
"Jadi kita akan pergi tanpa kereta?" Sambung Izumi yang juga telah menggerakkan tubuhnya menaiki kuda miliknya.
"Adanya kereta akan mengundang banyak kejahatan mendekat. Jadi kita akan menggunakan gerobak seperti yang sering dipakai para pedagang," sambung Haruki sembari mengusap-usap kepala kuda yang ia tunggangi.
"Aku hanya ingin secepatnya menyelesaikan ini," ungkapku berjalan mendekati kuda milikku lalu menaikinya.
"Tidak bisakah kita mengunjungi tempat di mana salju turun? Entah kenapa, aku merindukan salju yang turun di halaman Istana," ungkapku menggerakkan kuda yang aku tunggangi berjalan mendekati mereka.
"Setelah kita sampai di tepi pantai dan bertemu dengan Aydin. Aku akan memintanya membawamu ke tempat yang ada saljunya," sambung Haruki menjawab perkataanku.
__ADS_1
"Apa kau telah memberi kabar padanya?"
"Aku sudah melakukannya. Lagipun, kita tidak akan langsung sampai ke pantai begitu saja. Sebelum kita ke pantai, kita akan melewati banyak sekali tempat dan itu akan menyita sedikit waktu yang kita miliki," Ungkap Haruki menimpali perkataan Izumi, dia menggerakkan kuda miliknya berjalan mendekati para laki-laki yang telah duduk tegap di masing-masing kuda milik mereka.