
"Kemana Haruki, Izumi dan juga Lux?" ucapku seraya kembali menutup pintu kamar mandi.
"Mereka menemui Viscount, ada sesuatu yang ingin mereka bahas dengannya," ucap Eneas padaku.
Berbalik dan berjalan aku mendekati ranjang, kuletakkan tas berisi pakaianku di atas tumpukan tas milik yang lain di pojokan. Kutatap Eneas yang tengah membaca buku milik Haruki di kursi seraya berjalan aku mendekatinya.
"Eneas, apa kau ingin ikut denganku?" ucapku seraya duduk di pegangan kursi yang ia duduki.
"Nii-chan memintaku untuk menjagamu, jadi aku tidak mengizinkanmu keluar dari sini nee-chan," ucapnya sambil tetap fokus membaca.
"Apa kau tidak ingin mencicipi makanan yang mereka jual di luar sana?" ungkapku tersenyum menatapnya.
"Makanan?" tukasnya menoleh menatapku.
"Kita akan membeli banyak makanan yang hanya dijual di Kerajaan ini, bagaimana?"
"Kita akan langsung kembali sebelum mereka bertiga kembali," sambungku lagi padanya.
"Aku setuju nee-chan, ayo kita berburu makanan," ungkapnya seraya mengangkat telapak tangannya ke arahku, kusambut dan kugenggam telapak tangannya tadi dengan kuat sembari tersenyum aku menatapnya.
___________________
"Apa yang harus kita beli terlebih dahulu nee-chan?" ucap Eneas seraya menarik tanganku.
"Bagaimana dengan itu?" ungkapku seraya menunjuk pada pedagang yang tengah membakar sesuatu.
"Baiklah, kita akan mencobanya," ungkapnya lagi, ditariknya kembali tanganku untuk mengikutinya.
"Apa ini?" tukas Eneas menatap pedagang tersebut, dilepaskannya genggamannya di tanganku seraya di arahkannya jari telunjuknya menunjuk pada makanan yang berbaris di hadapan kami.
__ADS_1
"Kokoretsi, kau dapat memakannya hanya dengan satu Tickla," ucap laki-laki itu kepada Eneas.
"Kalau begitu, kami ingin mencoba dua," ungkap Eneas, diraihnya sebuah kantung yang tersimpan di balik pakaiannya seraya diberikannya dua keping uang kepada laki-laki tadi.
Laki-laki tadi meraih dua keping uang yang diberikan Eneas padanya, diangkatnya dua tusuk daging yang melilit bambu seraya diberikannya lilitan daging tadi kepada Eneas...
Eneas membagi lilitan daging tadi menjadi satu di tangan kanannya dan satu di tangan kirinya. Diberikannya lilitan daging yang ada di tangan kanannya padaku seraya dimakannya lilitan daging yang ada di tangan kirinya...
"Ini enak sekali, aku baru pertama kalinya memakan daging yang seperti ini," ucapnya menatapku, digigitnya kembali lilitan daging yang ada di tangannya.
"Benarkah?" tanyaku menatapnya, mengangguk ia balas menatapku.
"Daging apa ini?" ucap Eneas seraya mengalihkan pandangannya kembali pada pedagang itu.
"Usus anak domba," balas laki-laki tadi sembari sibuk mengipas-ngipas dagangannya.
"Apa kau melupakan kata-kata nii-chan," ungkapku seraya berjalan melewatinya, melirik aku ke arahnya yang tertunduk mengikutiku.
"Tidak boleh membuang-buang makanan... Tapi aku tidak bisa menelannya," ungkapnya menghentikan langkah, lama ia menatap lilitan usus bakar yang berada di hadapannya.
"Berikan padaku," ucapku menatapnya, kuarahkan telapak tanganku padanya seraya beberapa kali helaan napas keluar dari bibirku .
"Terima kasih," balasnya, diarahkannya lilitan usus bakar tadi ke arahku seraya kuraih dan kugenggam tusuk bambu yang melekat di makanan itu.
Kugenggam tangan Eneas sembari berjalan kami berdua kembali. Kerajaan ini telah berkembang jauh lebih baik dibandingkan terakhir kali aku ke sini... Semuanya, bahkan para Kesatria tampak memperlakukan para perempuan yang beberapa kali melewati kami dengan baik.
Langkah kakiku terhenti, kutatap kerumunan manusia yang ada di depanku tampak menyingkir dari jalan. Satu-persatu dari mereka berdiri menyamping ke sisi jalan...
Kutarik lengan Eneas untuk ikut berdiri menyamping mengikuti mereka. Melirik kembali aku ke arah sekumpulan Kesatria yang berjalan mendekati kami...
__ADS_1
Sebuah kereta putih berukuran besar berada di tengah-tengah mereka, tampak terlihat seorang perempuan dan seorang laki-laki duduk di kereta tersebut...
Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya, perempuan yang tengah duduk di kereta tersebut terlihat sangat anggun dan juga cantik. Rambut hitamnya yang lurus nan panjang seakan jatuh membalut pundaknya.
Kuarahkan pandanganku pada laki-laki yang ada di sebelahnya, apa mereka bersaudara? Dan lihatlah mahkota kecil yang ada di masing-masing kepala mereka, warna keemasan yang terpantul darinya tampak menyilaukan mata.
"Aku telah meminta padamu bukan Eneas, jangan pergi kemanapun," terdengar suara Izumi disertai rasa sakit di telinga kiriku.
"Itu karena kalian lama sekali pulangnya, dan kami sangat kelaparan. Benar bukan nee-chan?" ucap Eneas terdengar menahan sakit, melirik aku ke arahnya yang juga tengah dijewer Izumi.
"Kami hanya mencoba mencari angin," ucapku menimpali perkataan Eneas.
"Apa selama berkuda kau belum cukup mendapatkan angin? Haruskah aku memerintahmu untuk berkuda sepanjang hari hingga perutmu penuh dengan angin?" ungkapnya seraya tersenyum menatapku.
"Kami minta maaf," ungkapku seraya menggerakkan kaki kiriku menyentuh kakinya Eneas.
"Kami benar-benar menyesal nii-chan," sambung Eneas seakan mengerti kode yang aku sampaikan.
"Aku tidak akan melarangmu bepergian jika kita berada di tempat lain, tapi di sini berbeda... Kau pasti mengerti apa yang aku maksudkan bukan?" tukasnya seraya melepaskan jeweran yang ia lakukan padaku.
"Aku tidak akan mengulanginya nii-chan, aku berjanji padamu," ungkapku menatapnya.
"Cepatlah, Haruki menunggu di penginapan. Kita akan mengadakan pertemuan dengan Putri dan juga Pangeran Kerajaan Vui," ungkap Izumi berbalik dan berjalan menjauh.
"Nii-chan, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" ungkapku, berbalik ia kembali seraya menatapku.
"Apa maksudmu?" tukasnya balas menatapku.
"Tidak, lupakan. Aku tidak ingin membahasnya sekarang," ungkapku tertunduk, kulangkahkan kakiku berjalan mendekatinya.
__ADS_1